NASKAH DRAMA ARTI PERSAHABATAN - WAHANA BELAJAR & BERBAGI ANEKA DOKUMEN PENDIDIKAN

NASKAH DRAMA ARTI PERSAHABATAN


Suasana pagi cerah di SMPN Pelita Harapan Jakarta mengiringi sebuah kisah keempat sekawan dengan karakter yang berbeda-beda. Namun perbedaan tersebut tidak menjadikan mereka berempat berselisih, tetapi menjadikan mereka mascot dalam persahabatan yang sejati. KARA, MIMI, IGO, dan AFIKA, itulah nama mereka. Mereka selalu kompak dan tampak ceria setiap hari. Jadi tidak heran jika mereka memiliki ribuan teman. Ke epat sekawan tersebut berbincang-bincang sambil berjalan di koridor sekolah.
IGO     : "Hey sob, sebentar lagi kita UAN nich, pastinya waktu untuk kumpul-kumpul kita akan tersita buat belajar. Gimana nich?"
MIMI   : "Iya bener juga Zha, jadwal kita bakalan jungkir balik gara-gara persiapan UAN. Jadwal shopping, ke salon, creambath, manypadhy, dan pastinya jadwal kencan bareng bakalan ancur. Aduch, bisa-bisa rambut aku rontok nich."
KARA : "Gak segitunya kalik, tergantung kita juga. Jika kita rajin menabung ilmu, maka kita tidak akan sibuk belajar."
MIMI   : "Ah kamu ini Cha, mentang-mentang anak pintar jadinya sok ceramah. Huh nyebelin."
IGO     : "Sudah-sudah jangan berdebat, apa yang di omongin KARA itu ada benarnya juga. Coba dech kalian bayangin, jika kita rajin belajar kita tidak perlu sibuk-sibuk mikirin UAN, itung-itung siap senjata dulu sebelum perang. Enjoy aja lagi, bener gak?"
MIMI   : "Iya-iya Bu guru. Belum masuk kelas aja sudah dapat ceramah dari Ibu KARA dan Ibu IGO, capek dech."
AFIKA : "Ha…ha…ha…MIMI MIMI dari dulu penyakit marah kamu gak sembuh-sembuh yach." (Dengan nada ngeledek)
KARA : "Maklumlah dia itukan The Queen of Angry in the World."
IGO     : "KARA ini sukanya kok ngledekin aku terus. Kalau ngefans sama aku bilang aja dech."
KARA : "Ih, gak banget dech."

Bel masuk kelas berbunyi, merekapun masuk kelas untuk mengikuti pelajaran. Waktu cepat berlalu, tak terasa sudah saatnya pulang sekolah.
MIMI   : "Guys, mau ke mana nich? Kalian mau langsung pulang atau mau shopping dulu?"
AFIKA   : "Maybe, I go home now because I'm tired. Seharian ulangan terus."
KARA : "Iya sama. Aku juga mau langsung pulang banyak tugas yang harus di kerjakan plus jadwal les aku yang numpuk banget. Maklumlah, aku itukan orang sibuk." (Seraya tertawa)
IGO     : "Aduch, jadi anak kelas tiga capek banget ya. Dikit-dikit tugas, dikit-dikit ulangan pusing."
KARA : "Namanya juga sekolah."

Hari demi hari berganti, namun ada keganjilan dari sikap KARA, sehingga terjadi perselisihan di antara mereka.
MIMI   : "Cha, akhir-akhir ini kamu kok sibuk banget yach? Sampai-sampai sahabat sendiri di lupain."
KARA : "Sorry dech. Akhir-akhir ini aku sibuk ngerjain tugas, les, and belajar buat persiapan UAN nanti."
IGO     : "Yakin kamu nggak bohong sama kita?"
KARA : "Emh, beneran kok. Masak sich kalian nggak percaya sama sahabat sendiri."
MIMI   : "Bukan gitu, akhir-akhir ini kita liat kamu pulang lebih awal, kalau kita ajak kumpul-kumpul, kamu ada aja alasan inilah, itulah, HP kamu juga tidak pernah aktif."
AFIKA   : "Iya, juju raja lagi."
KARA : "Nggak ada apa-apa kok guys. Sudah jangan di bahas. Nggak ada topik lain yach?" (Mulai menitikan air mata)
IGO     : "Kamu kenapa sich Cha? Cerita dong sama kita."
MIMI   : "Ayo dong Cha cerita sama kita.
KARA : "Aku nggak kenapa-kenapa kok guys. Kenapa sich kalian nggak percaya?"
AFIKA : "Ugh tau wes. Kamu sudah nggak nganggep kita sahabat lagi."
KARA : "Iya dech aku cerita."
AFIKA : "Nah gitu dong. Dari tadi kenapa ceritanya."

Ternyata KARA ada masalah dengan orang tuanya, dan masalah itu membuat KARA tidak semangat untuk belajar. Saat pulang sekolah IGO, MIMI, dan AFIKA berkumpul di rumah AFIKA.
MIMI   : "Guys aku kasian nich sama KARA, dia les uterus." (Dengan wajah memelas)
AFIKA   : "Emang kamu punya rasa kasian?" (Dengan nada meledek)
IGO     : "Sudahlah nggak usah berantem terus. Tau nggak, kalian itu seperti kucing dan tikus, rebut melulu."
AFIKA   : "Iya aku tau, sorry dech."
IGO     : "Gimana kalau kita tanya ke orang tuanya KARA aja? Jadi kita tau apa yang sebenarnya terjadi antara KARA dengan orang tuanya."


Akhirnya mereka bertiga datang ke rumah KARA, dan kebetulan pada saat mereka ke rumah KARA, dia sedang les. Setelah mereka dipersilahkan masuk, mereka berbincang-bincang dengan Ibu KARA. Mereka bertiga menanyakan apa yang terjadi antara KARA dengan orang tuanya. Setelah bercerita panjang lebar, dan mereka telah mengetahui apa penyebabnya, mereka mohon undur diri kepada Ibu KARA.
Keesokan harinya MIMI, IGO, dan AFIKA menghampiri KARA yang sedang duduk termenung di dalam kelas.
AFIKA: "Woi." (Seraya mengagetkan KARA)
KARA : "Apa-apaan kalian ini, bikin aku kaget aja!"
IGO     : "Kok kamu jadi nyalahin kita Cha? Kamu sich pagi-pagi sudah ngelamun, kena setan sekolah baru tau rasa kamu." (KARA, MIMI, AFIKA, dan IGO tertawa bersama)
AFIKA : "Cha, kita sudah tau kenapa akhir-akhir ini sikap kamu jadi aneh."
KARA : "Kalian bicara apa sich, aku nggak ngerti?"
MIMI : "Ampun dech KARAku sayangku cintaku sahabatku jangan tulalit donk. Sudah jelas kita ini lagi bahas sikap kamu yang berubah 180o."
IGO     : "Bener Cha, kita udah tau semuanya."
KARA : "Kalian ini ada-ada aja, aku biasa aja kalian malah bilang aku berubah segala. Emang apa yang berubah? Aku tetap KARA yang dulu."
AFIKA : "Nggak Cha, kaum berubah semenjak kamu punya masalah dengan orang tua kamu."
KARA : "Emang kalian tau apa tentang masalah aku ini? Kalian itu nggak tau apa-apa!" (Dengan nada membentak)
AFIKA : "Kamu salah Cha, kita tau semuanya."
KARA : "Maksudnya kalian tau masalhku dengan orang tuaku?" (Dengan nada terbata-bata)
MIMI : "Yups betul betul betul."
KARA : "Tapi gimana kalian bisa?"
AFIKA : "Iya kita tau dong. Kemarin kita bertiga sengaja ke rumah kamu buat tanya masalah ini ke ibu kamu, dan ibu kamu cerita semuanya ke kita."
KARA : "Napa sich kalian ngelakuin hal ini? Lagian kalian bisa langsung tanya sama aku."
AFIKA : "Kita ngelakuin hal ini karena kita kasian liat kamu kayak gini Cha?"
IGO     : "Kita sudah tanya sama kamu tentang hal ini, tapi kamu cuma bilang ada masalah sama orang tua kamu. Kamu nggak jelasin apa masalah yang sebenarnya. Ya udah kita cari tau aja sendiri
MIMI : "Terus kita tanya ke ibu kamu dan kita tau kamu kayak gini karena HP sama fasilitas yang kamu punya di tarik sama ibu kamu kan?"
KARA : "Iya, HP sama fasilitas yang ada buat aku ditarik sama orang tua aku. Karena itu aku nggak semangat belajar, lagian tanpa itu semua rasanya hampa. Untung I-pod aku nggak ikut di sandra." (Sambil mengeluarkan I-pod miliknya)
MIMI : "What, I-pod baru Cha! Pinjem dong?"
KARA : "Dasar kamu nggak bisa liat barang bagus sedikit."
MIMI : "Aduch, please dech Cha, tinggal pinjemin aja apa susahnya sich?"
KARA : "Iya ini aku pinjemin, tapi jangan sampai rusak ya?"
MIMI : "Gitu dong, dri tadi napa? Masak pakai ceramah dulu?"
KARA : "Anak ini udah di pinjemin masih aja nyebelin, dasar Miss Lebay."
IGO     : "Kalian ini kok malah rebut soal I-pod sich? Kalian nggak inget kita seKARAng lagi bahas tentang apa?"
AFIKA : "Lebih baik seKARAng kita kembali ke permaslahan awal. Oke?"
KARA, MIMI, IGO : "Oke dech."
AFIKA : "Menurut aku sikap orang tua kamu ada benarnya juga Cha. Jadi, kamu nggak perlu jadi pendiam kayak gini. Bawa Enjoy aja Cha."
KARA : "Emang bener. Tapi, tanpa semua itu aku jadi tambah malas belajar karena bosen nggak ada hiburan. Aku sudah cukup tertekan harus belajar terus menerus. Orang tua aku nggak peduli sama aku lagi, mereka selalu nuntut ini, itu tapi mereka nggak mikir gimana perasaanku. Merek hanya tau keinginan mereka harus terpenuhi, tanpa berfikir kemampuan aku. Mereka egois!" (Sambil menangis)
IGO     : "Sudah hapus aia mata kamu. Lebih baik seKARAng kita cari jalan keluarnya."
MIMI : "Aha, aku punya ide, aku punya ide, ide ini bagus, ide ini untuk kita."
KARA, MIMI, AFIKA : "Apa? Dasar Miss Lebay."
MIMI : "Emh, bagaimana kalau kita batasi pemakaian fasilitas yang ada. Selama inikan setiap hari, setiap jam, setiap menit and setiap detik kita selalu tergantung sama fasilitas yang ada."
KARA : "Bener juga kamu Ra. Aku jadi sadar, kalau kita selalu tergantung sama fasilitas yang kita punya, kita bakalan jadi anak manja dan selalu tergantung sama apa yang ada. Emang susah buat kita merubah kebiasaan yang sudah mengakar di dalam diri kita. Tapi, apa kalian bisa ninggalin itu semua? Biar aku aja yang menjalankan ini semua. Aku punya sahabat seperti kalian juga sudah cukup buat aku. tapi aku masih butuh paling tidak HP sich." (Mereka tertawa bersama)
MIMI : "Emh, gimana ya?"
AFIKA : "Aku bisa kok. Ra, inikan ide kamu, kok malah kamu yang jadi ragu sich?"
MIMI : "Uh, tadi aku nggak usul enak yach. Tapi, aku bisa kok. Demi sahabat aku tersayang. Tapi sesekali nggak apakan?"
AFIKA : "Ya nggak apalah. Namanya juga masih proses. Tpi jangan terlalu sering yach?"
IGO     : "Intinya kita setuju sama usul MIMI tadi. Lagian selayaknya sahabat sejati itu selalu ada buat sahabatnya yang lagi butuh bantuan. Kamu sedih, kita juga ikut sedih Cha. Karena kita merasa ada yang hilang. Kita juga ngerasa nggak enak kalau kita having fun, tapi kamunya malah sedih, susah, campur aduk dech. Lagian kita juga harus konsentrasi sama UAN. Bener nggak?"
KARA : "Bener, kalau gitu terima kasih ya guys."
MIMI, AFIKA, IGO : "Sama-sama. Kita sayang kamu Cha." (Sambil berpelukan)
Akhirnya mereka berempat menyepakati perjanjian yang tadi diusulkan MIMI. Mereka berharap hal ini dapat memberikan hasil yang baik pada UAN nanti.



SAHABAT PATRIOTIK

Oleh: Mandes Handoko, S.S.
Pemain
1. Andi
2. Anto
3. Arsyi
4. Arlina
5. Ibu Kumala

Hari ini adalah hari, hari yang sangat melelahkan bagi beberapa siswa SMA Kalausang. Pagi ini beberapa siswa sma ini yaitu Andi, Anto, Arman, Arsyi dan Arlina harus berangkat lebih pagi karena mereka harus menyiapkan upacara bendera.
Andi         : Bagaimana To, apakah semuanya sudah siap?
Anto         : Seperti biasa, semua siap dan tepat pada waktunya.
Andi         : Bagus, hari ini kita akan membuat record baru tentang kemampuan kita.
Anto         : Pastinya..
Saat mereka sedang bercakap-cakap Arsyi dan Arlina menghampiri mereka
Arsyi        : Pagi ini terasa hambar, semua berjalan seperti biasanya. Teman-teman kita sepertinya telah memahami benar tanggung jawab dan kewajibannya.
Arlina       : Bener tuh kawan, jam segini semua persiapan telah beres tinggal action..
Anto         : Ya begitulah seharusnya.. Kita disini untuk menuntut ilmu sebanyak-banyaknya. Tapi dimana Ibu Kumala, kenapa tidak kelihatan?
Arsyi        : Ibu Kumala sudah sejak tadi siap di post, tinggal nunggu waktu..
Arlina       : Kayanya sekarang sudah harus dimulai deh upacaranya…
Andi         : Ok bener tuh, yaudah sekarang kita langsung ke post masing-masing sambil nunggu komando dari Ibu Kumala.

Mereka kemudian berlari menuju post masing-masing untuk melakasnakan upacara bendera setiap hari senin. Seperti biasanya, upacara berjalan hikmat tanpa ada gangguan sedikitpun dan setelah selesai upacara anak-anak langsung berlari ke kelas masing-masing.
Andi, Anto, Arsyi dan Arlina pun langsung menuju ke kelas mereka.
Andi         : To, sepertinya akan ada sesuatu yang terjadi hari ini?
Anto         : Maksud kamu apa?
Andi         : Aku sendiri kurang tahu tapi perkataan Bu Kumala tadi sepertinya serius mengenai penurunan prestasi belajar anak-anak sekolah kita.
Arsyi        : Iya tuh, aku juga merasakan hal yang sama, sepertinya ada penekanan-penekanan tertentu saat Bu Kumala menyampaikan beberapa kemungkinan alasan merosotnya prestasi belajar siswa tadi.
Arlina       : Semoga ini tidak seperti apa yang aku takutkan…
Arsyi dan Anto: Maksud kamu apa Lin?
Arlina       : Panjang kalau harus diceritakan sekarang…

Belum selesai perbincangan mereka saat menuju kelas, tiba-tiba bu Kumala menghampiri mereka.
Bu Kumala : Anak-anak, ibu ada sedikit keperluan dengan kalian..
Arsyi           : Ada apa bu?
Bu Kumalah: Ini sangat penting jadi kita bicarakan ini saja di kantor ibu, jadi nanti sepulang sekolah kalian ke kantor ibu sebentar ya..
Anto         : Oo..iya bu, nanti kami kekantor.
Bu Kumala: Yasudah… kalian cepat masuk kelas karena pelajaran sudah akan dimulai

Andi, Anto, Arsyi dan Arlina: Baik bu, kami ke kelas dulu…
Mereka kemudian langsung menuju ke kelas mereka. Selama pelajaran mereka tak henti-hentinya berfikir tentang apa yang akan disampaikan oleh Ibu Kepala Sekolah mereka yang baik itu. Mereka mencoba menerka-nerka segala kemungkinan. Waktu berlalu, tak terasa jam bel istirahat kedua telah berbunyi. Murid-murid berhamburan menuju kantin untuk makan siang dengan gembiranya, namun tidak demikian dengan ke empat siswa berprestasi ini, Andi, Anto, Arsyi dan Arlina melangkah menuju kantin sambil termenung.
Arsyi        : Menurut kalian apa yang akan disampaikan oleh Bu Kumala nanti ya?
Arlina       : Yang jelas sesuatu yang sangat penting, terlihat dari cara Bu Kumala berbicara dengan kita tadi.
Andi dan Anto: Kalian benar…
Arsyi        : Oo iya, kamu masih hutang cerita kepada kita tentang apa yang kamu takutkan tadi Arlina..
Arlina       : Nanti di kantin aku ceritain semua


Sesampainya dikantin mereka pun segera memesan makanan dan minuman. Sambil menyantap makanan mereka, mereka berbincang-bincang serius mengenai ketakutan yang dialami Arlina.
Arlina       : Beberapa hari ini aku mendapat gosip miring dari anak-anak dan beberapa guru tentang kegiatan ekskul kita, dan gosip itu sangat mengganggu fikiranku.
Andi         : Tentang apa?
Anto, Arsyi dan Arlina: Iya.. ceritakan kepada kami sekarang!
Arlina       : Ada beberapa anak yang bilang bahwa beberapa minggu kemarin ekskul kita agak berantakan, semacam jadi alih fungsi gitu…
Andi         : (dengan tidak sabar) Alih fungsi gimana maksudmu?
Arlina       : Mereka bilang bahwa anak ekskul tidak menjalankan kegiatan sebagaimana mestinya. Singkatnya mereka menjadikan ekskul sebagai ajang temu pacar?
Arsyi        : Pacaran maksud mu? Aku juga pernah mendengar hal itu dari beberapa guru.
Arlina       : Iya benar… bahkan terakhir kali ada anak yang sampai dimarah oleh penjaga sekolah.
Andi         : Berarti benar perkiraan saya, antusiasme anak-anak terhadap kegiatan ekskul akhir-akhir ini memang terlihat tidak wajar.
Anto         : Lalu, apakah ini mungkin ada kaitannya dengan apa yang akan dibicarakan oleh Bu Kumala?
Arsy         i: Kemungkinan benar, soalnya aku sempet mendengar kalau penjaga sekolah melaporkan langsung kejadian tersebut ke kepala sekolah.
Anto         : Hem…. Kalau begitu kita lihat saja nanti apa yang disampaikan oleh Bu Kumala. Sepertinya waktu kita sudah habis jadi kita harus masuk kelas.
Andi         : Yupz… Kita masih punya satu tugas yang harus diselesaikan yaitu menyerap pelajaran terakhir yang agak membosankan ini heee e e ….
Arsyi dan Arlina: Uh dasar kamu ndi…

Mereka pun langsung kembali kekelas setelah menghabiskan makanan mereka. Setelah pelajaran berakhir dan bel pulang telah berbunyi, tanpa basa-basi lagi mereka langsung menuju kekanto kepala sekolah.
Andi, Anto, Arsyi dan Arlina: Selamat siang bu…
Bu Kumala: Selamat siang, mari nak silahkan masuk..
(Mereka kemudian masuk dan mengambil tempat duduk yang telah disiapkan)
Bu Kumala: Begini anak-anak, ibu ingin membicarakan sesuatu yang sangat penting dengan kalian…
Andi         : Ada apa bu, apa kami melakukan kesalahan?
Bu Kumala: Tidak, bukan kesalahan tapi ini berkaitan erat dengan prestasi belajar kalian. Bulan lalu ibu mendapat laporan tentang kegiatan ekskul yang kalian kelola, ibu sempat berfikir kalau itu hal biasa tetapi beberapa hari yang lalu ibu mendapat laporan serupa dari penjaga sekolah.
Arsyi        : Masalah itu bu? Kami juga telah mendengar dan baru saja membicarakan hal tersebut.
Bu Kumala: Iya benar. Ini adalah masalah serius Arsyi, ibu tidak ingin mendengar hal serupa terjadi lagi dan ibu ingin kalian menyelesaikan masalah ini secepatnya.
Andi         : Iya bu, kami secepatkan akan mengambil langkah…
Anton       : Benar bu, bila perlu kami akan memberikan hukuman yang berat pada mereka.
Bu Kumala: Itu tidak perlu. Ibu sudah memikirkan langkah terbaik untuk masalah ini.
Arlina       : Lalu kami sebaiknya harus bagaimana bu?
Bu Kumala: Saya dengan berat hati akan menghentikan seluruh kegiatan ekstra kurikuler yang ada demi kabaikan dan prestasi belajar kalian semua.
Arsyi        : Menghentikan, maksud ibu semua ekskul itu ditiadakan?
Bu Kumala: Bener Arsyi, demi kebaikan kita semua. Ibu tidak mau menyesatkan kalian dengan memberi izin kegiatan tersebut.
Anton: Akan tidak bijak kalau kita menghentikannya bu, bukankah tidak semua murid seperti itu, selain itu bukankah ibu sendiri yang bilang bahwa ekskul sangat penting untuk bekal organisasi dan kepemimpinan.
Bu Kumala: Itu benar ton, tapi apa kalian ada alternatif lain selain apa yang ibu tawarkan?
Andi         : Beri kami satu bulan untuk memberi pemahaman dan menyelesaikan masalah ini bu, jika kami gagal kami rela ekskul dibubarkan.
Arlina       : Benar bu, setidaknya berikan rekan-rekan kesempatan untuk berbenah dan memperbaiki kesalahan kami.
Anton       : Iya bu, jika gagal kami rela. Kami juga tidak rela kalau ekskul hanya menjadi ajang hal negatif. Kami juga tidak rela kalau teman-teman kami terjerumus.
Bu Kumala: Baiklah kalau kalian merasa itu lebih baik dari tawaran ibu, Saya beri kalian waktu satu minggu untuk mencari jalan keluar masalah ini, dan kalian harus memberitahukan apa rencana yang akan kalian ambil. Setelah itu ibu akan memberi waktu 3 minggu untuk sosialisasi pada rencana kalian tersebut.
Andi, Anto, Arsyi dan Arlina: Alhamdulillah….
Andi         : Kami berjanji bu, kami akan mengusahakan yang terbaik dan tidak akan mengecewakan ibu, teman-teman dan tentunya amanat orang tua kami.
Arlina       : Terima kasih bu, apapun hasilnya semoga ini menjadi pembelajaran yang berharga bagi kami semua…
Bu Kumala: Baiklah kalau begitu, sekarang kalian boleh pulang karena waktu sudah semakin siang…
Andi         : Iya bu, kalau begitu kami permisi…
Bu Kumala: Iya, silahkan…
Waktu berjalan begitu cepat, setelah pertemuan itu Andi, Anto, Arsyi dan Arlina begitu sibuk mencari solusi terbaik apa yang akan mereka ambil untuk mengatasi masalah pacaran saat ekskul tersebut. Setelah melalui berbagai perdebatan panjang antara mereka bahkan sampai Anto sempat meminta pendapat orang dari sahabat-sahabat mereka tersebut akhirnya mereka memutuskan suatu langkah penyelesaian dan pencegahan terhadap masalah itu.
Hari itu tepat seminggu dari waktu yang dijanjikan… Pagi begitu cerah namun mereka merasakan sedikit ketegangan dalam hati. Tepat setelah sekolah berakhir mereka langsung menemui kepala sekolah.
Anto         : Selamat siang bu..
Bu Kumala: Oo kalian, iya silahkan masuk, kebetulan ibu juga sudah menyelesaikan semua urusan ibu hari ini.
(Kemudian mereka masuk. Dengan dada berdebar kencang Arsyi langsung membuka pembicaraan)
Arsyi        : Begini bu, kami telah menyepakati beberapa langkah untuk masalah kemarin.
Bu Kumala: O…iya bagaimana-bagaimana langkah yang kalian rencanakan?
Arsyi        : Kami akan menambahkan beberapa regulasi baru agar kejadian pacaran saat ekskul tidak terulang bu. Pertama kami akan menetapkan larangan berpacaran, berduaan antara lawan jenis selama kegiatan ekskul, kedua kami akan menyelipkan acara kerohanian seperti ceramah dari nara sumber, yang ketiga kami akan meminta bantuan sukarela dari guru-guru muda untuk menjadi pengawas saat kegiatan ekskul selain pembina bu.
Bu Kumala: Bagaimana dengan siswa yang tidak menaati hal tersebut?
Arlina: Kami akan melayangkan surat pemberitahuan kepada orang tua mereka bahwa mereka telah melanggar tata tertib dan karena hal tersebut mereka harus dikeluarkan dari kegiatan ekskul. Dan apabila memungkinkan kami akan bekerja sama juga dengan dinas kepolisian untuk memberikan sedikit arahan bahwa pacaran dapat menjerumus kedalam tindak kriminal.
Aryi          : Selain itu kami secara teratur akan memberikan laporan kepada ibu tentang anak-anak yang melanggar aturan ini dan perkembangan kegiatan ekskul secara keseluruhan.
Anto         : Dengan menerapkan peraturan baru ini kami bukan hanya ingin menyelesaikan masalah itu bu, tetapi kami ingin berusaha mencegah sampai tuntas dengan memberikan pemahaman lebih kepada teman-teman kami.
Bu Kumala: Jadi, secara singkat jika ada yang melanggar akan dikeluarkan dari ekskul dan untuk mencegah hal itu terjadi ditambah materi keagamaan.
Andi, Anto, Arsyi dan Arlina: benar bu…
Bu Kumala: Sepertinya kalian benar-benar bertekat untuk itu, baiklah ibu akan bersikap adil. Seperti yang sudah ibu katakan sebelumnya ibu akan memberi waktu 3 minggu untuk kalian mensosialisasikan aturan kalian. Dan jangan lupa perkembangannya harus kalian laporkan setiap minggu. Setelah 3 minggu ibu akan putuskan apakah meniadakan ekskul atau tetap mengizinkannya.
Andi         : Terimakasih atas kepercayaannya bu, kami akan segera merealisasikannya.
Anto: Kalau begitu kami segera permisi bu, karena kami harus mendiskusikan beberapa hal lagi..
Bu Kumala: Baiklah, silahkan… Ibu juga akan segera pulang.

Setelah mendapatkan persetujuan dari kepala sekolah akhirnya hari itu juga mereka bergegas menyiapkan segala keperluan untuk sosialisasi peraturan baruuntuk kegiatan ekskul. Banyak hal yang mereka lakukan, mereka mengumpulkan ketua-ketua dari setiap ekskul yang ada dan menyampaikan peraturan baru tersebut. Mereka menyampaikan dengan tegas dan jelas, mereka juga tak lupa memberikan dorongan dan motivasi kepada seluruh kawan-kawan mereka agar dapat tetap menjalankan ekskul yang dapat menempa kemandirian serta jiwa organisasi teman-teman mereka.
Arlina       : Sepertinya demi kabaikan kita harus merampingkan keanggotaan di beberapa kegiatan ekskul…
Andi         : Apa ada kejadian lain?
Anto         : Ada dua ketua kegiatan ekskul yang mengajukan pemecatan kepada beberapa anggotanya, sudah saya pelajari dan sepertinya kita harus mengabulkan usulan tersebut.
Arsyi        : Iya… saya rasa itu tidak akan menimbulkan nilai buruk bagi kegiatan ekskul. Selain efek jera kita juga dapat memberikan peringatan kepada orang tua mereka bahwa ada sedikit masalah pada anak mereka dan semoga orang tua mereka dapat mengambil tindakan.
Arlina       : Sebenarnya saya merasa berat dengan hal itu tetapi setelah beberapa pendekatan yang kita lakukan sepertinya beberapa anak ini memang bandel dan tidak peduli, bahkan terlihat cewek dan cowoknya kompak bener..
Arsyi        : Yasudah kalau begitu, biar saya saja yang mengurus masalah ini, saya akan segera mengkonfirmasikan hal ini kepada ketua ekskul tersebut dan juga ibu kepala sekolah.
Akhirnya mereka pun sepakat dan dengan percaya diri menetapkan keputusan.

Setelah beberapa minggu berselang, apa yang mereka usahakan tidak sia-sia. Beberapa kali ibu kepala sekolah mengirim guru untuk meninjau langsung kegiatan ekskul dan merasa puas dengan hasil yang dicapai. Setelah satu bulan dari tercetusnya kejadian pacaran saat ekskul anak-anak terlihat lebih terarah dalam mengikuti ekskul. Mereka tidak lagi menghabiskan waktu senggang mereka untuk berpacaran, semua kegiatan menjadi lebih interaktif dengan bantuan guru-guru sukarela yang mengawasi dan membimbing mereka.
Arsyi        : Akhirnya semua usai sudah…
Andi, Anto, Arman, dan Arlina: (berteriak bersama-sama) siapa dulu…sahabat patriotik haa a a a
Akhirnya semua kegiatan berjalan dengan normal dan lancar.

Murid-murid SMA Kalausang pun semakin rajin belajar dan berprestasi dan tidak ada lagi terdengar isu-isu pacaran pada anak-anak sma Kalausang baik disekolah maupun diluar, meskipun masih ada saja beberapa murid yang bandel.


Hari demi hari mereka lalui penuh suka cita, dan tidak terasa waktu UAN telah tiba. Pada waktu pengumuman hasil UAN, mereka lulus dengan nilai yang memuaskan. Dan mereka di terima di SMA yang mereka inginkan selama ini. Sampai SMA pun mereka tetap bersama.

0 Response to "NASKAH DRAMA ARTI PERSAHABATAN"

Post a Comment