makalah sejarah masukkan agama islam ke nusantara indonesia

Untuk Memudahkan Pencarian Dokumen Pendidikan Gunakan Filtur Pencarian di Bawah ini

makalah sejarah masukkan agama islam ke nusantara indonesia

BAB I
PENDAHULUAN

A.           Latar Belakang
Dari seluruh Negara di dunia, Indonesia dianggap sebagai negara yang memiliki penduduk beragama Islam terbanyak di dunia. Masuknya agama Islam ke Indonesia dan menjadi agama yang besar di Indonesia, tentunya tidak terjadi begitu saja, namun mengalami proses yang cukup panjang. Proses itu meliputi jasa para da’i, mubalig, ulama, dan pemimpin bidang masing-masing dalam proses penyebaran agama Islam di Indonesia.
Kedatangan Islam pada abad ke-7 M ke dunia, dianggap oleh sejarawan sebagai pembangunan dunia baru dengan pemikiran baru, cita-cita baru, kebudayaan serta peradaban baru. Selama lebih dari empat belas abad sejak nabi Muhammad menyebarkan ajaran-ajaran baru dalam bidang teologi monoteistis, bidang kehidupan individu, bidang kehidupan masyarakat, dan kenegaraan, terbentanglah peradaban Islam dari wilayah Spanyol sampai benteng Cina, dari lembah Sungai Wolga di Rusia sampai ke Asia Tenggara, belakangan bahkan sudah hampir keseluruh dunia, yang dirintis oleh Rasul Muhammad, Khulafa al-Rasyidin, Amawiyah, Abbasiyah.
Saat Islam datang ke Indonesia, sebenarnya kepulauan nusantara sudah mempunyai peradaban yang bersumber dari kebudayaan asli pengaruh dari peradaban Hindu-Budha dari India, yang pengaruh penyebarannya tidak merata. Penyebaran Islam di sebagaian daerah di Indonesia berkembang dengan pesat. Hal itu disebabkan Islam yang dibawa oleh pedagang maupun para da’i dan ulama, penyebarannya menyiarkan suatu rangkaian ajaran dan cara serta gaya hidup yang secara kualitatif lebih maju dari peradaban yang ada. Dengan kedatangan Islam, masyarakat Indonesia mengalami transformasi dari masyarakat agraris feodal pengaruh Hindu-Budha kearah masyarakat kota pengaruh Islam.

B.            Rumusan Masalah
1.      Bagaimana proses masuknya agama islam di Indonesia?
2.      Bagaimana perkembangan islam di Indonesia?
3.      Kerajaan-kerajaan Islam di Indonesia

C.           Tujuan
1.      Mengetahui sejarah masuknya agama islam ke Indonesia
2.      Mengetahui dan memahami perkembangan islam di Indonesia dari awal sampai dengan sekarang
3.      Mengetahui sejarah kerajaan-kerajaan islam yang ada di indonesia


BAB II
PEMBAHASAN


A.    Sejarah Masuknya Islam Ke Indonesia
Pada tahun 30 Hijri atau 651 Masehi, hanya berselang sekitar 20 tahun dari wafatnya Rasulullah SAW, Khalifah Utsman bin Affan RA mengirim delegasi ke Cina untuk memperkenalkan Daulah Islam yang belum lama berdiri. Dalam perjalanan yang memakan waktu empat tahun ini, para utusan Utsman ternyata sempat singgah di kepulauan nusantara. Beberapa tahun kemudian, tepatnya tahun 674 M, Dinasti Umayyah telah mendirikan pangkalan dagang di pantai barat Sumatera. Inilah perkenalan pertama penduduk Indonesia dengan Islam. Sejak itu para pelaut dan pedagang Muslim terus berdatangan, abad demi abad. Mereka membeli hasil bumi  nusantara sambil berdakwah.
Lambat laun penduduk pribumi mulai memeluk Islam meskipun belum secara besar-besaran. Aceh, daerah paling barat dari kepulauan nusantara, adalah yang pertama sekali menerima agama Islam. Bahkan di Acehlah kerajaan Islam pertama di Indonesia berdiri, yakni kerajaan Pasai. Berita dari Marcopolo menyebutkan bahwa pada saat persinggahannya di Pasai tahun 692 H / 1292 M, telah banyak orang Arab yang menyebarkan Islam. Begitu pula berita dari Ibnu Battuthah, pengembara Muslim dari Maghribi., yang ketika singgah di Aceh tahun 746 H / 1345 M menuliskan bahwa di Aceh telah tersebar mazhab Syafi'i. Adapun peninggalan tertua dari kaum Muslimin yang ditemukan di Indonesia terdapat di Gresik, Jawa Timur. Berupa komplek makam Islam, yang salah satu diantaranya adalah makam seorang Muslimah bernama Fathimah binti Maimun. Pada makamnya tertulis angka tahun 475 H / 1082 M, yaitu pada zaman Kerajaan Singosari. Diperkirakan makam-makam ini bukan dari penduduk asli, melainkan makam para pedagang Arab.
Sampai dengan abad ke-8 H / 14 M, belum ada peng-Islaman penduduk pribumi nusantara secara besar-besaran. Baru pada abad ke-9 H / 14 M, penduduk pribumi memeluk Islam secara massal. Para pakar sejarah berpendapat bahwa masuk Islamnya penduduk nusantara secara besar-besaran pada abad tersebut disebabkan saat itu kaum Muslimin sudah memiliki kekuatan politik yang berarti, yaitu ditandai dengan berdirinya beberapa kerajaan bercorak Islam seperti Kerajaan Aceh Darussalam, Malaka, Demak, Cirebon, serta Ternate.
Pesatnya Islamisasi pada abad ke-14 dan 15 M antara lain juga disebabkan oleh surutnya kekuatan dan pengaruh kerajaan-kerajaan Hindu / Budha di nusantara seperti Majapahit, Sriwijaya dan Sunda.
Setiap kali para penjajah terutama Belanda menundukkan kerajaan Islam di nusantara, mereka pasti menyodorkan perjanjian yang isinya melarang kerajaan tersebut berhubungan dagang dengan dunia luar kecuali melalui mereka. Maka terputuslah hubungan umat Islam nusantara dengan umat Islam dari bangsa-bangsa lain yang telah terjalin beratus-ratus tahun. Keinginan kaum kolonialis untuk menjauhkan umat Islam nusantara dengan akarnya, juga terlihat dari kebijakan mereka yang mempersulit pembauran antara orang Arab dengan pribumi.
Semenjak awal datangnya bangsa Eropa pada akhir abad ke-15 Masehi ke Indonesia, memang sudah terlihat sifat rakus mereka untuk menguasai. Apalagi mereka mendapati kenyataan bahwa penduduk kepulauan ini telah memeluk Islam, agama seteru mereka, sehingga semangat Perang Salib pun selalu dibawa-bawa setiap kali mereka menundukkan suatu daerah. Dalam memerangi Islam mereka bekerja sama dengan kerajaan-kerajaan pribumi yang masih menganut Hindu / Budha.
Satu contoh, untuk memutuskan jalur pelayaran kaum Muslimin, maka setelah menguasai Malaka pada tahun 1511, Portugis menjalin kerjasama dengan Kerajaan Sunda Pajajaran untuk membangun sebuah pangkalan di Sunda Kelapa. Namun maksud Portugis ini gagal total setelah pasukan gabungan Islam dari sepanjang pesisir utara Pulau Jawa bahu membahu menggempur mereka pada tahun 1527 M. Pertempuran besar yang bersejarah ini dipimpin oleh seorang putra Aceh berdarah Arab Gujarat, yaitu Fadhilah Khan Al-Pasai, yang lebih terkenal dengan gelarnya, Fathahillah. Sebelum menjadi orang penting di tiga kerajaan Islam Jawa, yakni Demak, Cirebon dan Banten, Fathahillah sempat berguru di Mekkah. Bahkan ikut mempertahankan Mekkah dari serbuan Turki Utsmani.
Kedatangan kaum kolonialis di satu sisi telah membangkitkan semangat jihad kaum muslimin nusantara, namun di sisi lain membuat pendalaman akidah Islam tidak merata. Hanya kalangan pesantren (madrasah) saja yang mendalami keislaman, itupun biasanya terbatas pada mazhab Syafi'i. Sedangkan pada kaum Muslimin kebanyakan, terjadi percampuran akidah dengan tradisi pra Islam. Kalangan priyayi yang dekat dengan Belanda malah sudah terjangkiti gaya hidup Eropa, Kondisi seperti ini setidaknya masih terjadi hingga sekarang. Terlepas dari hal ini, ulama-ulama nusantara adalah orang-orang yang gigih menentang penjajahan. Meskipun banyak diantara mereka yang berasal dari kalangan tarekat, namun justru kalangan tarekat inilah yang sering bangkit melawan penjajah. Dan meski pada akhirnya setiap perlawanan ini berhasil ditumpas dengan taktik licik, namun sejarah telah mencatat jutaan syuhada nusantara yang gugur pada berbagai pertempuran melawan Belanda. Sejak perlawanan kerajaan-kerajaan Islam di abad 16 dan 17 seperti Malaka (Malaysia), Sulu (Filipina), Pasai, Banten, Sunda Kelapa, Makassar, Ternate, hingga perlawanan para ulama di abad 18 seperti Perang Cirebon (Bagus rangin), Perang Jawa (Diponegoro), Perang Padri (Imam Bonjol), dan Perang Aceh (Teuku Umar).

B.     Sejarah Masuknya Islam di Indonesia Melalui Babak- Babak Yang Penting
1.      Babak pertama, abad 7 masehi (abad 1 hijriah).
Pada abad 7 masehi, Islam sudah sampai ke Nusantara. Para Dai yang datang ke Indonesia berasal dari jazirah Arab yang sudah beradaptasi dengan bangsa India yakni bangsa Gujarat dan ada juga yang telah beradaptasi dengan bangsa Cina, dari berbagai arah yakni dari jalur sutera (jalur perdagangan) dakwah mulai merambah di pesisir-pesisir nusantara. Sampainya dakwah di Indonesia melalui para pelaut-pelaut atau pedagang-pedagang sambil membawa dagangannya juga membawa akhlak Islami sekaligus memperkenalkan nilai-nilai yang Islami. Masyarakat ketika berkenalan dengan Islam terbuka pikirannya, dimuliakan sebagai manusia dan ini yang membedakan masuknya agama lain sesudah maupun sebelum datangnya Islam.

2.      Babak kedua, abad 13 masehi.
Di abad 13 Masehi berdirilah kerajaan-kerajaan Islam diberbagai penjuru di nusantara, yang merupakan moment kebangkitan kekuatan politik umat khususnya di daerah Jawa ketika kerajaan Majapahit berangsur-angsur turun kewibawaannya karena konflik internal. Hal ini dimanfaatkan oleh Sunan Kalijaga yang membina di wilayah tersebut bersama Raden Fatah yang merupaka keturunan raja-raja Majapahit untuk mendirikan kerajaan Islam pertama di pulau Jawa yaitu kerajaan Demak. Bersamaan dengan itu mulai bermunculan pula kerajaan-kerajaan Islam yang lainnya, walaupun masih bersifat lokal.

3.      Babak ketiga, masa penjajahan Belanda.
Pada abad 17 masehi tepatnya tahun 1601 datanglah kerajaan Hindia Belanda ke daerah nusantara yang awalnya hanya berdagang tetapi akhirnya menjajah. Belanda datang ke Indonesia dengan kamar dagangnya yakni VOC, semejak itu hampir seluruh wilayah nusantara dijajah oleh Hindia Belanda kecuali Aceh. Saat itu antar kerajaan-kerajaan Islam di nusantara belum sempat membentuk aliansi atau kerja sama. Hal ini yang menyebabkan proses penyebaran dakwah terpotong.
Dengan sumuliayatul (kesempurnaan) Islam yang tidak ada pemisahan antara aspek-aspek kehidupan tertentu dengan yang lainnya, ini telah diterapkan oleh para Ulama saat itu. Ketika penjajahan datang, mengubah pesantren-pesantren menjadi markas-markas perjuangan, santri-santri (peserta didik pesantren) menjadi jundullah (pasukan Allah) yang siap melawan penjajah sedangkan ulamanya menjadi panglima perangnya. Hampir seluruh wilayah di Indonesia yang melakukan perlawanan terhadap penjajah adalah kaum muslimin beserta ulamanya.
Potensi-potensi tumbuh dan berkembang diabad 13 menjadi kekuatan perlawanan terhadap penjajah. Ini dapat dibuktikan dengan adanya hikayat-hikayat pada masa kerajaan-kerajaan Islam yang syair-syairnya berisikan perjuangan. Ulama-ulama menggelorakan Jihad melawan kaum kafir yaitu penjajah Belanda. Belanda mengalami kewalahan yang akhirnya menggunakan strategi-strategi:
·         Politik devide et impera, yang pada kenyataannya memecah-belah atau mengadu domba antara kekuatan Ulama dengan adat contohnya perang Padri di Sumatera Barat dan perang Diponegoro di Jawa.
·         Mendatangkan Prof. Dr. Snouk Cristian Hourgonye alias Abdul Gafar seorang Guru Besar ke Indonesiaan di Universitas Hindia Belanda juga seorang orientalis yang pernah mempelajari Islam di Mekkah, dia berpendapat agar pemerintahan Belanda membiarkan umat Islam hanya melakukan ibadah mahdhoh (khusus) dan dilarang berbicara atau sampai melakukan politik praktis. Gagasan tersebut dijalani oleh pemerintahan Belanda dan salah satunya adalah pembatasan terhadap kaum muslimin yang akan melakukan ibadah Haji karena pada saat itulah terjadi pematangan perjuangan terhadap penjajahan.

4.      Babak keempat, abad 20 masehi
Awal abad 20 masehi, penjajah Belanda mulai melakukan politik etik atau politik balas budi yang sebenarnya adalah hanya membuat lapisan masyarakat yang dapat membantu mereka dalam pemerintahannya di Indonesia. Politik balas budi memberikan pendidikan dan pekerjaan kepada bangsa Indonesia khususnya umat Islam tetapi sebenarnya tujuannya untuk mensosialkan ilmu-ilmu barat yang jauh dari Al-Qur’an dan akan dijadikannya boneka-boneka penjajah, yang mendapat pendidikanpun tidak seluruh masyarakat melainkan hanya golongan Priyayi (bangsawan), karena itu yang pemimpin-¬pemimpin pergerakan adalah berasalkan dari golongan bangsawan.
Strategi perlawanan terhadap penjajah pada masa ini lebih kepada bersifat organisasi formal daripada dengan senjata. Berdirilah organisasi Serikat Islam merupakan organisasi pergerakan nasional yang pertama di Indonesia pada tahun 1905 yang mempunyai anggota dari kaum rakyat jelata sampai priyayi dan meliputi wilayah yang luas. Tahun 1908 berdirilah Budi Utomo yang  masih bersifat kedaerahan yaitu Jawa, karena itu Serikat Islam dapat disebut organisasi pergerakan Nasional pertama daripada Budi Utomo.
Tokoh Serikat Islam yang terkenal yaitu HOS Tjokroaminoto yang memimpin organisasi tersebut pada usia 25 tahun, seorang kaum priyayi yang karena memegang teguh Islam maka diusir sehingga hanya menjadi rakyat biasa. Ia bekerja sebagai buruh pabrik gula. Ia adalah seorang inspirator utama bagi pergerakan Nasional di Indonesia. Serikat Islam di bawah pimpinannya menjadi suatu kekuatan yang diperhitungkan Belanda. Tokoh-tokoh Serikat Islam lainnya ialah H. Agus Salim dan Abdul Muis, yang membina para pemuda yang tergabung dalam Young Islamitend Bound yang bersifat nasional, yang berkembang sampai pada sumpah pemuda tahun 1928.
Dakwah Islam di Indonesia terus berkembang dalam institusi-institusi seperti lahirnya Nadhatul Ulama, Muhammadiyah, Persis, dan lain-lain. Lembaga-lembaga ke-Islaman tersebut tergabung dalam MIAI (Majelis Islam ‘Ala Indonesia) yang kemudian berubah namanya menjadi MASYUMI (Majelis Syura Muslimin Indonesia) yang anggotanya adalah para pimpinan institusi-institusi ke-Islaman tersebut.
Di masa pendudukan Jepang, dilakukan strategi untuk memecah-belah kesatuan kekuatan umat oleh pemerintahan Jepang dengan membentuk kementrian Sumubu (Departemen Agama). Jepang meneruskan strategi yang dilakukan Belanda terhadap umat Islam. Ada seorang Jepang yang faham dengan Islam yaitu Kolonel Huri, ia memotong koordinasi ulama-ulama di pusat dengan di daerah, sehingga ulama-ulama di desa yang kurang informasi dan akibatnya membuat umat dapat terbodohi.
Pemerintahan pendudukan Jepang memberikan fasilitas untuk kemerdekaan Indonesia dengan membentuk BPUPKI (Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia) dan dilanjuti dengan PPKI (Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia) dan lebih mengerucut lagi menjadi Panitia Sembilan, Panitia ini yang merumuskan Piagam Jakarta tanggal 22 Juni 1945. Piagram Jakarta merupakan konsensus tertinggi untuk menggambarkan adanya keragaman Bangsa Indonesia yang mencari suatu rumusan untuk hidup bersama. Tetapi ada kalimat yang kontroversi dalam piagam ini yaitu penghapusan “7 kata “ lengkapnya kewajiban menjalankan syariat Islam bagi para pemeluk-pemeluknya yang terletak pada alinea keempat setelah kalimat Negara berdasarkan kepada Ketuhanan Yang Maha Esa.

5.      Babak kelima, abad 20 & 21.
Pada babak ini proses dakwah (Islamisasi) di Indonesia mempunyai ciri terjadinya globalisasi informasi dengan pengaruh-pengaruh gerakan Islam internasional secara efektif yang akan membangun kekuatan Islam lebih utuh yang meliputi segala dimensinya. Sebenarnya kalau saja Indonesia tidak terjajah maka proses Islamisasi di Indonesia akan berlangsung dengan damai karena bersifat kultural dan membangun kekuatan secara struktural. Hal ini karena awalnya masuknya Islam yang secara manusiawi, dapat membangun martabat masyarakat yang sebagian besar kaum sudra (kelompok struktur masyarakat terendah pada masa kerajaan) dan membangun ekonomi masyarakat. Sejarah membuktikan bahwa kota-kota pelabuhan (pusat perdagangan) yang merupakan kota-kota yang perekonomiannya berkembang baik adalah kota-kota muslim. Dengan kata lain Islam di Indonesia bila tidak terjadi penjajahan akan merupakan wilayah Islam yang terbesar dan terkuat. Walaupun demikian Allah mentakdirkan di Indonesia merupakan jumlah peduduk muslim terbesar di dunia, tetapi masih menjadi tanda tanya besar apakah kualitasnya sebanding dengan kuantitasnya.

A. Masuk dan Berkembangnya Islam di Indonesia.
1.      Teori Tentang Masuknya Islam Ke Indonesia
Datangnya Islam ke Indonesia, mula-mula melalui Parsi dan India, dan  bukan langsung dari timur tengah. Perubahan-perubahan terjadi mungkin secara lebih hebat dari Eropa, seperti Portugis. Pada abad ke-16, bangsa Belanda pada abad ke-17 sampai pada sebagian abad ke -20 agama Islam muncul dengan kegairahan baru. Kali ini dari timur tengah pada pertengahan abad ke-19 dan sampai pada sebagian abad ke-20. Akhirnya serangan sekali-sekali dari Tiongkok serta invasi militer Jepang pada perang dunia II.
Secara historis maupun  sosiologis, masuknya Islam ke Indonesia, mengalami banyak masalah baik tentang sejarahnya, maupun perkembangan awal Islam. Islam dalam batas tertentu disebarkan oleh pedagang, kemudian dilanjutkan oleh para guru agama (da’i) dan pengembara sufi. Orang yang terlibat dalam kegiatan dakwah pertama itu tidak bertendensi apapun, selain bertanggung jawab menunaikan kewajiban tanpa pamrih, sehingga nama mereka berlalu begitu saja. Sehingga ada banyak perbedaan pendapat tentang kapan, dari mana, dan dimana pertama kali Islam datang ke Indonesia. Namun, secara garis besar perbedaan pendapat itu dapat dibagi menjadi beberapa bagian sebagai berikut.
a.       Pendapat pertama dipelopori oleh sarjana-sarjana Belanda, diantaranya Snouck Hurgronje yang berpendapat bahwa Islam datang ke Indonesia pada abad ke-13 M dari Gujarat (bukan dari Arab langsung). Dengan  bukti ditemukannya makam Sultan yang beragama Islam pertama Malik as-Sholeh, raja pertama kerajaan Samudra Pasai yang dikatakan berasal dari Gujarat.
b.      Pendapat kedua dikemukakan oleh sarjana-sarjana Muslim, diantaranya Prof. Hamka, yang mengadakan “Seminar Sejarah Masuknya Islam ke Indonesia” di Medan tahun 1963. Hamka dan teman-temannya berpendapat bahwa Islam sudah datang ke Indonesia pada abad pertama Hijriyah( + abad ke-7 sampai ke-8 M) langsung dari Arab dengan bukti jalur pelayaran yang ramai dan bersifat internasional sudah dimulai jauh sebelum abad ke-13.  
c.       Sarjana Muslim Kontemporer seperti Taufik Abdullah mengatakan, bahwa memang benar Islam sudah datang ke Indonesia sejak abad pertama Hijriyah atau abad ke-7 atau ke-8 Masehi, tetapi baru dianut oleh para pedagang Timur Tengah di pelabuhan-pelabuhan. Dengan berdirinya kerajaan Samudra Pasai pada abad ke-13, barulah Islam masuk secara besar-besaran dan mempunyai kekuatan politik. Hal ini terjadi akibat arus balik kehancuran Baghdad ibukota Abbasiyah oleh Hulagu. Kehancuran Islam menyebabkan pedagang Muslim mengalihkan aktivitas perdagangan ke arah Asia Selatan, Asia Timur, dan Asia tenggara.

C.    Beberapa Pendapat Tentang Awal Masuknya Islam di Indonesia.
1.      Islam Masuk ke Indonesia Pada Abad ke 7:
1)      Seminar masuknya islam di Indonesia (di Aceh), sebagian dasar adalah catatan perjalanan Al mas’udi, yang menyatakan bahwa pada tahun 675 M, terdapat utusan dari raja Arab Muslim yang berkunjung ke Kalingga. Pada tahun 648 diterangkan telah ada koloni Arab Muslim di pantai timur Sumatera.
2)      Dari Harry W. Hazard dalam Atlas of Islamic History (1954), diterangkan bahwa kaum Muslimin masuk ke Indonesia pada abad ke-7 M yang dilakukan oleh para pedagang muslim yang selalu singgah di sumatera dalam perjalannya ke China.
3)      Dari Gerini dalam Futher India and Indo-Malay Archipelago, di dalamnya menjelaskan bahwa kaum Muslimin sudah ada di kawasan India, Indonesia, dan Malaya antara tahun 606-699 M.
4)  Prof. Sayed Naguib Al Attas dalam Preliminary Statemate on General Theory of Islamization of Malay-Indonesian Archipelago (1969), di dalamnya mengungkapkan bahwa kaum muslimin sudah ada di kepulauan Malaya-Indonesia pada 672 M.
5)      Prof. Sayed Qodratullah Fatimy dalam Islam comes to Malaysia mengungkapkan bahwa pada tahun 674 M. kaum Muslimin Arab telah masuk ke Malaya.
6)      Prof. S. Muhammmad Huseyn Nainar, dalam makalah ceramahnya berjudul Islam di India dan hubungannya dengan Indonesia, menyatakan bahwa beberapa sumber tertulis menerangkan kaum Muslimin India pada tahun 687 sudah ada hubungannya dengan kaum Muslimin Indonesia.
7)  W.P. Groeneveld dalam Historical Notes on Indonesia and Malaya Compiled From Chinese sources, menjelaskan bahwa pada Hikayat Dinasti T’ang memberitahukan adanya Arab muslim berkunjung ke Holing (Kalingga, tahun 674). (Ta Shih = Arab Muslim).
8)      T.W. Arnold dalam buku The Preching of Islam a History of The Propagation of The Moslem Faith, menjelaskan bahwa Islam datang dari Arab ke Indonesia pada tahun 1 Hijriyah (Abad 7 M).

9)      Islam Masuk Ke Indonesia pada Abad ke-11:
Satu-satunya sumber ini adalah diketemukannya makam panjang di daerah Leran Manyar, Gresik, yaitu makam Fatimah Binti Maimoon dan rombongannya. Pada makam itu terdapat prasasti huruf Arab Riq’ah yang berangkat tahun 1802 M.

10)  Islam Masuk Ke Indonesia Pada Abad Ke-13:
1) Catatan perjalanan Marcopolo, menyatakan bahwa ia menjumpai adanya kerajaan Islam Ferlec (mungkin Peureulack) di Aceh, pada tahun 1292 M.
2) K.F.H. van Langen, berdasarkan berita Cina telah menyebut adanya kerajaan Pase (mungkin Pasai) di Aceh pada 1298 M.
3)  J.P. Moquette dalam De Grafsteen te Pase en Grisse Vergeleken Met Dergelijk Monumenten uit hindoesten, menyatakan bahwa Islam masuk ke Indonesia pada abad ke-13.
4)      Beberapa sarjana barat seperti R.A Kern; C. Snouck Hurgronje; dan Schrieke, lebih cenderung menyimpulkan bahwa Islam masuk ke Indonesia pada abad ke-13, berdasarkan sudah adanya beberapa kerajaaan Islam di kawasan Indonesia.
5)   Dengan datangnya para pedagang ke Indonesia, para da’i dan musafir juga turut datang. Melalui jalur pelayaran itu pula mereka dapat berhubungan dengan pedagang dari negeri-negeri di ketiga Benua Bagian Asia. Hal ini memungkinkan untuk terjadinya hubungan timbal balik, sehingga terbentuklah perkampungan masyarakat  Muslim. Pertumbuhan perkampungan ini tidak hanya bersifat ekonomis, tetapi membentuk struktur pemerintahan dengan mengangkat Meurah Silu, kepala suku Gampung Samudra menjadi Sultan Malik as-Sholeh.

Tersebarnya Islam ke Indonesia dapat dibagi kedalam beberapa saluran, yaitu:
1)      Perdagangan, yang mempergunakan sarana pelayaran.
2)      Dakwah, yang dilakukan oleh mubalig (sufi pengembara) yang berdatangan bersama para pedagang . 
3) Perkawinan, yaitu perkawinan antara pedagang Muslim, mubalig dengan anak bangsawan Indonesia. Dengan perkawinan itu, secara tidak langsung orang Muslim tersebut status sosialnya dipertinggi dengan sifat kharisma kebangsawanan. Apalagi jika pedagang Muslim menikah dengan putri raja, maka keturunannya akan menjadi pejabat birokrasi, putra mahkota kerajaan dan sebagainya.
4)      Pendidikan, setelah kedudukan para pedagang mantap, mereka menguasai kekuatan ekonomi di bandar-bandar seperti Gresik. Pusat-pusat perekonomian itu berkembang menjadi pusat pendidikan dan penyebaran Islam. Misalnya, pusat-pusat pendidikan dan dakwah Islam di kerajaan Samudra Pasai berperan sebagai pusat dakwah pertama yang didatangi pelajar-pelajar dan mengirimi mubalig lokal, diantaranya mengirim Maulana Malik Ibrahim ke Jawa.
5)       Tasafuf dan tarekat. Datangnya para pedagang bersamaan denga para ulama, da’I, dan sufi pengembara mengakibatkan pengangkatan para ulama atau sufi menjadi penasehat dan pejabat agama di kerajaan. Misalnya, di Aceh, ada Syaikh Hamzah Fansuri, Syamsuddin Sumatrani, Nuruddin ar-Raniri, Abd. Rauf Singkel.

Penyebaran agama Islam yang dilakukan oleh para sufi melalui dua cara, yaitu:
1)  Dengan membentuk kader mubalig, agar mampu mengajarkan serta menyebarkan agama Islam di daerah asalnya. Dengan demikian, Abd. Rauf mempunyai murid yang kemudian menyebarkan Islam ditempat asalnya, diantaranya Syaikh Burhanuddin Ulakan, kemudian Syaikh Abd. Muhyi Pamijahan di Jawa Barat, dan sebagainya.
2)      Melalui karya-karya tulis yang tersebar dan dibaca diberbagai tempat. Pada  abad ke-17, Aceh adalah pusat perkembangan karya-karya keagamaan yang ditulis para ulama dan para sufi. 
3)  Kesenian. Saluran yang banyak dipakai untuk penyebaran Islam terutama di Jawa adalah seni. Wali Songo, terutama Sunan Kali Jaga, mempergunakan banyak cabang seni untuk Islamisasi, seni arsitektur, gamelan, wayang, nyanyian, dan seni busana.

Secara kasar, penyebaran Islam di Indonesia dapat dibagi dalam tiga tahap, yaitu:
1) Dimulai dengan kedatangan Islam, yang diikuti oleh kemorosostan kemudian keruntuhan Majapahit pada abad ke-14 sampai ke-15.
2)      Sejak datang dan mapannya kekuasaan kolonial Belanda di Indonesia sampai abad ke-19.
3) Bermula pada awal abad ke-20 dengan terjadinya “liberalisasi” kebijaksanaan pemerintah kolonial Belanda.

Pada tahap pertama, penyebaran Islam masih relatif di kota pelabuhan.  Namun, tidak lama kemudian Islam mulai memasuki wilayah pesisir lainnya dan pedesaan. Pada tahap ini pedagang, ulama-ulama guru tarekat (wali di Jawa) dengan murid-murid mereka memegang peranan penting. Mereka memperoleh patronase dari penguasa lokal dan dalam banyak kasus penguasa lokal juga ikut berperan dalam penyebaran Islam. Islamisasi tahap ini sangat diwarnai aspek tasafuf, meskipun aspek hukum (syariah) juga tidak diabaikan, hal ini disebabkan Islam tasafuf dengan segala penafsiran mistiknya terhadap Islam dalam beberapa segi tertentu cocok dengan latar belakang masyarakat setempat yang dipengaruhi asketisme Hindu-Budha dan sinkritisme kepercayaan lokal.
Pada mulanya Islam mendapatkan kubu-kubu terkuatnya di kota-kota pelabuhan sekaligus jadi ibu kota kerajaan, seperti Samudra Pasai, Malaka, dan kota-kota pelabuhan pesisir Jawa. Proses Islamisasi Nusantara berawal dari kota-kota. Di perkotaan itu sendiri Islam adalah fenomena istana. Istana kerajaan menjadi pusat pengembangan intelektual Islam atas perlindungan resmi penguasa yang disusul kemunculan tokoh-tokoh ulama seperti, Hamzah Fansuri, Samsuddin Sumatrani, Naruddin al-Raniri, Abd Rauf Singkel dikerajaan Aceh dan Wali Songo di kerajaan Demak. Tokoh-tokoh ini mempunyai jaringan keilmuan yang luas, baik di dalam maupun di luar negeri, sehingga menjadikan Islam Indonesia bersifat Internasional.
Kota pelabuhan yang juga menjadi istana kerajaan yang kemudian berkembang menjadi pusat pendidikan dan penyebaran Islam didatangi murid-murid yang nantinya akan menjadi da’i yang menyebarkan Islam lebih lanjut ke daerah-daerah lain. Kota pelabuhan juga menjadi pusat penggemblengan kader-kader politik, dan kelak menjadi raja-raja Islam pertama di kerajaan-kerajaan baru.
Tahap kedua, penyebaran Islam terjadi ketika VOC semakin mantap menjadi penguasa di Indonesia. Pada abad ke-17 VOC baru merupakan salah satu kekuatan yang ikut bersaing dalam kompetisi dagang dan politik di kerajaan Islam Nusantara. Akan tetapi pada abad ke-18 VOC berhasil tampil sebagai pemegang hegemoni politik di Jawa dengan terjadinya perjanjian Giyanti tahun 1755 yang memecah Mataram menjadi dua, yaitu Surakarta dan Yogyakarta. Perjanjian tersebut menjadikan raja-raja Jawa tidak mempunyai wibawa karena kekuasaan politik telah jatuh ke tangan penjajah, sehingga raja menjadi sangat tergantung kepada VOC. Campur tangan VOC terhadap keraton makin luas termasuk masalah keagamaan. Peranan ulama di keraton menjadi terpinggirkan. Oleh karena itu, ulama keluar dari keraton dan mengadakan perlawanan sambil memobilisasi petani membentuk pesantren dan melawan kolonial, seperti kasus Syaikh Yusuf al-Makassari.
Tahap ketiga, terjadi pada awal abad ke-20, ketika terjadi liberalisasi kebijaksanaan pemerintah Belanda mengalami defisit yang tinggi akibat menanggulangi tiga perang besar, seperti perang Diponegoro, perang Paderi dan perang Aceh, Belanda mengangkat Gubernur Jenderal Johannes van den Bosch memperkenalkan sistem tanam paksa (cultuur stelsel) yang mengharuskan petani membayar pajak dalam bentuk hasil pertanian yang dipaksakan. Dari situ, rakyat mulai mengenal berbagai tanaman untuk perdagangan internasional, sehingga terjadi revolusi ekonomi di Jawa.
Pada tahun 1870 terjadi sistem ekonomi liberal, dimana kekuasaan elit lokal merosot hanya sebagai mandor penanaman. Untuk keperluan ekonomi liberal prasarana fisik dibangun, perkebunan diperbesar, irigasi, transportasi kereta api di Jawa dan Sumatera, pengangkutan laut, pelabuhan-pelabuhan baru dibangun di Tanjung Priuk pada tahun 1893.
Namun pada tahun 1963 M di kota Medan, dalam sebuah seminar yang membicarakan tentang masuknya Islam ke Indonesia, menghasilkan hal-hal sebagai berikut:
1)      Pertama kali Islam masuk Ke Indonesia pada abad 1 H/7M, yang langsung datang dari negeri Arab.
2)      Daerah pertama yang dimasuki Islam adalah daerah pesisir Sumatera Utara. Setelah itu masyarakat Islam membentuk kerajaan Islam pertama, yaitu Kerajaan Aceh.
3)      Para da’i Islam yang pertama, mayoritas para pedagang. Pada saat itu dakwah disebarkan dengan damai.

D.   Kerajaan Islam di Indonesia
1. Kerajaan Samudera Pasai
Kerajaan Samudra Pasai merupakan kerajaan Islam pertama di Indonesia, yang didirikan oleh Malik As-Saleh. Namun, juga ada yang menyatakan kerajaan Islam pertama di Indonesia adalah Perlak, tetapi tidak ditemukan bukti-bukti kuat yang mendukung fakta sejarah ini. Kerajaan ini terletak di Lhok Seumawe Aceh Utara di daerah Selat Malaka yang merupakan jalur perdagangan dan pelayaran internasional. Pada masa pemerintahan Malik As-Saleh, Kerajaan Samudra Pasai berkembang menjadi bandar pelabuhan besar yang banyak didatangi oleh pedagang dari berbagai daerah, seperti India, Gujarat, Arab, dan Cina. Dalam perkembangannya setelah Malik As-Saleh wafat pada 1927, kegiatan pemerintahan dilanjutkan oleh putranya, yaitu Sultan Muhamad Malik Al-Taher (1927 – 1326), Sultan Ahmad, dan Sultan Zainul Abidin.

2. Kerajaan Perlak
Merupakan kerajaan tertua di Indonesia. Bahkan ada yang menyatakan lebih dulu dari kerajaan Samudera Pasai. Namun sebagaiman, dikemukakan terdahulu, tidak banyak bahan pustaka yang menguatakan pendapat tersebut. Sultan Mahdum Alauddin Muhammad Amin yang memerintah antara tahun 1243-1267 M tercatat sebagai Sultan ke-enam. Ia terkenal sebagai sultan yang arif bijaksana dan alim, sekaligus seorang ulama. Sultan inilah yang mendirikan semacam perguruan tinggi Islam pada saat itu.
3. Kerajaan Malaka
Pendiri Kerajaan Malaka adalah Iskandar Syah. Kerajaan ini letaknya berhadapan dengan Selat Malaka sehingga sangat strategis karena letaknya tersebut, kerajaan ini sering kali menjadi tempat persinggahan para pedagang Islam yang berasal dari berbagai negara. Selain Iskandar Syah, terdapat beberapa raja yang sempat memimpin Kerajaan Malaka, di antaranya sebagai berikut:
a. Muhammad Iskandar Syah (1414-1424).
b. Sultan Mudzafat Syah dan Sultan Mansur Syah (1458-1477).
c. Sultan Alaudin Syah yang (1477-1488).
d. Sultan Mahmud Syah (1488-151).
Kerajaan Malaka banyak dikunjungi oleh para pedagang dari Gujarat, Cina, Arab, Persia, dan negara lainnya sehingga kerajaan ini memanfaatkannya untuk meningkatkan kegiatan ekonominya. Karena kemajuannya dalam perdagangan, Kerajaan Malaka mampu mengalahkan kemajuan Kerajaan Samudra Pasai.

4. Kerajaan Aceh
Kerajaan Aceh muncul setelah Malaka jatuh ke tangan Portugis. Masa kejayaan Kerajaan Aceh tercapai dalam pemerintahan Sultan Iskandar Muda. Seni sastranya dalam kebudayaan masyarakat Aceh dipengaruhi oleh budaya agama Islam. Rakyat Aceh terutama kaum ulamanya gemar menulis buku kesusastraan. Misalnya, Nuruddin ar-Raniri menulis buku Bustanus Salatin dan Hamzah Fansuri menulis Syair Perahu, Syair Burung Pingai, dan Asrar al Arifin. Selain itu, hasil-hasil kebudayaan masyarakat Aceh dipengaruhi oleh lingkungan alamnya, yaitu sungai dan lautan.Rakyat Aceh pandai membuat perahu dan kapal-kapal layar. Dengan demikian, tampaklah bahwa masyarakat kerajaan Aceh dipengaruhi oleh budaya Islam

5. Kerajaan Demak
Kerajaan Demak merupakan kerajaan Islam pertama di Jawa yang didirikan oleh Raden Patah (1478). Raden Patah adalah putra Raja Majapahit Brawijaya, dengan ibu keturunan Champa (perbatasan dengan Kamboja dan Vietnam). Kebudayaan masyarakat Demak bercorak Islam yang terlihat dari banyaknya masjid, makam-makam, kitab suci Al-Qur’an, ukir-ukiran berlanggam (bercorak) Islam, dan sebagainya. Sampai-sampai sekarang Demak dikenal sebagai pusat pendidikan dan penyebaran agama Islam di Jawa Tengah. Bahkan, dalam sejarah Indonesia, Demak dikenal sebagai pusat daerah budaya Islam di Pulau Jawa.

6. Kerajaan Mataram
Kerajaan Mataram Islam berdiri berkat perjuangan dari Ki Ageng Pemanahan yang meninggal pada 1575. Setelah meninggal, digantikan oleh anaknya Sutawijaya. Pada masanya, Kerajaan Mataram terus berkembang dan menjadi kerajaan terbesar di Jawa. Wilayahnya berkembang seputar Jawa Tengah, Jawa Timur, Cirebon, dan sebagian Priangan.
Setelah meninggal pada tahun 1601, Sutawijaya digantikan oleh Mas Jolang atau Panembahan Seda Ing Krapyak (1601-1613). Selanjutnya, diteruskan oleh anak Mas Jolang yaitu Raden Mas Martapura karena sering sakit-sakitan, Raden Mas Martapura digantikan oleh anak Mas Jolang yang lain, yaitu Raden Mas Rangsang yang dikenal dengan nama Sultan Agung (1613-1645). Pada masa Sultan Agung inilah Mataram mengalami puncak kejayaan.
Dalam perkembangan selanjutnya, Kerajaan Mataram terpecah belah sehingga berubah menjadi kerajaan kecil. Perpecahan disebabkan adanya gejolak politik di daerah-daerah kekuasaan Mataram dan peran serta VOC dan penguasa Belanda yang menginginkan menguasai tanah Jawa.
Dalam Perjanjian Giyanti (1755) disebutkan bahwa wilayah Mataram dibagi menjadi dua wilayah kerajaan sebagai berikut.
a.       Daerah Kesultanan Yogyakarta yang disebut Ngayogyakarta Hadiningrat
dengan Mangkubumi sebagai rajanya dan bergelar Hamengkubuwono.
b. Daerah Kasuhunan Surakarta yang diperintah oleh Pakubuwono.
Akibat Perjanjian Salatiga peranan Belanda dalam pemerintahan Mataram semakin jauh sehingga pada 1913 Mataram akhirnya terpecah menjadi empat keluarga raja yang masing-masing memiliki kekuasaan, yaitu Kesultanan Yogyakarta, Kasuhunan Surakarta, Pakualaman dan Mangkunegaran.

7. Kerajaan Cirebon
Kerajaan ini lahir pada abad ke-16. Pada abad tersebut, daerah Cirebon berkembang menjadi pelabuhan ramai dan menjadi pusat perdagangan di pantai utara Jawa Barat. Majunya kegiatan perdagangan juga mendorong proses Islamisasi semakin berkembang sehingga Sunan Gunung Jati membentuk kerajaan Islam Cirebon. Dengan terbentuknya kerajaan Islam Cirebon, maka Cirebon menjadi pusat perdagangan dan pusat penyebaran Islam di Jawa Barat.

8. Kerajaan Banten
Pendiri Kerajaan Banten adalah Sunan Gunung Jati dan raja pertamanya adalah Hasanuddin yang merupakan anak dari Sunan Gunung Jati. Semula wilayah ini termasuk bagian dari Kerajaan Pajajaran. Kerajaan Banten memiliki hubungan dengan kerajaan Demak. Hasanuddin menikah dengan putri Sultan Trenggono dan melahirkan dua orang anak, yaitu Maulana Yusuf dan Pangeran Jepara.
Dalam perkembangan selanjutnya, Maulana Yusuf (1570) menggantikan ayahnya untuk menjadi raja Kerajaan Banten yang kedua sampai dengan tahun 1580. Setelah itu, dilanjutkan oleh anak Maulana Yusuf (1580-1605), kemudian Abdul Mufakhir, Abu Mali Ahmad Rahmatullah (1640-1651) dan Abu Fatah Abdulfatah yang lebih dikenal dengan Sultan Ageng Tirtayasa (1651-1582). Pada masa Sultan Ageng Tirtayasa inilah Kerajaan Banten mengalami puncak kejayaan.

9. Kerajaan Gowa-Tallo
Merupakan kerajaan Islam pertama di Sulawesi tahun 1605 M. Rajanya bernama Malinkaang Daeng Manyonri yang kemudian berganti nama dengan Sultan Abdullah Awwalul Islam. Menyusul di belakangnya, Raja Gowa bernama sultan Alauddin. Dalam waktu dua tahun, seluruh rakyatnya memeluk agama Islam. Mubaligh Islam yang berjasa ialah Abdul Qodir Khatib Tunggal yang bergelar Dato Ri Bandang berasal dari Minangkabau, murid sunan Giri.

10. Kerajaan Ternate dan Tidore
Pengaruh agama dan budaya Islam di Maluku (Ternate dan Tidore) belum meluas ke seluruh daerah. Sebabnya, masih banyak 89 rakyat Maluku yang mempertahankan kepercayaan nenek moyangnya. Hal tersebut terbukti dari bekas peninggalan-peninggalannya, yakni masjid, buku-buku tentang Islam, makam-makam yang berpolakan Islam yang ada di Maluku tidak begitu banyak jumlah- nya. Dengan kata lain hasil-hasil kebudayaan rakyat Maluku merupakan campuran antara budaya Islam dan pra-Islam.



E.     Tokoh Islam yang Berprestasi
Proses penyebaran Islam di wilayah Nusantara tidak dapat dilepaskan dari peran aktif yang dilakukan oleh para ulama. Melalui merekalah Islam dapat diterima dengan baik dikalangan masyarakat Nusantara. Para ulama yang pertama kali menyebarkan Islam di Nusantara antara lain sebagai berikut:
1. Hamzah Fansuri
Hamzah Fansuri hidup pada masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda, sekitar tahun 1590. Pengembaraan intelektualnya tidak hanya di Fansur, Aceh. Tetapi juga ke India, Persia, Makkah dan Madinah. Karena itu ia menguasai berbagai bahasa selain bahasa Melayu. Dalam pengembaraannya itu, ia sempat mempelajari ilmu fiqih, tauhid, tasawuf, sejarah dan sastra Arab. Usai menjalani pengembaraan intelektualnya, Hamzah Fansuri kembali ke kampung halamannya di Fansur, Aceh,untuk mengajarkan keilmuan Islam yang diperolehnya dari guru-guru yang didatanginya di negeri-negeri yang telah disinggahi. Ia mengajarkan keilmuan Islam tersebut di Dayah (pesantren) di Obob Simpangkanan, Singkel.

2. Syamsudin Al-Sumatrani
Syamsudin Al-Sumatrani merupakan salah seorang ulama terkemuka di Aceh dan Nusantara yang hidup pada abad ke-16. Syamsudin Al-Sumatrani memiliki peran dan posisi penting di istana kerajaan Aceh Darussalam, karena is berprofesi sebagai Qadli (Hakim Agung), juga kedekatannya dengan Sultan Iskandar Muda sebagai seorang Syeikh Al Islam. Syeikh Al Islam merupakan gelar tertinggi untuk ulama, kadi, imam atau syeikh, penasihat raja, imam kepala, anggota tim perundingan dan juru bicara Kerajaan Aceh Darussalam. Karya-karya Syamsudin Al-Sumatrani adalah Jaubar Al-Haqaid, Risalah Al-Baiyyin al-Mulahaza Al-Muwahhidin Wa Al-Mubiddinfi Dzikr Allah, Mir’ah Al-Mukminin, Syarah Ruba’i Hamzah Fansuri, Syarah Syair Ikan Tongkol.

3. Nuruddin Ar-Raniri
Nuruddin Ar-Raniri dilahirkan di Ranir (sekarang Render), sebuah pelabuhan tua di Gujarat. Ayahnya berasal dari keluarga imigran Arab Hadramy, Arab Selatan, yang menetap di Gujarat India. Meskipun ia keturunan Arab, Ar-Raniri dianggap lebih dikenal sebagai seorang ulama Melayu dari pada India atau Arab.
Ar-raniri diangkat sebagai Syeikh Al Islam, pada masa pemerintahan Sultan Iskandar Tsani. Dengan memperoleh dukungan dari sultan, Ar-Raniri mulai melancarkan berbagai pembaruan pemikiran Islam di tanah Melayu, khususnya di Aceh. Selama lebih kurang tujuh tahun, ia menentang doktrin wujudiah yang diajarkan oleh Hamzah Fansuri dan Syamsudin Al-Sumatrani. Diantara karya Ar-Raniri adalah Shiratal Mustaqiem dalam bidang tasawuf, dan Durratul Aqaid bisyarbil-Aqaid dalam bidang akidah Islam.

4. Syeikh Muhammad Yusuf Al-Makassari
Muhammad Yusuf bin Abdullah Abul Mahasin Al-Tajul-Khalwati Al-Makassari, dilahirkan di Moncong Loe, Gowa, Sulawesi Selatan pada tanggal 3 Juli 1626 M/1037 H. Ia berasal dari keluarga yang taat beragama. Ia belajar bahasa Arab, fikih, tauhid, dan tasawuf kepada Sayid Ba Alwi bin Abdullah Al-‘Allaham Al-Thahir, seorang Arab yang menetap di Bontoala. Setelah berusia 15 tahun, ia melanjutkan pelajarannya di Cikoang dengan Jalaluddin Al-Aydid, seorang guru pengembara yang datang dari Aceh ke Kutai, sebelum sampai di Cikoang.
Diantara karyanya adalah menyalin kitab Ad-Durrah Al-Fakbira (Mutiara yang Membanggakan), dan Risalah fil-Wujud (Tulisan tentang Wujud)

5. Syeikh Muhammad bin Umar An-Nawawi Al-Bantani
Muhammad bin Umar An-Nawawi Al-Bantani lahir di Tanara, Serang, Banten pada tahun 1230 H/1813 M. Sejak kecil ia dan kedua saudaranya, Tamim dan Abmad, di didik ayahnya dalam bidang agama, ilmu kalam, ilmu nahwu, fikih dan tafsir. Selain itu ia juga belajar dari Haji Sabal, ulama terkenal saat itu, dan dari Raden Haji Yusuf di Purwakarta Jawa Barat.
Syeikh Nawawi A-Bantani termasuk salah seorang ulama Nusantara yang cukup berpengaruh dan sangat dihormati, bukan hanya di kalangan komunitas melayu Nusantara tetapi juga oleh masyarakat Haramain secara keseluruhan. Posisi sosial keagamaan dan intelektual yang dimilikinya memberi kesempatan kepadanya untuk mengajar pada berbagai halaqah di Masjidil Haram sejak tahun 1860, khususnya di Ma’had Nashr Al-Ma’arif Ad-Diniyah, hingga akhirnya ia memperoleh gelar sebagai “Syeikh Al-Hijaz”

6. Syeikh Ahmad Khatib Minangkabau
Syeikh Ahmad Khatib Minangkabau lahir di Bukittinggi, Sumatra Barat pada tahun 1276 H/1855 M. Ayahnya adalah seorang jaksa di Padang, sedangkan ibunya adalah anak dari Tuanku Nan Renceh, seorang ulama terkemuka dari golongan Padri. Ahmad Khatib kecil memperoleh pendidikan awal pada sekolah pemerintah yang didirikan Belanda, yaitu sekolah rendah dan sekolah guru di kota kelahirannya. Kemudian pada tahun 1876, Ahmad Khatib melanjutkan pendidikan agamanya di Makkah, tempat kelak ia memperoleh kedudukan tinggi dalam mengajarkan agama dan imam dari madzhab Syafi’i di Masjidil Haram.

7. Wali Songo
Walisongo dikenal sebagai penyebar agama Islam di tanah Jawa pada abad ke-14 M. Mereka tinggal ditiga wilayah penting pantai utara pulau Jawa, yaitu Surabaya-Gresik-Lamongan-Tuban di Jawa Timur, Demak, Kudus, Muria di Jawa Tengah, dan Cirebon di Jawa Barat. Walisongo adalah era berakhirnya dominasi Hindu-Budha dalam budaya Nusantara untuk digantikan dengan kebudayaan Islam. Mereka adalah simbol penyebaran agama Islam di Indonesia, khususnya di Jawa. Tentu banyak tokoh lain yang berperan. Namun peran mereka yang sangat besar dalam mendirikan kerajaan Islam di Jawa, juga pengaruhnya terhadap kebudayaan masyarakat secara luas serta dakwah secara langsung membuat para Walisongo ini banyak disebut dibanding yang lain.
Pendapat lain yang mengatakan bahwa walisongo adalah sebuah majelis dakwah yang pertama kali didirikan oleh Sunan Gresik pada tahun 1404 M. Walisongo adalah pembaruan masyarakat pada masanya. Pengaruhnya mereka terasakan dalam berragam bentuk manifestasi peradaban baru masyarakat Jawa, mulai dari kesehatan, bercocok tanam, perniagaan, kebudayaan, kesenian, kemasyarakatan, hingga ke pemerintahan. Adapun sembilan nama yang dikenal Walisongo tersebut adalah Sunan Gresik, Sunan Drajat, Sunan Kalijaga, Sunan Kudus, Sunan Muria, Sunan Ampel, Sunan Giri, Sunan Bonang dan Sunan Gunung Jati.

1).    Sunan Gresik
Ketika pertama kali beliau datang ke Jawa, pada umumnya masyarakat memeluk agama Hindu/Budha dan berada di bawah pemerintahan kerajaan Majapahit. Masyarakat menganut struktur sosial yang berkasta, yaitu kasta sudra, kasta waisya, kasta ksatria, dan kasta brahmana.
Sebelum menyiarkan agama Islam, beliau mendekati penduduk setempat untuk mengenal adat istiadatnya terlebih dahulu. Dengan cara itu, Islam mudah diterima oleh golongan yang menjadi sasaran penyebaran.
Metode dakwah yang beliau terapkan cukup unik dan tepat, yaitu dengan membuka warung untuk berjualan kebutuhan sehari-hari dengan harga murah, juga mengadakan pengobatan gratis. Beliau juga membangun masjid dan pondok pesantren di dusun Pesucian, sekitar 9 km utara Kota Gresik pada tahun 801 H/1392 M.
Beliau mencoba merangkul masyarakat bawah, yaitu kasta terendah dalam budaya Hindu. Metode ini ternyata berhasil, terbukti sedikit demi sedikit masjid yang dibangun beliau ramai dikunjungi warga yang sudah memeluk agama Islam. Dan Islam pun berkembang di pulau Jawa, bahkan di daerah-daerah Nusantara.

2).     Sunan Ampel
Sunan Ampel adalah penerus cita-cita dan perjuangan Maulana Malik Ibrahim. Beliau memulai aktivitasnya dengan mendirikan pesantren di Ampel Denta, Surabaya. Sehingga beliau dikenal dengan Pembina pondok pesantren pertama di Jawa Timur. Di pesantren inilah beliau mendidik para pemuda Islam untuk menjadi tenaga da’i yang akan disebarkan ke seluruh Jawa.
Sebagai seorang ulama yang giat berdakwah, Sunan Ampel mempunyai ajaran yang terkenal dngan sebutan “molimo” . “Mo” berarti tidak mau, sedangkan limo adalah 5 perkara. Jadi, “molimo” adalah tidak mau melakukan 5 perkara yang terlarang. Kelima ajaran Sunan Ampel itu adalah:
1.        Emoh Main, artinya tidak mau main judi.
2.        Emoh Ngombe, artinya tidak mau minum-minuman yang memabukkan.
3.        Emoh Madat, artinya tidak mau mengisap candu atau ganja.
4.        Emoh Maling, artinya tidak mau mencuri.
5.        Emoh Madon, artinya tidak mau main perempuan yang bukan isterinya (zina).
Menurut Babad Diponegoro, Sunan Ampel sangat berpengaruh di kalangan istana Majapahit. Kedekatan beliau tersebut membuat penyebaran Islam di Daerah kekuasaan Majapahit, khususnya di pantai utara Pulau Jawa, tidak mendapat hambatan yang berarti, bahkan mendapat izin dari penguasa kerajaan.
Sunan Ampel tercatat sebagai perancang kerajaan Islam pertama di Pulau Jawa dengan ibu Kota Bintoro, Demak. Beliaulah yang mengangkat Raden Fatah sebagai sultan pertama Demak, yang dipandang punya jasa paling besar dalam meletakkan peran politik umat Islam di Nusantara. Disamping itu, beliau juga ikut mendirikan Masjid Agung Demak pada tahun 1479.



3).    Sunan Giri
Nama aslinya Raden Paku, dikenal juga dengan sebutan Prabu Satmata, kadang-kadang disebut juga dengan Sultan Abdul Fakih. Dikenal sebagai Sunan Giri, karena beliau, mendirikan pesantren di dekat sebuah gunung yaitu gunung giri dan berdakwah di sana sampai akhir hayatnya dan dimakamkan di sana pula. Beliau adalah putra dari Maulana Ishak (adik dari Maulana Ibrahim). Ibunya bernama Dewi Sekardadu dari Blambangan.
Raden Paku diangkat anak oleh seorang wanita kaya bernama Nyai Gede Maloka, Babad Tanah Jawa disebut Nyai Ageng Tandes (ada juga yang menyebut Nyai Ageng Pinatih). Beranjak dewasa Raden Paku belajar agama di Pondok Pesantren Ampel Denta pimpinan Sunan Ampel. Di sana beliau menjadi teman akrab dengan putra Sunan Ampel yaitu Maulana Makdum Ibrahim.
Dalam perjalanan beliau ke haji bersama Sunan Bonang, mereka terlebih dahulu memperdalam ilmu pengetahuan di Pasai yang ketika itu menjadi tempat berkembangnya ilmu ketuhanan, keimanan, dan tasawuf. Di sinilah Raden Paku sampai pada tingkat ilmu laduni, sehingga gurunya menganugrahkan gelar ‘Ain al-Yaqin.
Sebagai seorang ulama yang wara’,Sunan Giri sangat-sangat berhati-hati dalam memutuskan masalah ubudiyah. Dalam masalah ini beliau berpegang teguh pada ajaran al-Qur’an dan Hadis. Bahkan beliau berpendapat “bahwa ibadah mau tidak mau harus sesuai dengan ajaran Nabi saw, tidak booleh di campur adukan dengan adat istiadat yang bertolakk belakang dengan ajaran tauhid”. Pendapatnya itu dilandasi oleh firman Allah:
“Dan sembahlah Allah dan janganlah Kamu mempersekutukan-Nya…”(QS. An Nisa : 36)
Sunan Giri terkenal sebagai pendidik yang berjiwa demokrasi, beliau mendidik anak-anak melalui berbagai permainan yang berjiwa agama, misalya jelungan, jamuran, gendi ferit, jor, gula ganti, cublak-cublak suweng, ilir-iilir, dan sebagainya. Beliau juga dipandang sebagai orang yang sangat berpengaruh terhadap jalannya roda Kesultanan Demak Bintiro (kesultanan demak)., sebab setiap kali muncul maalah penting yang harus diputuskan, wal yang lain selalu menantikan kepuutusan dan pertimbangannya.

4).    Sunan Bonang
Dalam kegiatan dakwahnya, beliau telah berhasil mengubah jalan Raden Syahid dari kesesatan kemudian beliau membimbing Raden Syahid dalam masalah keagamaan sehingga Raden Syahid menjadi seorang alim yang kemudian dikenal dengan julukan Sunan Kalijaga. Kegiatan dakwah Sunan Bonang dipusatkan di sekitar Jawa Timur, terutama di daerah Tuban. Beliau mendirikan Masjid Sangkal Dhaha. Dalam aktivitas dakwahnya, beliau beliau mengganti nama dewa-dewa dengan nama nabi dan malaikat dalam Islam dengan maksud agar penganut agama Hindu dan Budha mudah diajak masuk agama Islam.
Mengingat orang-orang Hindu/Budha gemar memainkan seni gamelan Jawa, maka Sunan Bonang menambahi dengan instrumen Bonang. Lirik-lirik tembang yang diciptakannya sarat akan nilai-nilai ketuhanan. Tembang Tombo Ati adalah salah satu karya beliau yang fenomenal.
Ajaran Sunan Bonang berintikan filasafat cinta atau isyq. Menurutnnya, cinta sama dengan iman yaitu pengetahuan intutif (ma’rifat) dan kepatuhan kepada Allah SWT.
Ajaran tersebut di sampaikannya melalui media kesenian, dibantu murid utamanya, Sunan Kalijaga.
Sunan Bonang juga merupakan guru bagi Raden Fatah. Karena, beliau telah memberikan pendidikan Islam kepada putra raja Majapahit Prabu Brawija V tersebut, yang kemudian menjadi sultan pertama Demak. Catatan-catatan pendidikan tersebut dikenal dengan “Suluk Sunan Bonang” atau “Primbon Sunan Bonang”. Isu buku tersebut berbentuk prosa ala Jawa Tengah, kalimatnya sangat banyak dipengaruhi bahasa Arab, dan sampai sekarang antara lain masih tersimpan di Universitas Laiden, Negeri Belanda.
5).    Sunan Drajat
Beliau adalah putra Sunan Ampel yang kedua. Setelah menguasai pelajaran agama dari sang ayah, beliau hijrah ke desa Drajat di Lamongan, dan mendirikan padepokan santri Dalem Duwur, yang sekarang bernama desa Drajat. Di daerah inilah Sunan Drajat memusatkan dakwahnya, beliau juga memegang kendali kerajaan di wilayah perdikan Drajat.
Sebagai seorang ulama’, beliau mengajarkan sifat tawakal sebagai salah satu ajaran akhlaknya. Mengenai ajaran tawakal, beliau menyatakan bahwa “apa yang terjadi pada diri manusia memang sudah ditentukan oleh Allah Yang Maha Kuasa. Karena itu, manusia disamping harus menyerahkan nasib kepada Allah, dia juga harus tetap berusaha. Dengan bertawakal secara benar dan bersungguh-sungguh kebenaran janji Allah akan datang”. Hal itu sesuai firman Allah yang dikutip oleh Sunan Drajat:
“Barang siapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)-nya”. (QS. At-Talaq : 3).
Hal yang paling menonjol dalam dakwah Sunan Drajat adalah perhatiannya yang sangat serius pada masalah-masalah sosial. Beliau terkenal mempunyai jiwa sosial dan teman-teman dakwahnya selalu berorientasi pada kegotong-royongan. Beliu selalu memberi pertolongan kepada umum, menyantuni anak yatim dan fakir miskin sebagai suatu proyek sosial yang dianjurkan agama lslam.
Karena keberhasilannya menyebarkan Islam dan menanggulangi kemiskinan, Sunan Drajat memperoleh gelar Sunan Mayang Madu dari Raden Fatah, Sultan Demak 1 tahun saka 1442 atau 1520 M.

6).     Sunan Gunung Djati
Sunan Gunung Jati adalah cucu raja Pajajaran, Prabu Siliwangi. Yaitu, putra dari Nyai Lara Santang (anak kedua raja Pajajaran) dengan Maulana Sultan Mahmud (Syarif Abdullah), seorang bangsawan Arab yang berasal dari Bani hasyim. Pernikahan mereka terjadi ketika Nyai Lara Santang dan kakaknya Raden Walangsungsang pergi haji yang merupakan perintah guru mereka yaiu Syekh Datu Kahfi (Syekh Nurul Jati) di Gunung Ngamparan Jati.
Setelah dewasa, Syarif Hidayatullah memilih berdakwah ke tanah Jawa daripada menetap di tanah Arab. Beliau kemudian menemui Raden Walangsungsang yang sudah bergelar Pangeran Cakrabuana. Setelah pamannya itu wafat, beliau menggantikan kedudukannya dan kemudian berhasil meningkatkan status Cirebon menjadi sebuah kesultanan. Beliau kemudian terkenal dengan dengan gelar Sunan Gunung Jati.
Menurut Purwaka Carunban Nagari, Sunan Gunnung Jati, sebagai salah seorang wali songo, mendapat penghormatan dari raja-raja lain di Jawa, seperti kerajaan Demak dan Pajang, karena kedudukannya sebagai raja dan ulama, beliau di beri gelar Raja Pandita. Beliau mengembangkan agama Islam ke daerah-daerah lain di Jawa Barat, seperti Majalengka, Kuningan, Kawli (Galuh), Sunda Kelapa, dan Banten. Beliau meletakkan dasar bagi pengembangan Islam dan perdagangan orang-orang Islam Banten pada tahun 1525 atau 1526. Ketika beliau kembali ke Cirebon, Banten di serahkan kepada anaknya, Sultan Maulana Hasanudin yang kemudian menurunkan raja-raja Banten.
Setelah Sunan Gunung Jati wafat, Cirebon mengalami pasang surut. Kendati demikian, peranan histories keagamaan yang dijalankannya tak pernah hilang.

7).    Sunan Kudus
Nama aslinya Ja’far Sadiq, tetapi sewaktu kecil dipanggil Raden Undung,. Kadang beliau dipanggil dengan Raden Amir Haji, sebab ketika menunaikan ibadah haji beliau bertindak sebagai pemimpi rombongan (amir).
unan Kudus adalah putra Raden Usman Haji, yang menyiarkan Islam di daerah Jipang Panoalan, Blora. Sedangkan Sunan Kudus sendiri menyiarakan agama Islam di daerah Kudus dan sekitarnya, dan beliau memiliki keahlian khusus dalam bidang ilmu agama, terutama dalam ilmu fiqih, ushul fiqh, tauhid, tafsir, serta logika. Oleh sebab itu, diantara wali songo yang lain, hanya beliaulah yang dijuluki al-‘alim (orang yang luas ilmunya).
Disamping menjadi juru dakwah, Sunan Kudus juga menjadi panglima perang Kesultanan Demak Bintoro yang tangguh, dan dipercaya untuk mengendalikan pemerintahan di daerah Kudus, sehigga beliau menjadi pemimpin pemerintahan sekaligus pemimpin agama di daerah tersebut.
Pada tahun 986 H atau 1549 M, Sunan Kudus Menunaikan Haji. Saat itu pula beliau singgah ke Bait al-Maqdis (al-Quds) untuk memperdalam ilmu agama. Disana, beliau mendapat semacam amanat berbahasa Arab yang tertulis di atas batu. Inti pesan itu adalah menyuruh Sunan Kudus mendirikan masjid dan menanamkan syiar Islamnya dengan nama Kudus, bila beliau kembali ke pulau Jawa. Dan akhirnya terciptalah Masjid Manara dan daerah bernama Kudus. Hingga kini pesan yang dituliskan Arab di atas batu tersebut masih tersimpan di mihrab.
Seperti sunan yang lainnya, dalam menyiarkan Islam Sunan Kudus tidak menghilangkan ciri atau budaya Hindu. Bahkan sampai sekarang di daerah Kudus ada pelarangan untuk menyembelih sapi. Hal itu merupakan sebuah penghormatan Sunan Kudus terhadap masyarakat yang mayoritas memeluk agama Hindu.
Selain sebagai mubaligh, beliau juga dikenal sebagai pujanga mengarang cerita-cerita bernafaskan Islam, sebagai pendukungan dalam melaksanakan dakwahnya. Karangan cerita beliau yang palig terkenal adalah Gending Maskumambang dan Mijil.

8).    Sunan Kalijaga
Nama kecilnya adalah Raden Mas Syaid atau sa’id putra adipati Tuban, dan kadang-kadang dijuluki Syekh Malaya.
Salah satu sifat yang menonjol dari Raden Mas Syahid kecil adalah sifat welas asih (kasih sayang). Sikap kasih sayang tersebut terutama ditunjukan kepada rakyat kecil yang banyak menderita. Bahkan pada masa remajanya perasaan kasih sayang tersebut diwujudkan secara berlebihan.
Daerah dakwah Sunan Kalijaga tidak terbatas, bahkan sebagai mubaligh beliau berkeliling dari satu daerah ke daerah lain. Karena system dakwahnya yang intelek dan aktual, maka para bangsawan dan cendikiawan sangat simpati terhadapnya, demikian juga lapisan masyarakat awam, bahkan penguasa.
Sunan Kalijaga dalam menyebarkan Islam dengan memanfaatkan sarana wayang yang digemari masyarakat pedalaman Jawa. Salah satu contohnya adalah Wayang Purwa. Pengetahuan dibidang seni melatar belakangi pendekatan kebudayaan yang digunakannya dalam menyebarkan agama Islam.
Dalam menjalankan dakwahnya, Sunan Kalijaga tidak membangun pesantren sepert yang dilakukan oleh para wali lainnya. Beliau lebih cenderung dengan berkelana dari tempat yang satu ke tempat yang lainnya. Dalam metode dakwahnya, kepercayaan dan adat istiadat setempat tidak ditentang begitu saja, bahkan beliau jadikan sebagai sarana dakwah.

9).     Sunan Muria
Nama aslinya Raden Umar Said atau Raden Said, sedangkan nama kecilnya adalah Raden Prawoto. Namun beliau lebih terkenal dengan nama Sunan Muria karena pusat kegiatan dakwahnya dan makamnya terletak di gunung Muria (18 km di sebelah utara kota Kudus sekarang).
Ciri khas Sunan Muria dalam upaya menyiarkan agama Islam adalah menjadikan desa-desa terpencil sebagai tempat dakwahnya. Beliau lebih suka menyendiri dan bertempat tinggal di desa dan bergaul dengan rakyat iasa.
Beliau mendidik rakyat di sekitar gunung Muria. Cara yang ditempuhnya dalam menyiarkan agama Islam adalah dengan mengadakan kursus-kursus bagi bagi kaum pedagang, para nelayan dan rakyat biasa. Beliau juga banyak menggunakan metode pendekatan kebudayaan yang bertujuan untuk menarik rakyat golongan bawah masuk Islam. Misalnya, dengan menggunakan pertunjukan kesenian yang digemari masyarakat setempat.
Sunan Muria juga terkenal sebagai pendukung setia Kesultanan Demak Bintoro dan berperan serta dalam mendirikan masjid Demak. Dalam rangka dakwah melalui budaya, beliau menciptakan tembang dakwah Sinom dan Kinanti. Sinom adalah sejenis tembang Jawa yang pada umumnya menampilkan suasana yang dapat menyentuh hati. Sedangkan kinanti pada umumnya berisi tentang syair-syair yang bersuasana senang, gembira, penuh kasih sayang dan rasa cinta.


BAB III
PENUTUP

A.           Kesimpulan
Dari penjelasan diatas tentang sejarah masuknya Islam ke Indonesia, kami menyimpulkan bahwa:
1.             Sebelum Islam datang ke Indonesia, sebenarnya kepulauan nusantara sudah memiliki peradaban tersendiri, yaitu peradaban yang bersumber dari kebudayaan asli pengaruh peradaban Hindu-Budha dari India. Sehingga dapat dikatakan bahwa sebenarnya, Islam bukanlah peradaban pertama yang mendiami kepulauan nusantara.
2.             Sejarah masuknya Islam ke Indonesia berlangsung dengan cepat dan pesat serta mudah diterima oleh masyarakat Indonesia, walaupun masuknya Islam ke Indonesia berlangsung dalam beberapa bagian tahap atau babak. Cepat dan pesatnya masuknya Islam ke Indonesia dibuktikan dengan cara penyebarannya oleh para pedagang, da’i dan ulama, terutama dengan ajaran dan gaya hidup yang lebih maju dari peradaban yang ada.
3.             Dari beberapa sumber yang diperoleh, maka dapat dicatat adanya perbedaan dalam menentukan kapan masuknya agama Islam di Indonesia. Sumber-sumber yang dimaksud menetapkan bahwa masuknya Islam ke Indonesia adalah pada abad ke-7, abad ke-11, dan abad ke-13.
4.             Agama Islam terus mengalami perkembangan di Indonesia, walaupun tidak sedikit tantangan yang datang dari koloniallisme Belanda dan juga para penjajah dari bangsa lain. Perlawanan ini terutama ditunjukkan oleh kerajan-kerajaan Islam, maupun organisasi-organisasi kedaerahan dan juga took-tokoh Islam. Perkembangan selanjutnya pasca kolonialisme diwarnai dalam kekuatan politik Islam dengan dakwah Islam nasional dan didukung internasional yang menyentuh semua lapisan masyarakat hingga kini Indonesia menjadi Negara Muslim terbesar di Dunia.

B.            Saran
Islam adalah agama yang damai. Islam masuk ke Indonesia, bukan dengan peperangan ataupun penjajahan. Islam berkembang dan tersebar di Indonesia justru dengan cara damai dan persuasif berkat kegigihan para ulama. Maka dari itu melalui makalah ini kita di ajarkan untuk dapat berdamai dengan orang-orang disekitar kita. Hindarilah segala pertengkaran yang dapat merusak hubungan silaturrahmi kita.


DAFTAR PUSTAKA

Abdullah Taufik 1973 Islam di Indonesia , Jakarta, Tinta Mas Indonesia
Sunanto Musyrifah  2005 Sejarah Peradaban Islam Indonesia, Jakarta, Rajagarafindo Persada
www.sejarah Islam Nusantara.com
ww. masuknya Islam ke Indonesia.com
www.google.search.com
http://www.ujangarisman.com/2017/02/makalah-sejarah-masuknya-islam-ke.html

Posted by SahrulParawie
WAHANA BELAJAR & BERBAGI ANEKA DOKUMEN PENDIDIKAN Updated at: 5/13/2018 02:07:00 PM

No comments :

Post a Comment