Definisi Pengertian Belajar dan Mengajar Serta Tujuannya

Untuk Memudahkan Pencarian Dokumen Pendidikan Gunakan Filtur Pencarian di Bawah ini

Definisi Pengertian Belajar dan Mengajar Serta Tujuannya


Apakah yang dimaksud belajar dan mengajar? simak uraian berikut ini!

Pengertian Belajar Secara Umum 
belajarBelajar merupakan kegiatan berproses dan merupakan unsur yang sangat fundamental dalam setiap jenjang pendidikan. Dalam keseluruhan proses pendidikan, kegiatan belajar merupakan kegiatan yang paling pokok dan penting dalam keseluruhan proses pendidikan.

Belajar adalah proses atau usaha yang dilakukan tiap individu untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku baik dalam bentuk pengetahuan, keterampilan maupun sikap dan nilai yang positif sebagai pengalaman untuk mendapatkan sejumlah kesan dari bahan yang telah dipelajari. Kegiatan belajar tersebut ada yang dilakukan di sekolah, di rumah, dan di tempat lain seperti di museum, di laboratorium, di hutan dan dimana saja. Belajar merupakan tindakan dan perilaku siswa yang kompleks. Sebagai tindakan maka belajar hanya dialami oleh siswa sendiri dan akan menjadi penentu terjadinya atau tidak terjadinya proses belajar. 

Pengertian Belajar Menurut KBBI
Definisi belajar menurut KBBI adalah berusaha memperoleh kepandaian atau ilmu, berlatih, berubah tingkah laku atau tanggapan yang disebabkan oleh pengalaman.

Pengertian Belajar Menurut Ahli 
Menurut Winkel, Belajar adalah semua aktivitas mental atau psikis yang berlangsung dalam interaksi aktif dalam lingkungan, yang menghasilkan perubahan-perubahan dalam pengelolaan pemahaman.

Menurut Ernest R. Hilgard dalam (Sumardi Suryabrata, 1984:252) belajar merupakan proses perbuatan yang dilakukan dengan sengaja, yang kemudian menimbulkan perubahan, yang keadaannya berbeda dari perubahan yang ditimbulkan oleh lainnya. Sifat perubahannya relatif permanen, tidak akan kembali kepada keadaan semula. Tidak bisa diterapkan pada perubahan akibat situasi sesaat, seperti perubahan akibat kelelahan, sakit, mabuk, dan sebagainya. 
Menurut Gagne dalam bukunya The Conditions of Learning 1977, belajar merupakan sejenis perubahan yang diperlihatkan dalam perubahan tingkah laku, yang keadaaannya berbeda dari sebelum individu berada dalam situasi belajar dan sesudah melakukan tindakan yang serupa itu. Perubahan terjadi akibat adanya suatu pengalaman atau latihan. Berbeda dengan perubahan serta-merta akibat refleks atau perilaku yang bersifat naluriah. 

Moh. Surya (1981:32), definisi belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan individu untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru keseluruhan, sebagai hasil pengalaman individu itu sendiri dalam interaksinya dengan lingkungan. Kesimpulan yang bisa diambil dari kedua pengertian di atas, bahwa pada prinsipnya, belajar adalah perubahan dari diri seseorang

1) Tujuan Belajar
Tujuan belajar adalah sejumlah hasil belajar yang menunjukkan bahwa siswa telah melakukan tugas belajar, yang umumnya meliputi pengetahuan, keterampilan dan sikap-sikap yang baru, yang diharapkan tercapai oleh siswa. tujuan belajar adalah suatu deskripsi mengenai tingkah laku yang diharapkan tercapai oleh siswa setelah berlangsungnya proses belajar.

Tujuan belajar terdiri dari tiga komponen yaitu: Tingkah laku terminal, kondisi-kondisi tes, standar perilaku. Tingkah laku terminal adalah komponen tujuan belajar yang menentukan tingkah laku siswa setelah belajar. tingkah laku itu merupakan bagian tujuan yang menunjuk pada hasil yang diharapkan dalam belajar. kondisi-kondisi tes, komponen ini menentukan situasi dimana siswa dituntut untuk mempertunjukkan tingkah laku terminal. kondisi-kondisi tersebut perlu disiapkan oleh guru, karena sering terjadi ulangan/ ujian yang diberikan oleh guru tidak sesuai dengan materi pelajaran yang telah diberikan sebelumnya.

Ada tiga kondisi yang dapat mempengaruhi perilaku saat tes. pertama, alat dan sumber yang harus digunakan oleh siswa dalam upaya mempersiapkan diri untuk menempuh suatu tes, misalnya buku sumber. kedua, tantangan yanng disediakan terhadap siswa, misalnya pembatasan waktu untuk mengerjakan tes. ketiga, cara menyajikan informasi, misalnya dengan tulisan atau dengan rekaman dll. tujuan-tujuan belajar yang lengkap seharusnya memuat kondisi-kondisi di mana perilaku akan diuji.

Ukuran-ukuran perilaku, komponen ini merupakan suatu pernyataan tentang ukuran yang digunakan untuk membuat pertimbangan mengenai perilaku siswa. suatu ukuran menentukan tingkat minimal perilaku yang dapat diterima sebagai bukti, bahwa siswa telah mencapai tujuan, misalnya: siswa telah dapat memecah suatu masalah dalam waktu 10 menit. Ukuran-ukuran perilaku tersebut dirumuskan dalam bentuk tingkah laku yang harus dikerjakan sebagai lambang tertentu, atau ketepatan tingkah laku, atau jumlah kesalahan, atau kedapatan melakukan tindakan, atau kesesuainya dengan teori tertentu.

Definisi Dan Pengertian Mengajar
mengajar
Pengertian yang umum dipahami orang terutama mereka yang awam dalam bidang-bidang studi kependidikan, ialah bahwa mengajar itu merupakan penyampaian pengetahuan dan kebudayaan kepada peserta didik. Dengan demikian, tujuannya pun hanya berkisar sekitar pencapaian penguasaan siswa atas sejumlah pengetahuan dan kebudayaan. Dari pengertian semacam ini timbul gambaran bahwa peranan dalam proses pengajaran hanya dipegang oleh guru, sedangkan murid dibiarkan pasif.

Arifin (1978) dalam Syah mendefinisikan mengajar sebagai suatu rangkaian kegiatan penyampaian bahan pelajaran kepada murid agar dapat menerima, menanggapi, menguasai, dan mengembangkan bahan pelajaran. Definisi tidak jauh berbeda dengan definisi orang awam di atas, karena sama-sama menekankan penguasaan pengetahuan (bahan pelajaran) belaka. Nuansa (perbedaan tipis sekali) yang terdapat dalam definisi ini adalah adanya pengembangan penguasaan siswa atas materi pelajaran. Namun, citra pengajaran yang hanya terpusat pada guru masih juga tergambar dengan jelas. Dengan demikian, siswa selaku peserta didik dalam definisi Arifin di atas, tetap tidak atau kurang aktif.

Tyson dan Caroll (1970) juga mempelajari secara seksama sejumlah teori pengajaran, menyimpulkan bahwa mengajar ialah …. a way working with students…a process of interaction …the teacher does something to student; the students do something in return. Dari definisi ini tergambar bahwa mengajar adalah sebuah cara dan sebuah proses hubungan timbal balik antara siswa dan guru yang sama-sama aktif melakukan kegiatan (Syah, 2002 : 181).

Sehubungan dengan definisi itu, Tyson dan Caroll menetapkan sebuah syarat yakni apabila interaksi antarpersonal (guru dan siswa) di dalam kelas terjadi dengan baik, maka kegiatan belajar akan terjadi. Sebaliknya, jika interaksi guru-siswa buruk, maka kegiatan belajar pun tidak akan terjadi atau mungkin terjadi tetapi tidak sesuai dengan harapan. Sementara itu, Nasution (1986) masih dalam buku yang sama berpendapat bahwa mengajar adalah “…suatu aktivitas mengorganisir atau mengatur lingkungan sebaik-baiknya dan menghubungkannya dengan anak, sehingga terjadi proses belajar”. Lingkungan dalam pengertian ini tidak hanya ruang kelas (ruang belajar), tetapi juga meliputi guru, alat peraga, perpustakaan, laboratorium, dan sebagainya yang relevan dengan kegiatan belajar siswa. Tardif (1989) mendefinisikan mengajar secara lebih sederhana tetapi cukup komprehensif dengan menyatakan bahwa mengajar itu pada prinsipnya adalah …any action performed by an individual (the teacher) with the intention of facilitating learning in another individual (the learner). Artinya mengajar adalah perbuatan yang dilakukan seseorang (dalam hal ini guru) dengan tujuan membantu atau memudahkan orang lain (dalam hal ini siswa) melakukan kegiatan belajar.

Kata the teacher (guru) dan the learner (orang yang belajar atau siswa) dalam definisi Tardif itu semata-mata hanya sebagai contoh yang mewakili dua individu yang sedang berinteraksi dalam proses pengajaran. Jadi, interaksi antar-individu di luar definisi tadi juga bisa terjadi, misalnya antara orang tua dengan anak atau antara kiai dengan santri.

Biggs (1991), seorang pakar psikologi kognitif masa kini, membagi konsep mengajar dalam tiga macam pengertian, yaitu pengertian kuantitatif, pengertian institusional, dan pengertian kualitatif.
1)      Pengertian kuantitatif (yang menyangkut jumlah pengetahuan yang diajarkan). Dalam pengertian kuantitatif, mengajar berarti the transmission of knowledge, yakni penularan pengetahuan. Dalam hal ini, guru hanya perlu menguasai pengetahuan bidang studinya dan menyampaikan kepada siswa dengan sebaik-baiknya. Di luar itu, jika perilaku belajar siswa tidak memadai atau gagal mencapai hasil yang diharapkan, maka kesalahan ditimpakan kepada siswa. Jadi, kegagalan dianggap semata-mata karena siswa sendiri yang kurang kemampuan, kurang motivasi, atau kurang persiapan.
2)      Pengertian institusional (yang menyangkut kelembagaan atau sekolah)
Dalam pengertian institusional, mengajar berarti …..the efficient orchestration of teaching skills, yakni penataan segala kemampuan mengajar secara efisien. Dalam pengertian ini, guru dituntut untuk selalu siap mengadaptasikan berbagai teknik mengajar untuk bermacam-macam siswa yang berbeda bakat, kemampuan, dan kebutuhannya. Pengertian mengajar secara institusional ini jelas lebih ideal daripada pengertian mengajar menurut pengertian kuantitatif, karena adanya perhatian yang memadai dari pihak guru terhadap kemampuan, bakat, dan kebutuhan para siswa. Mengajar dengan adaptasi teknik seperti yang tercermin dalam definisi institusional tadi sudah dilaksanakan oleh mayoritas guru sekolah menengah di negara-negara maju seperti Amerika Serikat dan Australia.
3)      Pengertian kualitatif (yang menyangkut mutu hasil yang ideal)
Dalam pengajaran kualitatif, mengajar berarti the fasilitation of learning yakni upaya membantu memudahkan kegiatan belajar siswa. Dalam hal ini, guru berinteraksi sedemikian rupa dengan siswa sesuai dengan konsep kualitatif, yakni agar siswa belajar dalam arti membentuk makna dan pemahamannya sendiri. Jadi guru tidak menjejalkan pengetahuan kepada murid, tetapi melibatkannya dalam aktivitas belajar efektif dan efisien. Pengajaran kualitatif ini lebih terpusat pada siswa (student centered), sedangkan pengajaran kuantitatif lebih berpusat pada guru (teacher centered). Dalam pendekatan pengajaran institusional pun sesungguhnya masih mengandung ciri pemusatan pada kegiatan guru, namun tidak seekstrim pendekatan pengajaran kuantitatif.

Dari bermacam-macam definisi dapat diambil kesimpulan bahwa mengajar itu pada intinya mengarah pada timbulnya perilaku belajar siswa. Inti penimbulan perilaku belajar ini tercermin terutama dalam definisi Tyson dan Caroll, Nasution dan definisi Biggs dalam hal mengajar kualitatif.

Selanjutnya mengingat tuntutan psikologis dan sosiologis yang tercermin dalam perundang-undangan kependidikan di negara kita, sudah selayaknya mengajar itu diartikan secara representative dan komprehensif dalam arti menyentuh segenap aspek psikologis siswa. Kedudukan guru dalam pengertian ini sudah tak dapat lagi dipandang sebagai penguasa tunggal dalam kelas atau sekolah, tetapi dianggap sebagai manager of learning (pengelola belajar) yang perlu senantiasa siap membimbing dan membantu para siswa dalam menempuh perjalanan menuju kedewasaan mereka sendiri yang utuh menyeluruh (Syah, 2002 : 182).

Sebagian ahli memandang mengajar sebagai ilmu (science). Oleh karenanya, guru merupakan sosok pribadi manusia yang memang sengaja dibangun untuk menjadi tenaga professional yang memiliki profisiensi (berpengetahuan dan berkemampuan tinggi) dalam dunia pendidikan yang berkompeten untuk melakukan tugas mengajar. Seorang pakar psikologi pendidikan, J.M. Stephens, berpendapat bahwa seorang yang professional seharusnya memiliki keyakinan yang mendalam terhadap ilmu yang berhubungan dengan proses kependidikan yang dapat menyelesaikan masalah-masalah besar itu. Hal ini penting, karena menurutnya mengajar itu terkadang berbentuk proses yang emosional dan entusiastik yang dapat menghambat penerapan secara persis teori-teori ilmu pengetahuan. Oleh sebab itu untuk memahami sekaligus menerapkan sebuah teori proses mengajar, guru hendaknya pandai menyimpan perasaan dan harapan emosional dalam tempat penyimpanan yang dingin. Kemudian, hendaknya ia berusaha menghadapi kenyataan dengan akal terbuka.

Aliran pandangan yang menganggap mengajar sebagai ilmu dapat menimbulkan konotasi seseorang yang dikehendaki menjadi guru, misalnya oleh orangtuanya sendiri, akan dapat menjadi guru yang baik asal ia dididik di sekolah atau fakultas keguruan. Dari uraian tersebut jelas bahwa aliran yang memandang mengajar sebagai ilmu itu diilhami oleh teori perkembangan klasik yang disebut empirisme yang dipelopori oleh John Locke. Menurut teori ini, pembawaan dan bakat yang diturunkan oleh orangtua tidak berpengaruh apa-apa terhadap perkembangan kehidupan seseorang, sebab pada dasarnya setiap manusia pasti lahir dalam keadaan kosong. Hendak menjadi apa manusia itu kelak setelah dewasa, bergantung pada lingkungan dan pengalamannya, terutama pengalaman dan lingkungan belajarnya. Pengertian lainnya mengajar merupakan proses yang kompleks, tidak sekedar menyampaikan informasi dari guru ke siswa. Banyak kegiatan maupun tindakan yang harus dilakukan, terutama bila diinginkan hasil belajar yang lebih baik pada seluruh siswa. Mengajar adalah segala upaya yang disengaja dalam rangka memberikan kemungkinan bagi siswa untuk terjadinya proses belajar-mengajar yang lebih baik pada seluruh belajar (Rusyan dkk, 1992 : 26).

Strategi Perencanaan Proses Belajar Mengajar
Strategi dasar penjabaran tujuan belajar mengajar meskipun di dalam praktiknya guru hanya memegang dan bertanggungjawab atas penyelenggaraan bidang studi atau mata pelajaran tertentu di sekolah, namun seyogianya ia mengetahui dan memahami kaitannya antara tujuan-tujuan belajar mengajar yang sudah sangat bersifat operasional dari hari ke hari secara khusus itu dengan tujuan-tujuan yang umum bersifat ideal. Tujuan-tujuan belajar mengajar ideal sekali dikaitkan dengan tujuan pengembangan pribadi siswa individu secara utuh selama berada dan menjadi tanggungjawab sekolah bersangkutan.

Dengan berpedoman kepada pola dasar umum Prosedur Pengembangan Sistem Instruksional (PPSI) dapat dipelajari pula konsep dasar strategi belajar mengajar. Menurut Newman dan Logan, dalam bukunya berjudul Strategy Policy and Central Management dikutip Makmun mengungkapkan bahwa strategi dasar dari setiap usaha akan mencakup empat point berikut ini :

-       Mengidentifikasi dan menetapkan spesifikasi dan kualifikasi hasil (output) seperti apa yang harus dicapai dan menjadi sasaran (target) usaha itu, dengan mempertimbangkan aspirasi dan selera masyarakat yang memerlukannya.
-       Mempertimbangkan dan memilih jalan pendekatan utama (basic ways) manakah yang dipandang paling ampuh (effective) guna mencapai sasaran tersebut.
-       Mempertimbangkan dan menetapkan langkah-langkah (steps) mana yang akan ditempuh sejak titik awal sampai kepada titik akhir di mana tercapainya sasaran tersebut.
-       Mempertimbangkan dan menetapkan tolak ukur (criteria) dan patokan ukuran (standard) yang bagaimana dipergunakan dalam mengukur dan menilai taraf keberhasilan (achievement) usaha tersebut.

Mengajar untuk Menyampaikan Ilmu
Dalam konteks pendidikan, ilmu pengetahuan dibagi menjadi dua bagian, yaitu ilmu eksak dan noneksak. Ilmu eksak adalah ilmu yang membutuhkan logika, perhitungan, dan daya analisis yang kuat, misalnya matematika, fisika, dan kimia. Ilmu eksak ini cenderung memaksimalkan kerja otak kiri. Sebaliknya, ilmu noneksak adalah ilmu yang membutuhkan teori, pemahaman, dan daya ingat yang kuat, misalnya ekonomi, seni, bahasa, dan sebagainya. Berbeda dengan ilmu eksak, kinerja otak kanan sangat dibutuhkan oleh ilmu noneksak ini.

Mengajar untuk Melatih Pola Pikir
Dalam bukunya yang berjudul “Taxonomy of Effective Teaching”, Benjamin Bloom membagi pola pikir anak didik menjadi 5 tingkatan. Kelima tingkatan pola pikir tersebut adalah pengetahuan, pemahaman, penerapan, analisis, dan kreatif.
Pengetahuan, Pada tingkatan ini, guru mengajar dengan cara menyampaikan suatu fakta kepada anak-anak didiknya. Guru hanya sebatas menyampaikan informasi saja kepada mereka. Hasil akhir yang diharapkan adalah pengetahuan anak-anak didik menjadi bertambah. Mereka yang semula tidak tahu mengenai suatu fakta menjadi tahu.

Pemahaman, Pada tingkat ini, guru mulai mengembangkan teknik mengajar kepada anak-anak didiknya. Guru tidak hanya menyampaikan informasi saja, tetapi juga merangsang pola pikir mereka terhadap apa-apa yang diketahuinya. Misalnya, setelah mereka mengetahui pengertian sisi, titik sudut, dan rusuk suatu kubus. Guru mencoba memberikan pertanyaan mengenai banyaknya sisi, titik sudut, dan rusuk sebuah balok, prisma, limas, tabung, dan bangun ruang yang lain.

Penerapan, Pada Tingkatan pola pikir ini, guru memberikan bentuk kegiatan kepada anak-anak didiknya dalam proses belajar. Mereka secara langsung menerapkan segala sesuatu yang telah dipelajarinya berdasarkan pengetahuan maupun pemahaman yang dimilikinya.

Analisis, Pada tingkatan yang lebih jauh lagi, guru dapat menjelaskan berbagai kemungkinan dan hubungan dalam suatu materi pembelajaran. Dalam tahap ini, guru membuat anak-anak didik berpikir sendiri mengenai suatu permasalahan dan mengajak mereka untuk membuat kesimpulan dari pemikiran mereka.


Kreatif, Tingkatan yang terakhir adalah pola pikir kreatif. Pada tingkat ini, guru tidak hanya membuat anak-anak didik berpikir sendiri terhadap suatu permasalahan, tetapi juga membuat mereka dapat menciptakan sebuah ide, konsep, gagasan, atau karya yang baru.
Posted by SahrulParawie
WAHANA BELAJAR & BERBAGI ANEKA DOKUMEN PENDIDIKAN Updated at: 6/04/2018 03:03:00 PM

No comments :

Post a Comment