makalah hakikat pendidikan sekolah dasar

Untuk Memudahkan Pencarian Dokumen Pendidikan Gunakan Filtur Pencarian di Bawah ini

makalah hakikat pendidikan sekolah dasar

BAB I
PENDAHULUAN

A.           Latar Belakang
Masyarakat dunia modern sangat menyadari pentingnya pendidikan. Pernyataan ini disimpulkan dari observasi terhadap fenomena real yang ada pada masyarakat sosial khususnya masyarakat Indonesia.
Untuk memahami lebih jauh tentang hakikat pendidikan maka kita dapat meninjau dari beberapa definisi pendidikan itu sendiri. Dalam bahasa Yunani pendidikan adalah paedagogik, yaitu ilmu menuntun anak. Orang Romawi melihat pendidikan sebagai edukasi, yaitu mengeluarkan dan menuntun, tindakan merealisasikan potensi anak.
Dalam kamus besar bahasa Indonesia, pendidikan berasal dari kata dasar didik dan kecerdasan pikiran. Sedangkan pendidikan sendiri memiliki pengertian, proses pengubahan sikap dan perilaku seseorang atau kelompok. Pengertian hakikat manusia adalah seperangkat gagasan tentang sesuatu olehnya Manusia adalah makhluk bertanya, ia mempunyai hasrat untuk mengetahui segala sesuatu. Dalam rentang ruang dan waktu manusia telah dan selalu berupaya mengetahui dirinya sendiri.
Setiap Negara mempunyai konsep pendidikan yang berbeda-beda sesuai alasan dan dasar pemikiran mereka terhadap sistem pendidikan mereka masing-masing. Seperti halnya Indonesia, tentu  saja memiliki konsep pendidikan tersendiri sebagaimana yaitu tercantum dalam undang-undang republik Indonesia nomor 20 tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional.
Karena pentingnya pendidikan, banyak orang bekerja keras untuk mendapat pendidikan secara efisien karena pendidikan diibaratkan sebagai sebuah emas yang diinginkan semua orang sehingga orang harus banyak menghadapi berbagai kendala tertentu untuk memperolehnya. Pendidikan juga masih terisolasi dengan berbagai macam faktor yang sangat berpengaruh terhadap mutu pendidikan itu sendiri baik itu yang bersifat positif atau membangun maupun bersifat sebaliknya sehingga sangat mempengaruhi perkembangan pendidikan.

B.            Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang Makalah “Hakikat Pendidikan Sekolah Dasar” di atas, maka penulis mengambil rumsan masalah sebagai berikut :
a.              Apa yang dimaksut dengan Pendidikan ?
b.             Apa tujuan dari Pendidikan tersebut ?
c.              Apa saja fungsi dari Pendidikan ?
d.             Apa saja karakteristik dari Pendidikan ?
e.              Apa saja prinsip-prinsip dari Pendidikan itu sendiri ?
f.              Jelaskan konsep Pendidikan ?
g.             Jelaskan Peranan Guru, Orang Tua, dan Masyarakat dalam Pendidikan SD ?

C.           Tujuan Penulisan
Berdasarkan uraian latar belakang dan rumusan masalah pada Makalah “Hakikat Pendidikan Sekolah Dasar” di atas, maka tujuan dari penulisan ini adalah sebagai berikut:
a.              Untuk mengetahui pengertian Pendidikan.
b.             Untuk mengetahui tujuan dari Pendidikan.
c.              Untuk mengetahui fungsi dari Pendidikan.
d.             Untuk mengetahui karakteristik  Pendidikan.
e.              Untuk mengetahui prinsip-prinsip  Pendidikan.
f.              Untuk mengetahui konsep Pendidikan ?
g.             Untuk mengetahui  Peranan Guru, Orang Tua, dan Masyarakat dalam Pendidikan SD.
h.             Untuk melengkapi tugas yang diberikan dosen Mata Kuliah Kapita Selekta Pendidikan.




BAB II
PEMBAHASAN

A.    Pengertian Pendidikan
Pendidikan memiliki kekuatan (pengaruh) yang dinamis dalam kehidupan manusia dimasa depan. Pendidikan dapat mengembangkan berbagai potensi yang dimilikinya secara optimal, yaitu pengembangan potensi individu dalam aspek fisik, intelektual, emosional, social, dan spiritual sesuai dengan tahap perkembangan serta karateristik lingkungan fisik dan lingkungan social budaya dimana dia hidup.
Dalam dictionary of education bahwa pendidikan adalah:
1.      Proses, dimana seseorang mengembangkan kemampuan, sikap, dan bentuk-bentuk tingkah laku lainnya di dalam masyarakat dimana dia hidup
2.      Proses sosial, dimana seseorang dihadapkan pada pengaruh lingkungan yang terpilih dan terkontrol (khususnya yang dating dari sekolah) sehingga dia dapat memperoleh atau mengalami perkembangan kemampuan sosial dan kemampuan individu yang optimum.
Pengertian tersebut mirip dengan pendapat G. Thompson (1957) yang menyatakan bahwa pendidikan adalah pengaruh lingkungan atas individu untuk menghasilkan perubahan-perubahan yang tetap didalam kebiasaan, pemikiran, sikap-sikap dan tingkah laku.
Di dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 2 Tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional atau yang lebih dikenal dengan sebutan UUSPN pasal 1 ayat 1 dinyatakan bahwa “Pendidikan adalah usaha sadar untuk menyiapkan peserta didik melalui kegiatan bimbingan, pengajaran, dan/atau latihan bagi peranannya di masa yang akan datang”.
Tilaar (1999:28) merumuskan hakikat pendidikan sebagai suatu proses menumbuhkembanglkan eksistensi peserta didik yang memasyarakat, membudaya, dalam tata kehidupan yang berdimensi lokal, nasional, dan global.
Rumusan hakikat pendidikan tersebut memiliki komponen-komponen sebagai berikut:
1.      Pendidikan merupakan proses berkesinambungan. Proses pendidikan mengimplikasikan bahwa peserta didik memiliki kemampuan-kemampuan yang immanent (tetap ada) sebagai makhluk sosial, dan juga mengimplikasikan bahwa manusia adalah makhluk yang tidak pernah selesai
2.      Proses pendidikan berarti menumbuhkembangkan eksistensi manusia. Artinya bahwa keberadaan manusia adalah suatu keberadaan interaktif
3.      Eksistensi manusia yang memasyarakat. Proses pendidikan adalah proses mewujudkan eksistensi manusia yang memasyarakat
4.      Proses bermasyarakat dan membudaya mempunyai dimensi waktu dan ruang. Proses tersebut dapat menembus dimensi masa lalu, kini dan masa depan. Selain itu berkat kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi komunikasi, proses pendidikan juga dapat menembus dimensi lokal, nasional, regional dan global. 
Dalam proses pendidikan terjadi proses perkembangan. Pendidikan adalah proses membantu peserta didik agar berkembang secara optimal, yaitu berkembang setinggi mungkin sesuai dengan potensi dan sistem nilai yang dianutnya dalam masyarakat. Pendidikan bukanlah proses memaksakan kehendak guru kepada peserta didik, melainkan upaya menciptakan kondisi yang kondusif bagi perkembangan anak yaitu kondisi yang memberi kemudahan kepada anak untuk mengembangkan dirinya secara optimal. Ini berarti bahwa didalam proses pendidikan anak aktif mengembangkan diri dan guru aktif membantu menciptakan kemudahan untuk perkembangan yang optimal itu.
Atas dasar pemahaman tentang beberapa definisi pendidikan maka dapat mendefinisikan Pendidikan Sekolah Dasar bukan hanya memberi bekal kemampuan intelektual dasar dalam membaca, menulis dan berhitung saja melainkan juga sebagai proses mengembangkan kemampuan dasar peserta didik secara optimal dalam aspek intelektual, social, dan personal untuk dapat melanjutkan pendidikan di SLTP atau sederajat.
Pendidikan dasar merupakan pendidikan yang lamanya 9 tahun yang diselenggarakan selama 6 tahun di sekolah dasar dan 3 tahun di sekolah lanjutan tingkat pertama atau satuan pendidikan yang sederajat
Beberapa ciri umum dalam pendidikan, yaitu:
1.      Pendidikan harus memiliki tujuan, yang pada hakikatnya adalah pengembangan potensi individu yang bermanfaat bagi kehidupan pribadinya maupun bagi warga Negara atau warga masyarakat lainnya
2.      Untuk mencapai tujuan tersebut, pendidikan perlu melakukan upaya yang disengaja dan terencana yang meliputi upaya bimbingan, pengajaran dan pelatihan.
3.      Kegiatan tersebut harus diwujudkan didalam lingkungan keluarga, sekolah dan masyarakat yang lazim disebut dengan pendidikan formal, informal dan nonformal

B.     Tujuan Pendidikan
Tujuan pendidikan SD sebagaimana halnya dengan tujuan satuan lembaga pendidikan lainnya harus selalu mengacu pada tujuan pendidikan nasional dan tujuan pendidikan dasar serta memperhatikan tahap dan karakteristik perkembangan siswa, kesesuaiannya dengan lingkungan dan kebutuhan pembangunan daerah, arah pembangunan nasional, serta memperhatikan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi serta kehidupan umat manusia secara global.
Tujuan pendidikan nasional, sebagaimana yang ditetapkan dalan GBHN adalah mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya, yaitu manusia yang beriman dan bertakwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi pekerti luhur, memiliki pengetahuan dan nalar, keterampilan, kesehatan jasmani dan rohani, kepribadian yang mantap dan mandiri, serta tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan.
Dengan mengacu pada tujuan nasional, sebagaimana yang ditetapkan di dalam Kurikulum Pendidikan Dasar (1993), tujuan pendidikan dasar adalah memberikan bekal kemampuan dasar  kepada siswa untuk mengembangkan kehidupannya sebagai pribadi, anggota masyarakat, warga Negara dan anggota umat manusia serta mempersiapkan siswa untuk mengikuti anggota.
Tujuan pendidikan SD mencakup pembentukan dasar kepribadian siswa sebagai manusia Indonesia seutuhnya sesuai dengan tingkat perkembangan dirinya, pembinaan pemahaman dasar dan seluk beluk ilmu pengetahuan dan teknologi sebagai landasan untuk belajar pada jenjang pendidikan yang lebih tinggi dan hidup dalam masyarakat. Tujuan pendidikan di SD yaitu:
1.      Memberikan kemampuan membaca, menulis dan berhitung
2.      Memberikan pengetahuan dan keterampilan dasar yang bermanfaat bagi siswa sesuai dengan tingkat perkembangannya
3.      Mempersiapkan siswa untuk mengikuti pendidikan di SLTP

C.    Fungsi Pendidikan
Fungsi yang sangat mendasar dan menonjol dari pendidikan SD adalah fungsi edukatif daripada fungsi pengajaran, dimana upaya bimbingan dan pembelajaran diorientasikan pada pembentukan landasan kepribadian yang kuat.
Fungsi pendidikan menurut Umar Tirtarahardja dan La Sula yaitu:
1.      Proses transformasi budaya
2.      Proses pembentukan pribadi
3.      Proses penyiapan warga negara
4.      Proses penyiapan tenaga kerja
Fungsi pendidikan SD harus mengacu pada fungsi pendidikan nasional yang intinya mengembangkan kemampuan dan meningkatkan mutu kehidupan, harkat dan martabat manusia dan masyarakat Indonesia dalam upaya mewujudkan tujuan pendidikan nasional.

D.    Karakteristik Pendidikan SD
1.      Siswa
Siswa SD adalah anak-anak yang berumur antara 6 – 12 tahun. Siswa SD, terutama yang dikelas-kelas awal, masih memandang dunia ini sebagai sesuatu  keseluruhan yang terpadu (pandangan holistik), contohnya korek api. Mereka hanya tahu itu korek api tanpa tahu bagian-bagian atau struktur yang menyusun korek api tersebut. Selain itu, variasi kemampuan siswa SD jauh lebih besar dari variasi siswa SLTP atau SLTA. Karena di SD menerima siswa tanpa melihat kemampuan dan latar belakang, tidak seperti SLTP atau SLTA yang melalui tes atau NEM sehingga kemempuan siswa relatife sama.

2.      Guru
Guru SD dianggap sebagai guru kelas karena setiap guru dituntut untuk mampu mengajarkan semua mata pelajaran di SD, kecuali agama dan penjaskes. Dia juga bertanggung jawab penuh akan kelas yang dipegangnya, mulai dari kehadiran siswa sampai pemberian rapor.


3.      Kurikulum
Secara umun kurikulum merupakan suatu program belajar bagi murid yang memiliki tujuan yang ingin dicapai pengalaman belajar yang diberikan dan strategi cara melaksanakan program tersebut. Fungsi kurikulum bagi siswa diharapkan agar mereka mendapat sejumlah pengetahuan dan kecakapan yang baru yang dapat dikembangkan dan melengkapi bekal hidup mereka setelah terjun kemasyarakat.

4.      Pembelajaran
Dasar-dasar pendidikan di SD  tak dapat terpisahkan dari tujuan pendidikan SD dan karakteristik siswa SD agar mendapatkan karakteristik pembelajaran yang ideal. Karakteristik pembelajaran di SD yaitu kegiatan konkret, kegiatan manipulatif, dan pembelajaran terpadu. Pembelajaran terpadu berusaha menyajikan satu topik secara utuh dan bermakna bagi anak, dengan cara mengaitkan topik-topik dari berbagai mata pelajaran, dan data dalam satu mata pelajaran itu sendiri. 
Ketiga karakteristik pembelajaran tersebut merupakan pencerminan dan tingkat perkembangan anak. Sehingga guru akan selalu berusaha menyajikan pengalaman belajar yang melibatkan kegiatan konkret, manipulatif, dan terpadu. Pengalaman belajar yang demikian disebut Developmentally Appropriate Practices (DAP), yaitu pengalaman belajar atau latihan yang sesuai dengan perkembangan anak.

5.   Gedung dan Peralatan Pembelajaran
Pada umumnya gedung SD terdiri dari 3-6 ruang kelas ,dan satu ruang guru. Berbeda halnya dengan dengan gedung dan peralatan  SD di daerah-daerah terpncil, tidak ada ruang khusus untuk perpustakaan atau administrasi bahkan ruang guru pun sering tidak tersedia. Namun jauh berbeda dengan gedung dan fasilitas di daerah perkotaan yang umumnya menpunyai ruang-ruang khusus dan peralatan pembelajaran yang jauh lebih lengkap.    

E.     Prinsip-pinsip Pendidikan di SD
Membahas tentang prinsip pendidikan berarti membahas tentang aturan hukum, sikap atau bagaimana seharusnya pendidikan. Prinsip-prinsip pendidikan yang dikemukakan di bawah ini diambil dari perspektif  pendidikan. Perspektif ini digunakan karena peserta didik atau siswa menjadi titik sentral dalam pendidikan. Perspektif di Negara kita masih kurang diperhatikan karena berbagai faktor, antara lain kebudayaan pendidikan kita memperlakukan anak. 
Sayidiman (2000), mengemukakan pendapatnya bahwa inti dari budaya pendidikan di Era Indonesia Baru adalah terwujudnya pendidikan guna menempatkan anak didik sebagai titik sentral. Sementara selama 32 tahun ini, yang menjadi titik sentral itu adalah pemerintah dengan segala peraturannya. Sekalipun seandainya yang menjadi titik sentral itu adalah guru sebagai pendidik langsung kepada siswa di sekolah, masih lumayan. Akan tetapi untuk masa depan hal ini pun masih kurang tepat, terlebih jika pemerintah yang menjadi titik sentral.
Sunaryo Kartadinata (1996), menjelaskan prinsip-prinsip perkembangan siswa SD dan kesepandanannya dengan prinsip-prinsip pendidikan SD. Prinsip-prinsip perkembangannya adalah berikut ini :
1.      Perkembangan adalah proses yang tidak pernah berakhir, oleh karena itu pendidikan atau belajar merupakan proses sepanjang hayat.
2.      Setiap anak bersifat individual dan berkembang dalam percepatan individual. Walaupun guru memahami dan memegang patokan atau target tertentu, namun guru harus tetap memperhatikan keragaman siswa secara individual dalamaspek fisik, psikis, dan sosial.
3.      Semua aspek perkembangan saling berkaitan. Pendidikan jasmani harus menjadi wahana bagi perkembangan aspek lainnya, begitu pula proses pembelajaran bidang studi lainnya harus selalu dikaitkan dengan berbagai aspek perkembangan anak.
4.      Perkembangan itu terarah dan dapat diramalkan. Perkembangan individu memiliki sekuinsi tertentu dan dapat menjadi arah perkembangan. Secara umum perkembangan manusia itu adalah sebagai berikut :
a.       Bergerak dari kepala ke kaki atau dari pusat ke bagaian.
b.      Bergerak dari struktur ke fungsi.
c.       Bergerak dari konkret ke abstrak.
d.      Bergerak dari egosentris ke perspektif menuju pemahaman.
e.       Bergerak dari heteronom ke otonom.
f.       Bergerak dari absolutisme ke relativisme.
g.      Bergerak spiral ke arah tujuan.
Menurut pendapat Sunaryo Kartadinata (1996: 68-71), Aspek keterpaduan perkembangan dan belajar, prinsip-prinsip pendidikan adalah sebagai berikut ini.
1.      Guru sekolah dasar harus selalu peduli dan memahami anak sebagai keseluruhan.
2.      Kurikulum dan proses pembelajaran di SD harus bersifat terpadu.
Prinsip yang relevan dan penting bagi pembelajaran ialah bahwa anak usia sekolah dasar harus dihadapkan kepada kegiatan aktif daripada kepada kegiatan pasif
Dari aspek perkembangan kognitif, prinsip-praktis bagi anak usia sekolah dasar adalah sebagai berikut :
1.      Kurikulum atau proses pembelajaran harus menyajikan bahan ajaran yang sepadan dengan perkembangan anak yang memungkinkan mereka melakukan eksplorasi, berpikir, dan memperoleh kesempatan untuk berinteraksi dan berkomunikasi dengan anak lain dan orang dewasa. Ini berarti bahwa kurikulum harus bermakna bagi anak itu sendiri.
2.      Prinsip praktis yang relevan dengan pembelajaran ialah bahwa anak usia sekolah dasar harus diberi kesempatan untuk bekerja dalam kelompok kecil, dan guru menciptakan kemudahan diskusi diantara anak dengan jalan memberikan komentar dan dukungan atas pendapat dan gagasan anak.
Dari aspek perkembangan sosial-emosional dan moral, prinsip praktis yang relevan adalah sebagai berikut ini.
1.      Guru perlu mengetahui pentingnya pengembangan hubungan kelompok positif serta mengembangkan kesempatan dan dukungan bagi kerja sama kelompok yang tidak sekedar mengembangkan ranah kognitif, tetapi juga meningkatkan interaksi sebaya
2.      Untuk mengembangkan perasaan mampu ini, anak usia sekolah dasar perlu memperoleh pengetahuan dan keterampilan yang diakui oleh budayanya sebagai sesuatu yang penting terutama kecakapan membaca, menulis, dan berhitung.
3.      Guru dan orang tua perlu membantu anak menerima kata hatinya dan memperoleh kemampuan mengendalikan diri.



F.     Konsep Pendidikan
Kecenderungan pemberian informasi yang lebih dari pada pengembangan kepribadian memberi kesan bahwa hanya bisa menampakkan kecerdasan intelektualnya saja (IQ). Pernyataan ini memberi uraian bahwa konsepsi ini menyebabkan peranan sekolah terpisah dari pengalaman hidup nyata sehari-hari di samping kurang adanya perhatian terhadap semua bentuk sumber belajar yang ada dalam masyarakat. Pemahaman tentang konsep ini begitu dominan, sehingga pembaharuan pendidikan selalu diartikan pembaharuan isi dari kurikulum yang sudah ditetapkan. Bahkan ada kecenderungan bekal hidup yang diberikan kepada peserta didik terlalu berat, sehingga bobot kegiatan belajar merupakan beban yang tak tertanggungkan bagi peserta didik maupun bagi guru, karena waktu yang disediakan terbatas.
Pengembangan konsep pendidikan selanjutnya mengarah kepada pengertian yang lebih lengkap. Batasan pendidikan lebih mengacu kepada pendapat para ahli yang mengartikan pendidikan sebagai usaha yang disengaja dan sadar untuk mengembangkan kepribadian anak untuk menjadi anggota masyarakat. pandangan tentang hakikat manusialah yang menjadi dasar untuk membina kepribadian anak manusia dan menyiapkan mereka menjadi anggota masyarakat.
Konsep pendidikan selanjutnya adalah konsep pendidikan yang menyatukan semua kegiatan pendidikan, baik yang terjadi dalam sekolah, maupun di luar sekolah (dalam keluarga dan masyarakat), secara terpadu yang berlangsung sepanjang hayat, yang oleh UNESCO disebut pendidikan seumur hidup terpadu life long integrated education.
Konsep pendidikan seperti terkemuka mengandung dua pengertian esensial yaitu pendidikan berlangsung sepanjang hayat manusia dan pendidikan merupakan kegiatan terpadu antara kegiatan pendidikan dalam sekolah dan di luar sekolah.
Pengertian pertama menegaskan bahwa pendidikan mengembangkan potensi-potensi dan sikap subjek didik secara maksimal tanpa mengenal batas usia. Konsep ini tidak sependapat dengan pendidikan yang hanya mempersiapkan anak untuk menjadi anggota masyarakat atau mempersiapkan kedewasaan saja.
Pengertian yang kedua, pendidikan seharusnya dapat mengintegrasikan pendidikan yang bermacam-macam dalam masyarakat baik pendidikan sekolah, pendidikan dalam masyarakat dan pendidikan di tempat kerja. Pendidikan di luar sekolah kadang kala lebih intensif memberikan  pengetahuan dan keterampilan pada bidang tertentu namun faktanya sekolah adalah lembaga pendidikan yang membawa anak ke dalam posisi sosial. Keadaan seperti mi menimbulkan kehidupan sosial yang kurang sehat, karena kadang kala pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh melalui bermacam-macam pendidikan di luar sekolah yang justru sangat penting untuk mengembangkan ekonomi atau kehidupan manusia kurang mendapat tempat.
G.    Peranan Guru, Orang Tua, dan Masyarakat dalam Pendidikan SD
1.      Peranan Guru dalam Pendidikan SD
Bagi siswa SD, terutama di kelas rendah, guru merupakan panutan. Siswa lebih percaya apa yang diajarkan gurunya daripada yang diajarkan orang tua mereka. Itu menunjukan tinggiya kepercayaan dan kepatuhan anak-anak SD kepada guru.
Dalam Peraturan Pemerintahan (PP) No. 38 tahun 1990 ada dua ketentuan tentang Tenaga Kependidikan dalam mengkaji peranan guru dalam pendidikan dasar, yaitu :
a.       Tenaga kependidikan adalah anggota masyarakat yang mengabdikan diri secara langsung dalam penyelenggaraan pendidikan.
b.      Tenaga pendidikan adalah tenaga kependidikan yang bertugas membimbing, mengajar, dan melatih peserta didik.
Guru tergolong ke dalam tenaga pendidik yang berperan membimbing, mengajar, dan melatih. Sebagai tenaga pendidik, seorang guru SD juga harus mampu berperan sebagai pembimbing , pengajar, dan pelatih. Peran sebagai pembimbing merupakan peran yan g sangat menentukan sehingga diharapkan guru mampu manjadi panutan yang patut digugu dan ditiru.
Peran guru sebagai pengajar , tidak hanya dituntut sebagi pengajar tetapi sebagai pengajar yang mengajar. Dalam menjalankan perannya, guru SD diangkat sebagai guru kelas harus mampu mengajar semua mata pelajaran di SD kecuali penjaskes dan agama. Selain mampu berperan sebagai pengajar guru SD juga dituntut menguasai berbagai strategi mengajar, cara merencanakan dan melaksanakan pembelajaran.
Sedangkan peran guru sebagai pelatih, tampaknya tidak terlalu banyak dituntut bagi guru SD. Karena peran guru sebagai pelatih lebih banyak dilakukan oleh para pendidik kepada peserta didik dewasa. Sedangkan guru SD lebih diutamakan berperan sebagai pengajar yang mendidik, karena siswa SD lebih memerlukan bimbingan dan pengajaran.

2.      Peranan Orang Tua dalam Pendidikan SD
Seperti ketentuan dalam GBHN yang menyatakan bahwa pendidikan menjadi tanggung jawab utama antara keluarga, sekolah dan masyarakat. Peran utama orang tua adalah tentunya memasukan anaknya yang berusia 6 tahun ke SD, yang sebagian besar orang tua sudah melakukannya dengan baik tapi ada juga orang tua yang tidak memasukan anaknya yang sudah cukup umur ke SD dengan berbagai macam alasan.
Selain itu orang tua juga berperan membantu penyelenggaraan pendidikan, dengan cara bergabung dalam Badan Pembantu Penyelenggaraan Pendidikan (BP3) yang dibentuk oleh sekolah yang beranggotakan para orang tua siswa. Peran orang tua dalam PB3 adalah membantu kelancaran pendidikan, dan memikirkan berbagai upaya untuk meningkatkan mutu pendidikan, tetapi banyak orang tua yang menganggap peran orang tua dalam PB3 adalah dengan memberi sumbangan berupa dana pendidikan.

3.      Peranan Masyarakat dalam Pendidikan SD
Peran serta masyarakat dalam pendidikan suatu dalam BAB XIII Pasal 47 Undang-Undang No. 20 tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional, yang berbunyi:
a.       Masyarakat sebagai mitra Pemerintahan berkesempatan yang seluas-luasnya untuk berperan dalam  penyelenggaraan pendidikan nasonal.
b.       Ciri khas satuan pendidikan yang diselenggarakan oleh masyarakat tetap diindahkan.
c.       Syarat-syarat dan tata cara dalam penyelenggaraan ditetapkan dengan peraturan pemerintahan.
Dari butir-butir diatas dapat diketahuai bahwa peran masyarakat sebagai mitra pemerintahan, yaitu pihak yang bekerja bersama-sama dalam rangka menyelenggarakan pendidikan. Tata cara penyelenggaraan pendidikan tercantum dalam PP No. 28/1990. BAB IV PAsal 5, ayat 1 menyebabkan bahwa “Pendirian satuan pendidikan Dasar oleh pemerintahan atau masyarakat harus memenuhi persyaratan tersedianya :
a.       Sekuang-kurangnya sepuluh siswa;
b.      Tenaga kependidikan terdiri atas sekurag-kurangnya seorang guru untuk setiap kelas bagi Sekolah Dasar;
c.       Kurikulum berdasarkan kurikulum nasional yang berlaku;
d.      Sumber dana tetap yang menjamin kelangsungan penyelenggaraan pendidikan dan tidak ada merugikan siswa;
e.       Tempat belajar; serta
f.       Buku pelajaran dan peralatan pendidikan siswa yang diperlukan.
Dalam menjalankan perannya sebagai mitra pemerintah masyarakat dapat membentuk Yayasan , Badan atau Lembaga yang khusus menanggani satuan pendidikan. Di dalam PP No. 28 tahun 1990 juga ditetapkan bahwa satuan pendidikan dasar yang didirikan oleh masyarakat diselenggarakan oleh yayasan atau badan yang bersifat sosial, yang berarti bahwa yayasan tidak boleh berorientasi pada kepentingan untuk mencari keuntungan. Karena yayasan haruslah berdasarkan serta membantu mencerdaskan kehidupan bangsa dalam rangka mencapai tujuan pendidiakn nasional.
Selain sebagai penyelenggara pendidikan, yayasan juga dapat berperan sebagai donatur bagi berlangsungnya satuan pendidikan tertentu. Dalam hal ini, satuan pendidikan tertentu dapat berkerja sama dengan masyarakat di dunia bisnis dan para dermawan, untuk memperoleh sumber dana dalam rangka perluasan kesempatan belajar dan peningkatan mutu pendidikan.
Masyarakat juga berperan untuk mengklasifikasikan anak usia SD yang belum disekolahkan. Disinilah peran masyarakat yang sangat penting, karena masih ada anak-anak usia SD yang belum sekalah.




BAB III
PENUTUP


A.    Kesimpulan
Hakikat pendidikan adalah upaya sadar untuk mengembangkan potensi yang dianugerahkan Tuhan kepada manusia dan diarahkan pada tujuan yang diharapkan agar memanusiakan manusia atau menjadikannya sebagai manusia, manusia utuh.  Hakikat pendidikan ini dapat terwujud melalui proses pengajaran, pembelajaran,pembersihan dan pembiasaan,dan kompetensi dengan memperhatikan kompetensi paedagogi berupa profesi, kepribadian dan sosial. Pendidikan menumbuhkan budi pekerti, kekuatan batin, karakter, pikiran dan tubuh peserta didik yang dilakukan secara integral tanpa dipisah-pisahkan.

B.     Saran
Makalah ini tentunya disana-sini masih terdapat kelemahan ataupun kekurangan maka penulis mengharapkan kritik dan saran yang konstruktif dari pihak manapun demi kesempurnaan makalah ini,
Dan semoga Materi yang tercantum di makalah ini dapat menambah wawasan pengetahuan kita tentang pendekatan dan model pembelajaran di SD dan dapat bermanfaat bagi kita semua.



DAFTAR PUSTAKA

https://www.academia.edu/30228528/Makalah_Hakekat_Pendidikan_SD

https://miftahuljanah152.blogspot.co.id/2016/05/hakikat-pendidikan-sekolah-dasar.html?showComment=1526516130696#c1621042940581469479


Posted by SahrulParawie
WAHANA BELAJAR & BERBAGI ANEKA DOKUMEN PENDIDIKAN Updated at: 5/17/2018 01:57:00 AM

No comments :

Post a Comment