Apa itu nifas dan apa yang dialami oleh Ibu saat nifas

Untuk Memudahkan Pencarian Dokumen Pendidikan Gunakan Filtur Pencarian di Bawah ini

Apa itu nifas dan apa yang dialami oleh Ibu saat nifas

Bagaimana Menyikapi Nifas?
Setelah melewati saat-saat persalinan yang melelahkan, seorang ibu akan mengalami masa nifas. Ibu perlu mengetahui hal-hal apa saja yang akan dialaminya saat nifas, meliputi perubahan-perubahan yang terjadi, cara perawatan, infeksi nifas serta pencegahannya. Ibu tak perlu khawatir berlebihan dalam menjalani masa nifas. Dengan persiapan matang dan dukungan keluarga, insya Allah ibu dapat melaluinya dengan baik.

Apa yang Dialami Ibu Saat Nifas?
Setelah melahirkan, organ reproduksi ibu berangsur-angsur akan pulih kembali seperti keadaan sebelum hamil. Suhu badan setelah melahirkan dapat naik lebih dari 0,5°C dari keadaan normal (36-37°C) tapi tidak lebih dari 39°C. Sesudah 12 jam pertama melahirkan umumnya suhu badan kembali normal. Bila lebih dari 38°C, harus dipikirkan kemungkinan terjadinya infeksi nifas.

Setelah lahir, bayi bisa langsung disusui jika ibu sudah siap. Pada hari pertama akan keluar kolustrum, yaitu cairan kuning yang lebih kental daripada air susu. Jangan ragu untuk memberikan kolustrum pada bayi Anda, walaupun warnanya kuning (tidak seperti susu biasa) tapi kolustrum sangat baik untuk bayi karena mengandung protein albumin, globulin, dan benda-benda kolustrum.

Perasaan mulas setelah melahirkan terjadi akibat kontraksi rahim. Hal ini kadang sangat mengganggu selama 2-3 hari setelah melahirkan dan biasanya lebih sering terjadi pada ibu multipara (sudah pernah melahirkan lebih dari 1 kali) dibandingkan primipara (baru pertama kali melahirkan). Perasaan mulas lebih terasa saat menyusui dan dapat pula timbul bila masih ada sisa selaput ketuban, sisa plasenta, atau gumpalan darah dalam rahim. Untuk kasus seperti ini, dokter akan memberikan obat pada ibu. Jika ibu mengalami perdarahan, segera bawa ibu ke bidan atau dokter. Ibu akan mendapat obat untuk menghentikan perdarahan dan dianjurkan untuk tirah baring (tiduran) serta harus mengurangi aktivitasnya.

Selama nifas, ibu akan mengeluarkan cairan yang berasal dari rahim, cairan ini disebut "lokia". Pada hari pertama dan kedua ibu akan mengeluarkan lokia rubra atau lokia kruenta, berupa darah segar bercampur sisa selaput ketuban dan lain-lain. Hari berikutnya keluar lokia sanguinolenta, berupa darah bercampur lendir. Setelah satu pekan, keluar lokia serosa yang berwarna kuning dan tidak mengandung darah. Setelah dua pekan, keluar lokia alba yang  hanya berupa cairan putih. Biasanya lokia berbau agak amis. Bila berbau busuk, mungkin terjadi lokiostasis (lokia tidak lancar keluar) dan infeksi.

Buang air kecil harus secepatnya dilakukan oleh ibu sendiri. Bila kandung kemih penuh dan tidak bisa buang air kecil, akan dilakukan pemasangan selang/kateter untuk mengeluarkan air seni supaya otot-otot kandung kemih dapat beristirahat.

Buang air besar harus segera dilakukan tiga hari setelah melahirkan. Sulit buang air besar hingga skibala (tinja yang mengeras) tertimbun di rektum bisa menyebabkan terjadinya demam. Dokter akan menganjurkan banyak minum dan mengkonsumsi makanan berserat (sayur dan buah), jika perlu juga diberikan obat pencahar. Kesulitan buang air kecil dan buang air besar insya Allah bisa diatasi dengan melakukan mobilisasi (duduk, jalan) secepatnya.

Perawatan Ibu yang Sedang Nifas

Setelah melahirkan, ibu harus cukup istirahat. Delapan jam setelah melahirkan, ibu harus tidur telentang untuk mencegah perdarahan. Setelah itu, ibu boleh miring ke kiri atau ke kanan untuk mencegah trombosis.

Ibu dan bayi ditempatkan pada tempat yang sama supaya terjalin kontak fisik dan psikis (kejiwaan) yang erat. Hal ini juga akan memudahkan dalam melakukan aktivitas menyusui.

Makanan yang diberikan harus sehat, cukup kalori, protein, dan serat (sayur, buah).

Bila perlu ibu bisa melakukan senam nifas secara bertahap (bisa dimulai sejak hari kedua melahirkan). Senam nifas mempunyai banyak manfaat antara lain membantu melancarkan sirkulasi darah, membantu mengembalikan kedudukan otot kandungan, menguatkan otot- otot perut, otot-otot dasar panggul (tempat diantara kedua paha) dan pinggang, membentuk sikap tubuh, serta membantu memperlancar produksi ASI (Air Susu Ibu). Salah satunya dengan melakukan gerakan-gerakan sebagai berikut :
  • Ibu telentang lalu kedua kaki ditekuk, kedua tangan diletakkan di atas dan menekan perut. Lakukan pernafasan dada lalu pernafasan perut.
  • Dengan posisi yang sama, angkat pantat lalu taruh kembali.
  • Kedua kaki diluruskan dan disilangkan lalu kencangkan otot seperti menahan buang air kecil dan buang air besar.
  • Duduklah di kursi, perlahan bungkukkan badan sambil tangan berusaha menyentuh tumit.

Ibu dianjurkan untuk memeriksakan diri enam pekan setelah melahirkan. Pemeriksaan dilakukan untuk melihat keadaan umum ibu secara menyeluruh dan menindaklanjuti jika ada keluhan-keluhan setelah melahirkan.

Mengenal Infeksi Nifas

Salah satu kelainan yang dapat ditemukan selama nifas adalah "infeksi nifas". Infeksi nifas adalah infeksi bakteri pada saluran genital (kemaluan) yang terjadi setelah melahirkan yang ditandai dengan kenaikan suhu tubuh sampai 38°C atau lebih selama dua hari, terjadi dalam sepuluh hari setelah melahirkan tapi dengan mengecualikan 24 jam pertama.

Tanda-tanda infeksi nifas sangat bervariasi tergantung bagian yang terinfeksi dan keparahannya, antara lain :
  •  Demam tinggi (38°C atau lebih), kadang disertai menggigil.
  •  Rasa panas dan nyeri pada tempat infeksi
  • Kadang-kadang tersa perih saat buang air kecil.
  •  Ibu terlihat sakit dan sangat lemah
  • Jika ditemui tanda-tanda seperti yang tersebut di atas, segeralah membawa ibu ke tempat pelayanan kesehatan untuk mendapat penanganan yang sesuai.

Faktor Risiko Terjadinya Infeksi Nifas

 Ada beberapa faktor risiko yang memperbesar kemungkinan terjadinya infeksi nifas, antara lain:
  • Setiap keadaan yang menurunkan daya tahan tubuh ibu, seperti perdarahan, kelelahan, gizi buruk, preeklamsi, eklamsi, infeksi lain yang diderita ibu, penyakit jantung, TBC paru, pneumonia, dan lain-lain.
  • Ibu dengan proses persalinan lama, persalinan yang tidak terduga (mendadak) sehingga kurang tertangani dengan baik, atau ketuban pecah lama.
  •  Ibu yang menjalani tindakan operasi, baik lewat jalan lahir maupun  perut.
  •  Tertinggalnya sisa ari-ari, selaput ketuban, atau bekuan darah dalam rahim.

Pencegahan Infeksi Nifas

Ada beberapa hal yang bisa dilakukan untuk mencegah terjadinya infeksi nifas, antara lain :
  • Sebaiknya ibu memperhatikan kondisi kesehatannya selama hamil, segera periksa ke bidan atau dokter jika ada keluhan.
  • Minum tablet besi secara teratur untuk mencegah terjadinya anemia.
  • Konsumsi makanan yang bersih, sehat, cukup kalori, protein, dan serat (sayur, buah).
  • Minum air dalam jumlah yang cukup.
  • Ibu hendaknya memilih tenaga penolong persalinan yang terlatih, supaya proses persalinan terjamin kesterilannya.
  • Selama nifas, jalan lahir harus dijaga kebersihannya, apalagi jika terjadi perlukaan yang memerlukan perawatan khusus.

Apakah Postingan ini Keren Bermanfaat Guys? Please Bantu Viralkan Guys!

URL:HTML:BB(forum):
Posted by SahrulParawie
WAHANA BELAJAR & BERBAGI ANEKA DOKUMEN PENDIDIKAN Updated at: 5/25/2018 10:26:00 AM

No comments :

Post a Comment