Makalah Sejarah Lahirnya Agama Islam Perkembangannya Masa Khulafaur Rasyidin

Untuk Memudahkan Pencarian Dokumen Pendidikan Gunakan Filtur Pencarian di Bawah ini

Makalah Sejarah Lahirnya Agama Islam Perkembangannya Masa Khulafaur Rasyidin

BAB  I
PENDAHULUAN

A.           Latar Belakang
Keberhasilan muhammad dalam membangun peradaban dunia dan kemudian ditambah lagi dengan kegemilangan generasi para sahabat yang mewariskan sistem dan nilai luhur saat tampil memegang tongkat kepemimpinan setelahnya merupakan torehan sejarah yang layak dicatat dengantintaemas.
Khulafaur Rasyidin adalah bukti dari suksesnya pewarisan sistem dan nilai tersebut, wafatnya nabi tidak serta-merta menjadikan islam kehilangan mercusuar peradabannya karena memang risalahilahiyah ini tidak pernah bergantung      pada satu nama pun.
Ditangan empat khalifah yang pertama inilah islam telah mencapai puncak kejayaannya. Sebuah prestasi yang belum berulang dua kali sampai hari ini. hingga suatu hari datang dan merebaknya fitnah yang disulut oleh kedengkian musuh-musuh islam.
Berikut ini adalah beberapa tema sederhana yang berkaitan langsung dengan sejarah kepemimpinan dua khalifah terakhir yakni Utsman bin ‘Affan dan ‘Ali bin Abi Thalib.
Kami ketengahkan ini agar menjadi daya rangsang guna menggali dan mengkaji makna kebijakan dari pejalanan kepemimpinan beliau berdua. Sehingga, siapapun akan bisa mereguknya untuk kemudian diterapkan dalam  kehidupan sehari-hari. Apalagi sejarah yang kita selami ini adalah tapak perjalanan dua pribadi agung yang langsung berinteraksi dengan rasulullah. Mereka adalah orang-orang yang pertama sekali merasakan manisnya cucuran hidayah dan kemudian berbuah prilaku yang  baik dan elegan. 

B.            Rumusan Masalah
1.      Bagaimana sejarah Agama Islam dimasa Rasulullah SAW
2.      Bagaimana perkembangan agama islam dimasa Sahabat Rasulullah SAW

C.           Tujuan
1.      Mengetahui sejarah agama islam dan perjuangan Rasulullah SAW dalam menegakkan agama islam
2.      Mengetahui perkembangan agama islam sepeninggal Rasulullah SAW yaitu dimasa para sahabat Khulafaur Rasyidin





BAB II
PEMBAHASAN


A.           Sejarah Agama Islam dimasa Rasulullah SAW
Islam merupakan agama yang diturunkan oleh Allah SWT melalui Nabi Muhammad SWT dengan maksud untuk memberikan pencerahan kepada masyarakat (Kaum Quraisy) yang sedang mengalami kegelapan/kebodohan dalam hidup dan kehidupannya. Namun, kaum Quraisy tidak percaya terhadap ajaran Islam yang disampaikan Nabi Muhammad SAW. Bahkan, kaum Quraisy selalu menjadi musuhnya. Akhirnya, Nabi Muhammad SAW berpindah dari Mekkah ke Madinah untuk mendapatkan kebebasan dalam menjalankan perintah Allah SWT, yaitu mensiarkan agama Islam.
Islam terus berkembang ke seluruh jazirah Arab, bahkan sampai ke Afrika, Eropa, dan Asia. Ada dua ciri penyebaran agama Islam ke luar jazirah Arab, yaitu melalui jalan peperangan dan jalan damai. Penyebaran Islam ke wilayah Barat (Eropa) umumnya dilakukan melalui jalan peperangan. Sedangkan penyebaran Islam ke wilayah Timur (Asia) berlangsung secara damai. 

Lahirnya Agama Islam
Pada suatu hari, tepatnya tanggal 17 Ramadhan atau 6 Agustus 610 M, Muhammad mendapat wahyu yang pertama di Goa Hira. Wahyu itu diturunkan oleh Allah swt melalui Malaikat Jibril. Wahyu yang pertama itu, kemudian dikenal sebagai Surat Al-’Alaq (ayat 1-5) dan pada intinya memerintahkan Nabi Muhammad dan umatnya untuk selalu membaca. Dalam arti sempit, Nabi Muhammad diperintahkan untuk membaca wahyu-wahyu Allah. Sedangkan dalam arti luas, Nabi Muhammad diperintahkan untuk membaca segala sesuatu, termasuk gejala-gejala alam dalam rangka memperbaiki kehidupan masyarakat jahiliyah. Sejak saat itu, Muhammad telah menjadi nabi, sekaligus sebagai rasul. Sedangkan wahyu-wahyu yang lain diterima oleh Nabi Muhammad selama 22 tahun, 2 bulan, dan 22 hari. Sejak saat menerima wahyu yang pertama, maka agama Islam telah lahir di dunia.
Perkembangan agama Islam tidak dapat dipisahkan dengan seseorang yang bernama Muhammad. Siapakah Muhammad itu? Muhammad dilahirkan di Mekkah pada 12 Robbiulawal Tahun Gajah yang bertepatan dengan tanggal 20 April 571 M. Ibunya bernama Aminah binti Wahab, sedangkan ayahnya bernama Abdullah bin Abdul Muthalib. Kedua orang tuanya berasal dari suku Quraisy, sebuah suku yang sangat terhormat karena keturunannya mendapat kedudukan terhormat di Mekkah sebagai penjaga, pemelihara, dan pelayan Ka’bah. Ketika lahir, Muhammad telah menjadi anak yatim karena ayahnya meninggal ketika Muhammad masih di dalam kandungan ibunda tercinta. Ketika berumur enam tahun, Muhammad telah menjadi anak yatim piatu. Sejak saat itu, Muhammad diasuh oleh kakeknya, yaitu Abdul Muthalib. Namun, tidak lama kemudian kakeknya pun meninggal dunia. Oleh karena itu, semenjak berumur delapan tahun, Muhammad diasuh oleh pamannya yang bernama Abu Thalib.
Pada waktu berusia 12 tahun, Muhammad telah ikut berdagang ke negeri Syria (Syam). Oleh karena itu, tidak mengherankan apabila kemudian Muhammad mampu berdagang atas usahanya sendiri. Artinya, ia tidak lagi ikut atau membantu orang lain. Dalam menjalankan usaha dagangnya, Muhammad dikenal sebagai pedagang yang jujur sehingga mudah memperoleh kepercayaan dari para pedagang lainnya. Kejujuran merupakan hal baru bagi masyarakat waktu itu. Bahkan, berkat kejujurannya Muhammad dipercaya oleh seorang saudagar kaya yang berbudi luhur, yaitu Siti Khadijah untuk membawa barang-barang dagangannya ke negeri Syria. Kejujuran, perilaku, dan sikapnya yang baik, membuat Siti Khadijah jatuh hati kepadanya. Akhirnya, tepat berumur 25 tahun, Muhammad secara resmi menikah dengan Siti Khadijah.
Muhammad adalah seorang yang sangat sederhana, sopan, santun, jujur, disiplin, mandiri, bertanggung jawab, suka membantu dan menolong, dan berbagai sikap dan perilaku baik lainnya. Muhammad juga sangat peduli terhadap kehidupan masyarakat di sekitarnya. Sudah sejak lama, Muhammad sangat prihatin atas kehidupan masyarakat Arab yang diwarnai dengan kebodohan, ketidakadilan, dan penindasan. Masyarakat Arab seperti ini disebut ’masyarakat jahiliyah’ dan masa itu, disebut ’zaman jahiliyah’. Atas keprihatinannya, hampir setiap hari Muhammad mengasingkan diri, bersemedi, dan berdoa memohon kepada Allah swt agar diberi petunjuk untuk memperbaiki kehidupan masyarakat jahiliyah yang semakin rusak akhlaknya. Tepat berumur 40 tahun, Muhammad mendapat mendapat wahyu yang pertama, ketika sedang bersemedi di Goa Hira. Sejak saat itu, Muhammad telah diangkat menjadi nabi, sekaligus sebagai rasul.
Sejak saat itu, Nabi Muhammad saw mulai mensiarkan risalah Islam kepada sanak keluarga terdekat dan para sahabatnya. Ajakan memasuki Islam disambut baik oleh sanak keluarga dan para sahabat Rasulullah. Dari hari ke hari, dakwah Islam semakin luas dan semakin banyak pengikutnya. Keadaan itu membuat gusar para pemuka Suku Quraisy sehingga mereka berusaha untuk menentang ajaran Islam. Beberapa faktor yang mendorong orang-orang Quraisy menentang Islam, di antaranya:
1.        Tunduk kepada Nabi Muhammad, berarti menyerahkan kekuasaan dan pimpinan Mekkah kepadanya;
2.        Kaum Quraisy tidak menyukai ajaran persamaan hak dan derajat yang dibawa oleh Islam;
3.        Ingin mempertahankan adat istiadat, kepercayaan, dan upacara-upacara keagamaan yang dilakukan leluhurnya, yaitu menyembah berhala.
Rasulullah dan para pengikutnya, kemudian mendapat gangguan, hinaan, ancaman, serta siksaan dari kaum Quraisy. Keadaan ini semakin menyedihkan, ketika Abu Thalib dan Siti Aminah meninggal dunia. Dalam kondisi seperti itu, tepatnya pada 27 Rajab, Raslullah melaksanakan perintah Allah swt untuk menjalankan Isra Mi’raj. Isra adalah perjalanan Rasulullah dari Masjidil Haram di Mekkah) ke Masjidil Aqsa di Palestina. Sedangkan Mi’raj adalah perjalanan Rasulullah dari Masjidil Aqsa ke Sidratul Muntaha (langit lapih yang ke tujuh) untuk menerima perintah menjalankan shalat 5 (lima) waktu dalam satu hari satu malam. Sementara, untuk menjaga keselamatan jiwa dan para pengikutnya, Rasulullah memutuskan untuk melaksanakan hijrah dari Mekkah ke Madinah. Peristiwa ini kemudian dijadikan dasar penanggalan tahun Hijrah. 
Di Madinah, pengikut Rasulullah melakukan pembinaan masyarakat dengan cara: (1) mendirikan masjid yang pertama; (2) mengikat persaudaraan antara kaum Muhajirin (orang-orang yang ikut hijarah dari Mekkah) dengan kaum Anshor (orang-orang Madinah yang menerima dan menolong Rasulullah); (3) mengadakan perdamaian dengan orang-orang Yahudi yang tinggal di Madinah; serta (4) meletakan dasar-dasar politik, ekonomi, dan sosial bagi masyarakat Islam. Oleh karena itu, tidak mengherankan apabila pengikut Rasulullah semakin bertambah banyak.
Setelah Nabi Muhammad SAW meninggal dunia, Islam terus berkembang ke seluruh wilayah Timur Tengah, bahkan sampai ke Afrika, Eropa, dan Asia. Perkembangan Islam tidak dapat dipisahkan dari peranan para sahabat nabi yang mampu meneruskan kepemimpinan Nabi Muhammad saw. Sahabat-sahabat nabi yang paling berjasa dalam menyebarkan Islam adalah Abu Bakar, Umar, Usman, dan Ali. Mereka dikenal sebagai Khulafaturrosyidin. Setelah masa kepemimpinan Khulafaturrosyidin berakhir, Islam telah berkembang menjadi sebuah kekuatan yang besar. Di Syria muncul Dinasti Umayyah, di Bagdad (Irak) muncul Dinasti Abbasiyah, dan di Eropa pusat kekuasaan Islam terdapat di Cordoba (Spanyol). 

B.      Perkembangan Islam Pada Masa Khalifah Abu Bakar
Setelah Abu Bakar diangkat menjadi khalifah, beliau berpidato. Dalam pidatonya itu dijelaskan siasat pemerintahan yang akan beliau jalankan.Di bawah ini kita kutip beberapa prinsip-prinsip yang diucapkan dalam pidatonya itu, antara lain beliau berkata: Tugas pertama yang dilaksanakan sebagai Khalifah, yaitu memerangi orang-orang murtad. Sepeninggal Rasulullah memang banyak kaum muslimin yang kembali ke agamanya semula. Karena Nabi Muhammad, pimpinan mereka, sudah wafat, mereka merasa berhak berbuat sekehendak hati. Bahkan muncul orang-orang yang mengaku Nabi, antara lain Musailamah Al-Kadzab, Thulaiha Al-Asadi, dan Al-Aswad Al-Ansi permasalahan yang muncu pada masa khalifah Abu Bakar, antara lain:
1. Gerakan Nabi Palsu
2. Gerakan Kaum Murtad
3. Gerakan Kaum Munafik
4. Munculnya Kaum yang enggan membayar zakat
Jasa-jasa Abu Bakar Ash-Shidiq, antara lain:
1)             Memerangi Kemurtadan (Perang Ridda)
Segera setelah suksesi Abu Bakar, beberapa masalah yang mengancam persatuan dan stabilitas komunitas dan negara Islam saat itu muncul. Beberapa suku Arab yang berasal dari Hijaz dan Nejed membangkang kepada khalifah baru dan sistem yang ada. Beberapa diantaranya menolak membayar zakat walaupun tidak menolak agama Islam secara utuh. Beberapa yang lain kembali memeluk agama dan tradisi lamanya yakni penyembahan berhala. Suku-suku tersebut mengklaim bahwa hanya memiliki komitmen dengan Nabi Muhammad SAW dan dengan kematiannya komitmennya tidak berlaku lagi. Berdasarkan hal ini Abu Bakar menyatakan perang terhadap mereka yang dikenal dengan nama perang Ridda. Untuk itu Abu Bakar mengirim 11 pasukan perang dengan 11 daerah tujuan. Antara lain, pasukan Khalid bin Walid ditugaskan menundukkan Thulaiha Al-Asadi, pasukan 'Amer bin Ash ditugaskan di Qudhla'ah. Suwaid bin Muqrim ditugaskan ke Yaman dan Khalid bin Said ditugaskan ke Syam.
Dalam perang Ridda peperangan terbesar adalah memerangi "Ibnu Habib al-Hanafi" yang lebih dikenal dengan nama Musailamah Al-Kazab (Musailamah si pembohong), yang mengklaim dirinya sebagai nabi baru menggantikan Nabi Muhammad SAW. Musailamah kemudian dikalahkan pada pertempuran Akraba oleh Khalid bin Walid.

2)      Ekspedisi ke utara
Setelah menstabilkan keadaan internal dan secara penuh menguasai Arab, Abu Bakar kemudian mengarahkan perhatiannya pada perluasan wilayah pemerintahan Islam. Pada tahun 633 M, Abu Bakar memerintahkan Khalid ibn Walid mengadakan kegiatan ekspansi ke wilayah-wilayah perbatasan Syria dan Persia. Khalid mengirimkan surat kepada Hurmuz, komandan pasukan tempur Persia, dengan tiga alternatif :
1. ajaran memeluk agama islam
2. kewajiban membayar pajak
3. siap dalam peperangan
Hurmuz memutuskan pilihannya pada alternatif yang ketiga, sehingga pecahlah peperangan antara pasukan muslim dengan pasukan Persia. Pertama kali perang terjadi di Hafir, 50 mil sebelah Utara Uballah, yang dikenal sebagai “perang rantai” karena pasukan Persia membuat barisan pertahanan dengan rantai-rantai besar yang mengikat mereka satu dengan lainnya. pasukan Persia menyerah sedang komandan mereka terbunuh dalam peperangan. setelah peperangan ini, terjadi sejumlah peperangan kecil, pasukan Persia pada akhirnya terdesak dan mereka terusir ke wilayah Mesopotamia. pasukan muslim juga berhasil mengepung dan menguasai wilayah Hira. Penguasa Kristen wilayah ini menyerahkan diri dan mengadakan perjanjian damai dengan pemerintah Islam, dengan kesediaan mereka membayar sejumlah pajak, yang dikenal sebagai jizyah. setelah berhasil dalam pengepungan kota Hira, Khalid beserta pasukannyamelanjutkan ekspansi ke wilayah Utara sampai pada wilayah Ambar, sebuah wilayah pesisir di tepi pantai Euphrat. Dari sini, pasukan Khalid mengadakan penaklukan wilayah “ Ainut tamr”. Pada masa Nabi Muhammad, Heraclius, penguasa imperium Romawi, menyambut delegasi yang dikirimkan oleh Nabi dengan penuh penghormatan, namun tidak lama kemudian ia menjadi musuh islam. Pada masa ini kaisar Romawi menggalang persekutuan dengan suku-suku badui, di sekitar wilayah perbatasan Syria, untuk melancarkan serangan terhadap islam. Abu Bakar menempuh upaya pengamanan wilayah tersebut dari rongrongan penguasa Romawi. selain itu salah seorang komandan Romawi telah membunuh utusan Nabi di Muth’ah. Untuk memberikan balasan kecurangan mereka tersebut, Abu Bakar melancarkan ekspedisi militer ke Syria. terlepas dari faktor dan latar belakang tersebut, kondisi obyektif wilayah Syria adalah sangat maju perekonomiannya dibandingkan dengan negeri Arabia lainnya. sejak zaman dahulu, negeri Arabia mayoritas bargantung pada Syria dengan menjalin hubungan perdagangan. Atas dasar pertimbangan ini maka upaya penaklukan Syria diharapkan akan sangat berarti bagi perkembangan islam di masa-masa mendatang.

3)      Penulisan Al-Qur'an
Abu Bakar juga berperan dalam pelestarian teks-teks tertulis Al Qur'an. Dikatakan bahwa setelah kemenangan yang sangat sulit saat melawan Musailamah dalam perang Ridda, banyak penghafal Al Qur'an yang ikut tewas dalam pertempuran. Abu Bakar lantas meminta Umar bin Khattab untuk mengumpulkan koleksi dari Al Qur'an. Abu Bakar memproyekkan pengumpulan dan penulisan ayat Al-Qur'an dengan menunjuk Zaid bin Tsabit sebagai pelaksananya. Hal ini dilakukan mengingat:
a.       Banyak sahabat yang hafal Al-Qur'an gugur dalam perang penumpasan orang-orang murtad.
b.      Ayat-ayat Al-Qur'an yang ditulis pada kulit-kulit kurma, batu-batu, dan kayu sudah banyak yang rusak sehingga perlu penyelamatan.
c.       Pembukuan Al-Qur'an ini mempunyai tujuan agar dapat dijadikan pedoman bagi umat Islam sepanjang masa.
Setelah lengkap koleksi ini, yang dikumpulkan dari para penghafal Al-Quran dan tulisan-tulisan yang terdapat pada media tulis seperti tulang, kulit dan lain sebagainya, oleh sebuah tim yang diketuai oleh shahabat Zaid bin Tsabit, kemudian disimpan oleh Hafsah, anak dari Umar dan juga istri dari Nabi Muhammad SAW. Kemudian pada masa pemerintahan Usman bin Affan koleksi ini menjadi dasar penulisan teks al Qur'an hingga yang dikenal hingga saat ini.
Abu Bakar meninggal pada tanggal 23 Jumadil akhir tahun 13 H bertepatan dengan tanggal 23 Agustus 634 di Madinah pada usia 63 tahun. Abu Bakar dimakamkan di rumah Aishah di dekat masjid Nabawi, di samping makam Rasulullah SAW.
C.      Perkembangan Islam Pada Masa Khalifah Umar Bin Khattab
Umar bin Khattab memerintah atau menjadi khalifah selama 10 tahun 6 bulan yaitu dari tahun 13 H-23 H (634 M-644 M). Beliau meninggal pada usia 63 tahun pada bulan Dzul Hijjah disebabkab dibunuh oleh seorang berkebangsaan Persia yang bernama Abu Lu`lu yang menyimpan dendam kepada Umar bin Khattab yang telah menaklukkan negrinya.
Jenazah Umar bun Khattab dikebumikan di samping kuburan Abu Bakar r.a dan Rasulullah SAW.  Banyak kemajuan yang dialami oleh umat Islam dan agama Islam pada masa khalifah Umar bin Khattab, diantara kemajuan yang dialami pada masa Umar bin Khattab adalah sebagai berikut:
1.      Penyebaran (ekspansi) syari`at Islam ke luar Jazirah Arab
Khalifah Umar bin Khattab melanjutkan misi penyebaran Islam ke luar jazirah Arab seperti yang telah dilakukan oleh Khalifah sebelumnya yaitu Abu Bakar ash-Shiddiq. Pada akhir masa pemerintahan Abu Bakar r.a beliau berhasil menyatukan kembali yang ada di jazirah Arab setelah adanya gerakan pembangkangan. Sementara daerah di luar jazirah Arab yang berhasil dikuasai adalah daerah Ubullah (terletak di pantai teluk Persia), lembah mesopotomia, Hirat, Dumat al-Jandal yang berada di Suriah, sebagian daerah perbatasan Palestina, Suriah dan sekitarnya.
Perluasan wilayah pada zaman Umar bin Khattab berlangsung kurang lebih 10 tahun; dengan waktu yang relatif cukup singkat daerah yang dikuasai oleh umat Islam bertambah secara spektakuler. Daerah yang berada di bawah kekuasaan khalifah Umar bin Khattab terbentang dari Tripoli (Afrika Utara) di barat sampai Persia di timur; dari Yaman di selatan sampai Armenia di utara.
Kegemilangan penaklukan daerah-daerah pada masa pemerintahan Umar bin Khattab ditandai dengan penaklukan Suriah dan Palestiana yang pada saat itu berada dalam kekuasaan Byzantium; sementara Byzantium sendiri bisa dikuasai pada tahun 636 M juga Damaskus bisa dikuasai pula pada tahun tersebut. Tahun 638 M daerah Darussalam juga bisa dikuasai. Pada tahun 639 M dilakukan penyerangan ke daerah-daerah yang berada di negeri Mesir, dan dalam kurun tiga tahun Mesir dapat dikuasai.
Tahun 641 M negara Palestina dan Suriah dapat dikuasai secara penuh; dan tahun 642 M sebagian daerah Persia dan daerah Palestina dapat dikuasai; serta ketika beliau wafat kedua negara tersebut dapat dikuasai sepenuhnya. Penaklukan-penaklukan daerah strategis ini menaikkan citra Islam di mata dunia.

2.    Administrasi Negara
Bertambah luasnya daerah di bawah kekuasaan Islam membuat Umar berfikir bagaimana cara mengelola dan mengatur roda pemerintahan yang berada di bawah kekuasaannya.
Maka selanjutnya Umar bin Khattab membuat terobosan dengan melahirkan inovasi-inovasi dalam mengelola pemerintahannya. Dalam berbagai riwayat, Umar ditampilkan sebagai sosok yang mampu mengatasi persoalan-persoalan administrasi di wilayah yang baru. Diantara inovasi yang beliau lakukan adalah dalam hal pengadministrasian negara; contoh inovasi-inovasi yang beliau lakukan adalah sebagai berikut :
a.            Menyatukan dan mengorganisir orang-orang Arab yang telah masuk Islam ke dalam sebuah wadah persemakmuran agama-militer, di mana para anggotanya adalah kaum muslimin, karena bagi mereka yang non muslim tidak bisa menjadi tentara perang.
b.            Umar berasumsi bahwa tidak ada agama lain di semenanjung Arab yang dilindungi selain Islam, maka Umar mengusir orang-orang Yahudi Khaibar yang tinggal di Jericho dan tempat-tempat lainnya; serta orang-orang Kristen Najran yang melarikan diri ke Suriah dan Irak.
c.            Orang Dzimmi, penduduk wilayah taklukkan akan mendapat perlindungan dari penguasa muslim dan tidak diwajibkan militer, karena Islam melarang orang non muslim menjadi angkatan perang.
d.           Berkaitan dengan masalah perpajakan yang berada di daerah taklukkan wajib membayar pajak; sementara mereka yang masuk Islam tidak dibebankan untuk membayar pajak tapi diganti dengan kewajiban membayar zakat.
e.            Ghanimah menurut Umar adalah berupa harta bergerak dan tawanan perang; sementara tanah dan mata uang dipandang sebagai fay dan menjadi hak komunitas Islam secara keseluruhan.
f.             Adanya sensus penduduk yang merupakan sensus pertama yang terjadi dalam sejarah perjalanan umat. Sensus ini dilakukan untuk membagikan pendapatan negara. Dalam hal pembagian harta negara tersebut, Umar membaginya menjadi tga golongan, yaitu :

3.      Membentuk Angkatan Perang Islam
Pembentukan tentara perang pada masa Umar bin Khattab lebih tertata rapih. Tentara perang adalah orang muslim dari semua suku dan bangsa. Pasukan perang dipimpin oleh seorang komandan dan panglima tertinggi (amǐr) adalah khalifah yang berada di Madinah yang memberikan otoritas kepada para jendral.
Pada masa khalifah Umar ini, strategi-strategi perang telah ditanamkan kepada kaum muslimin. Salah satunya adalah dengan menempatkan pasukan utama yang diapit oleh dua pasukan sayap yang terdiri dari pasukan panah dan tombak; begitu juga dengan menempatkan regu cadangan pada tempat-tempat yang strategis.
Yang tidak kalah penting berkaitan dengan masalah peperangan ini adalah dengan aturan baru tentang masalah harta rampasan perang atau ghanimah. Kalau dulu ghanimah dibagikan secara merata kepada seluruh pasukan perang, namun pada saat Umar harta rampasan yang boleh dibagikan itu hanyalah berupa harta bergerak dan tahanan perang; sementara harta rampasan perang berupa tanah dan mata uang menjadi hak seluruh komunitas muslim. Juga adanya pengenalan istilah penggajian untuk para pasukan perang.

4.      Penanggalan Hijriyyah
Umar berijtihad bahwa untuk penanggalah tahun hijriyyah harus dimulai disaat Rasulullah SAW dan para sahabat mengadakan hijrah ke kota Madinah. Baliau beralasan karena inilah titik awal penyebaran syari`at Islam ke seluru negri. Maka terhitung sejak kepemimpinan beliau yaitu tahun 16 H (637 M) mulai dipergunakan penanggalan hijriyyah.

5.      Pengumpulan tulisan-tulisan al-Qur`an
Khalifah Umar bin Khattab berfikir bahwa konsekwensi dari adanya peperangan–peperangan yang terjadi adalah gugurnya para sahabat dalam peperangan tersebut; tak terkecuali para sahabat yang tergolong para huffadzatau para penghafal al-Qur`an.
Maka berdasarkan realita yang terjadi, maka Umar memerintahkan untuk mengumpulkan tulisan-tulisan al-Qur`an yang tersebar di antara para sahabat. Hal ini dilakukan oleh Umar bin Khattab semata-mata untuk menjaga kemurnian al-Qur`an; kelak pengumpulan ini dijadikan sebagai salah satu rujukan yang digunakan oleh khalifah Utsman bin Affan untuk membuat mushaf al-Qur`an.
Di samping berinisiatif untuk mengumpulkan tulisan-tulisan al-Qur`an yang tersebar diantara para sahabat, Umar pun berani berijtihad terhadap sesuatu yang tidak pernah terjadi pada zaman Rasulullah SAW. Salah satu contoh bentuk ijtihad Umar bin Khattab adalah pelaksanaan shalat tarawih secara berjama`ah.

D.      Perkembangan Islam Pada Masa Khalifah Utsman Bin Affan
1.     Utsman sebelum masuk Islam 
Utsman dilahirkan di mekkah pada tahun 573 masehi bertepatan dengan tahun ke enam dari kelahiran nabi saw. Ayahandanya ‘Affan ibn Abi Ash keturunan Bani Umayyah yang cukup diegani pada saat itu. Dan jika ditelusuri silsilah keturunannya dengan nabi maka akan bertemu pada kakeknya yang   keenam yakni  AbdiManaf ibn Qushay.
Utsman adalah saudagar sukses yang berlimpah kekayaan harta. Namun, meski demikian beliau dikenal sebagai sosok yang rendah hati, pemalu, dan dermawan sehingga beliau begitu dihormati oleh         masyarakat  disekelilingnya.
2.     Utsman     memeluk Islam 
Masuknya utsman kedalam    islam berawal dari sebuah suara dalam mimpinya di bawah rindang pohon antara maan dan azzarqa yang menyarankan agar beliau segera kembali ke mekkah sebab orang yang bernama Muhammad telah muncul membawa ajaran baru yang kelak akan merubah duniasebagai       utusan  tuhan.
Setelah terbangun dari mimpinya beliau bergegas kembali ke mekkah dan menanyakan hal ihwal ataupun makna yang tersimpan dari kejadian yang menimpanya. Kemudian beliau bertemu dengan Abu bakar dan mengajaknya untuk mengikuti langkahnya yang lebih dahulu memeluk islam. Lalu menghadaplah keduanya kepada rasulullah untuk menyatakan keislamannya.

3.
  Utsman  menjadi  khalifah 
Pembai’atan Utsman sebagai khalifah berdasar kesepakatan enam orang sahabat termasuk dirinya yang telah ditunjuk langsung oleh Umar ibn Khattab untuk menjadi penggantinya yang akan melanjutkan kepemimpinan dan perjuangannya dalam menyebarkan islam ke penjuru dunia.
Dari masa inilah awal pengangkatan seorang khalifah secara demokratis dengan jalan musyawarah yang diwakili oleh keenam orang sahabat sepanjang sejarah manusia.
4.     Perluasan    wilayah Islam 
Seperti yang telah dikemukakan diatas bahwasanya utsman harus bekerja lebih keras lagi dalam mempertahankan dan melanjutkan perjuangan panji islam sebab berbagai ancaman dan rintangan akan semakin berat untuknya mengingat pada masa sebelumnya telah tersiar tanda-tanda adanya negeri yang pernah ditaklukkan oleh islam hendak berbalik memberontak padanya.
Namun demikian, meski disana-sini banyak kesulitan beliau sanggup meredakan dan menumpas segala pembangkangan mereka, bahkan pada masa ini islam berhasil tersebar hampir ke seluruh belahan dunia mulai dari Anatolia, dan Asia kecil, Afganistan, Samarkand, Tashkent, Turkmenistan, Khurasan dan Thabrani Timur hingga Timur Laut seperti Libya, Aljazair, Tunisia, Maroko dan Ethiopia. Maka islam lebih luas wilayahnya jika dibandingkan dengan Imperium sebelumnya yakni Romawi dan Persia karena islam telah menguasai hampir sebagian besar daratan Asia dan Afrika.
5.       Pembentukan  Armada  Laut Islam  Pertama
Ide atau gagasan untuk membuat sebuah armada laut islam sebenarnya telah ada sejak masa kekhalifahan Umar Ibn khattab namun beliau menolaknya lantaran khawatir akan membebani kaum muslimin pada saat itu.
Setelah kekhalifahan berpindah tangan pada Utsman maka gagasan itu diangkat kembali kepermukaan dan berhasil menjadi kesepakatan bahwa kaum muslimin memang harus ada yang mengarungi lautan meskipn sang khalifah mengajukan syarat untuk tidak memaksa seorangpun kecuali dengan sukarela. Berkat armada laut ini wilayah islam bertambah luas setelah menaklukkan pulau Cyprus meski harus melewati peperangan yang melelahkan.

6.
KodifikasiAl–Qur’an
Masa penyusunan Al – qur’an memang telah ada pada masa Khalifah Abu Bakar atas usulan Umar bin Khaththab yang kemudian disimpan ditangan istri Nabi Hafsah binti Umar. Berdasar pertimbangan bahwa banyak dari para penghafal Al – Qur’an yang gugur usai peperangan Yamamah. Kini setelah Ustman memegang tonggak kepemimpinan dan bertambah luas pula wilayah kekuasaan Islam maka banyak ditemukan perbedaan lahjah dan bacaan terhadap Al – Qur’an. Inilah yang mendorong beliau untuk menyusun kembali Al – Qur’an yang ada pada Hafsah dan menyeragamkannya kedalam bahasa Quraisy agar tidak terjadi perselisihan antara umat dikemudian hari.
7.       Akhir Masa  Kepemimpinan Ustman     bin  Affan
Satu dekade pertama kepemimpinan Ustman adalah masa yang dipenuhi dengan prestasi penting dan kesejahteraan ekonomi yang tiada duanya, terkecuali pada dua tahun terakhir yang berbanding terbalik dengan sebelumnya kondisi serba sulit akibat merebaknya fitnah dan kedengkian musuh – musuh Islam yang diarahkan padanya sehingga beliau syahid dengan amat tragis pada jum’at sore 18 Dzulhijjah 35 H ditangan pemberontak Islam.
E.     Perkembangan Islam Pada Masa Khalifah Ali Bin Abi Thalib
Ali bin Abi Thalib tampil memegang pucuk kepemimpinan negara di tengah-tengah kericuhan dan huru-hara perpecahan akibat terbunuh nya Usman oleh kaum pemberontak. Ali bin Abi Thalib dipilih dan diangkat oleh jamaah kaum  muslimin di madinah dalam suasana sangat kacau, dengan pertimbangan jika khalifah tidak segera dipilih dan di angkat, maka ditakutkan keadaan semakin kacau. Ali bin Abi Thalib di angkat dengan di ba’iat oleh masyarakat.
Dalam masa pemerintahannya, Ali bin AbiThalib menghadapi pemberontakan Thalhah Zubair dan Aisyah. Alasan mereka, Ali bin Abi Thalib tidak mau menghukum para pembunuh Ustman dan mereka menuntut bela’ terhadap darah Ustman yang telah di tumpahkan secara dhalim. Perang ini di kenal dengan nama perang Jamal. Bersamaan dengan itu, kebijaksanaan -kebijaksanaan ali bin Abi Thalib juga mengakibatkan timbulnya perlawanan dari gubernur di Damaskus, Mu’awiyah. Yang di dukung oleh bekas pejabat tinggi yang merasa kehilangan kedudukan dan kejayaanya. Pertempuran yang terjadi di kenal dengan perang Siffin. Perang ini di akhiri dengan tahkim (arbitrase), tapi tahkim ternyata tidak menyelesaikan masalah, bahkan menyebabkan timbulnya golongan ketiga Al-Khawarij (orang-orang yang keluar dari barisan Ali).
Diantara perkembangan yang ada pada masa Khalifah Ali adalah :
a)     Terciptanya ilmu bahasa/nahwu (Aqidah nahwiyah)
b)     Berkembangnya ilmu Khatt al-Qur’an
c)      Berkembangnya Sastra




BAB III
PENUTUP



A.     KESIMPULAN
Perkembangan Islam di dunia di awali ketika nabi Muhammad SAW mendapatkan wahyu dari Allah SWT., dimana agama Islam pertama kali datang. Setelah Rasulullah wafat, maka perkembangan Islam dilanjutkan oleh para Sahabat Nabi, dan selanjutnya dilanjutkan oleh umat muslim sampai pada zaman modern sekarang ini. Sejalan dengan perkembangan zaman, Agama Islam telah mengalami kemajuan hingga sampai pada saat sekarang yang dipengaruhi oleh perkembangan ilmu dan teknologi. Adapun perkembangan islam di dunia dapat dibagi kedalam beberapa bidang perkembangan yakni: dibidang  Agama, Politik, Ekonomi, Ilmu Pengetahuan, Teknologi, seni dan budaya Islam. Dari kesemua bidang tersebut diatas, mengalami perkembangan secara bertahap, hingga sampai pada saat sekarang ini.
Dengan adanya sejarah yang mencatat bagaimana perkembangan islam semenjak awal datangnya Islam, hingga sampai pada saat sekarang ini Islam berkembang secara pesat maka kita dapat mengambil hikmah dari sejarah terdahulu tersebut. Yang mana hal-hal yang baik dari cerita sejarah, dan mendatangkan manfaat dapat kita jadikan pedoman dalam kehidupan. Dan meninggalkan serta mengambil pelajaran dari hal-hal yang tidak baik yang terjadi pada masa perkembangan islam terdahulu.



DAFTAR PUSTAKA



http://pendidikan60detik.blogspot.com/2015/05/lahirnya-agama-islam.html
http://asal-usul-motivasi.blogspot.com/2010/10/asal-usul-sejarah-agama-islam-secara.html
https://dalamislam.com/sejarah-islam/sejarah-agama-islam
http://www.gurupendidikan.co.id/sejarah-agama-islam-di-dunia-telengkap-menurut-para-ahli/



Posted by SahrulParawie
WAHANA BELAJAR & BERBAGI ANEKA DOKUMEN PENDIDIKAN Updated at: 6/06/2018 05:30:00 AM

No comments :

Post a Comment