MAKALAH PENGOLAHAN DAUN TEA

Untuk Memudahkan Pencarian Dokumen Pendidikan Gunakan Filtur Pencarian di Bawah ini

MAKALAH PENGOLAHAN DAUN TEA


BAB I

PENDAHULUAN


A.       Latar Belakang
Teh merupakan salah satu tanaman penyegar yang diminati banyak orang karena rasa dan aromanya yang khas. Selain dapat memberi kesegaran, teh mempunyai banyak manfaat untuk tubuh karena mengandung vitamin (B1, B2, B6, C, K, asam folat, dan karoten), mineral (Mn, K, Zn, F) serta polifenol (zat antioksidan). Menurut Pusat Data dan Informasi Pertanian (2007), konsumsi teh di Indonesia mengalami penurunan yakni pada tahun 2002 konsumsi teh 14.80 gram per minggu dan pada tahun 2005 sedikit mengalami penurunan menjadi sebesar 13.70 gram per minggu. Meningkatnya kesadaran masyarakat akan manfaat minum teh untuk kesehatan dan didukung adanya berbagai promosi, maka konsumsi teh di Indonesia diharapkan akan meningkat sesuai dengan tingkat konsumsi teh per kapita per tahun di negara-negara produsen teh seperti India, China, dan Srilanka. Menurut Setiawati dan Nasikun (1991) teh mempunyai arti penting dalam perekonomian Indonesia karena merupakan sumber devisa non migas yang cukup besar serta banyak menyerap tenaga kerja. Indonesia merupakan produsen teh terbesar keenam setelah Cina, India, Sri Langka, Kenya, dan Turki. Indonesia mempunyai beberapa daerah yang berpotensi besar dalam pengembangan komoditas teh karena syarat tumbuhnya yang cocok di Indonesia, yang tersebar di seluruh propinsi di Sumatra, Jawa kecuali DKI Jakarta, Sulawesi Tengah, dan Sulawesi Selatan. Luas penanaman teh lebih didominasi oleh perkebunan rakyat yakni sebesar 61.735 ha (46, 58%), perkebunan besar negara 42.747 ha (32,25%) dan perkebunan besar swasta 28.049 ha (21,16%) (Pusat Data dan Informasi Pertanian, 2007).

Memburuknya kinerja ekspor teh di Indonesia pada lima tahun terakhir berkorelasi positif terhadap produksi (Direktorat Jenderal Perkebunan, 2007). Pangsa teh menurun dan harga teh Indonesia relatif rendah. Produksi teh PBN (Perkebunan Besar Negara) tahun 2007 sebesar 68 666 ton per tahun, jauh lebih rendah dari tahun 2005 yang mencapai 89 959 ton per tahun, dan untuk produksi teh PBS (Perkebunan Besar Swasta) tahun 2007 yaitu 27.653 ton per tahun dan 2 lebih rendah dari produksi tahun 2005 yang mencapai 38.386 ton per tahun, namun untuk Perkebunan Rakyat (PR) produksi teh mengalami kenaikan pada tahun 2005 yang sebesar 37 746 ton per tahun menjadi 40.929 ton per tahun pada tahun 2007 (Pusat Data dan Informasi Pertanian, 2007). Teknik budidaya dan pengolahan yang tidak tepat dapat menurunkan mutu baik secara kualitas maupun kuantitas sehingga akan menurunkan produksi (Purnama, 2007). Upaya meningkatkan mutu, produksi dan daya saing di pasaran teh dunia dapat dilakukan dengan perbaikan sistem pemetikan yang lebih efisien sehingga mendapat hasil yang maksimal. Teh yang bermutu tinggi adalah teh yang banyak diminati oleh konsumen dan hanya dapat dibuat oleh bahan baku pucuk teh yang bermutu tinggi dengan pengolahan yang benar serta penggunaan mesin-mesin yang memadai. Kualitas pucuk teh dipengaruhi oleh jenis-jenis cara pemanenan. Pemanenan atau yang biasa dikenal dengan pemetikan merupakan pekerjaan penting dalam budidaya teh dan membutuhkan biaya serta tenaga kerja yang banyak. Pemetikan merupakan cara pengambilan produksi di kebun teh, berupa pucuk yang memenuhi syarat-syarat pengolahan dan berfungsi pula sebagai usaha membentuk kondisi tanaman yang mampu berproduksi tinggi secara kontinyu. Melalui sistem pemetikan yang dilaksanakan, diharapkan dapat mempertahankan kualitas dan kuantitas hasil panen (Setyamidjaja, 2000).

B.       Tujuan
Pelaksanaan magang ini mempunyai tujuan secara umum dan secara khusus. Tujuan umum dari kegiatan magang ini antara lain yaitu meningkatkan kemampuan profesional mahasiswa sesuai kompetensinya dalam memahami dan menghayati proses kerja secara nyata, meningkatkan kemampuan teknis lapangan dengan melaksanakan kegiatan setara karyawan harian lepas (KHL), meningkatkan kemampuan manajerial dan analisis kegiatan di lapang, dan melatih mahasiswa bertanggung jawab dalam melaksanakan kegiatan di lapangan. Sedangkan tujuan khusus dari kegiatan magang ini yaitu mengetahui pengelolaan pemetikan yang tepat untuk mendapatkan pucuk teh yang baik secara kualitas maupun kuantitas.











BAB II

PEMBAHASAN



A.      Tinggi Bidang Petik
Tinggi bidang petik merupakan salah satu indikator dalam pelaksanaan teknis pemetikan. Tanaman teh jika dibiarkan tumbuh secara alami tingginya dapat mencapai 12-15 meter dan untuk memudahkan pemetikan, maka perdu teh perlu dipangkas setiap 4 tahun sekali. Jika ketinggian bidang petik telah mencapai 120 cm maka sudah masuk dalam kriteria siap pangkas (Sukasman, 1988). Hal ini karena, pada ketinggian bidang petik tersebut dianggap sudah tidak ekonomis lagi bagi pemetik. Tinggi bidang petik yang melebihi 120 cm dapat menyulitkan pemetik dalam melaksanakan pemetikan. Berdasarkan pengamatan yang dilakukan di tiap Blok di Unit Perkebunan Tambi dapat dilihat pada Tabel 5, bahwa semakin lama umur pangkas tanaman teh maka bidang petik akan semakin tinggi dan melalui Tabel 5 juga dapat diketahui bahwa rata-rata tinggi bidang petik di Unit Perkebunan Tambi masih dibawah ketentuan. Hal ini karena kurang adanya pengawasan saat pemangkasan sehingga ukuran tinggi pangkasan yang seharusnya 50 cm - 60 cm dibuat lebih rendah. Tinggi bidang petik untuk tanaman umur tahun pangkas ke-I mencapai 65-70 cm dan untuk tanaman umur tahun pangkas ke-II mencapai 70-85 cm dengan pertambahan tinggi tanaman tiap tahun ±15 cm (Pusat Penelitian Teh dan Kina Gambung, 1992). Meskipun masih di bawah ketentuan, tanaman teh di UP Tambi ketika memasuki umur tahun pangkas ke-IV tetap dipangkas walaupun masih dapat dijangkau oleh para pemetik. Hal ini karena semakin tua umur tanaman teh maka semakin pendek periode pekonya dan periode burung yang semakin lama sehingga menyebabkan semakin cepatnya peko tersebut berubah menjadi daun yang menghasilkan pucuk burung.

Kenaikan rata-rata tinggi bidang petik per tahun yang terlalu banyak tidak dikehendaki karena dapat menyebabkan ketebalan daun pemeliharaan semakin tebal. Pada kondisi seperti ini, laju fotosintesis bersih akan menurun karena laju respirasi semakin meningkat. Hal ini dapat menyebabkan potensi tumbuh pucuk menjadi terhambat karena diperkirakan sekitar 7.5% hasil fotosintesis yang 56 terambil oleh perdu teh terdapat dalam bentuk pucuk. Pada tanaman umur pangkas tahun ke-IV dengan tinggi bidang petik yang semakin meningkat, maka pucuk yang dominan tumbuh adalah pucuk burung. Menurut Tobroni (1988) pertambahan tinggi bidang petik per tahun atau per bulan perlu diperhatikan karena kenaikan tinggi bidang petik berarti pertambahan daun pemeliharaan. Pertumbuhan dan jumlah pucuk serta bobotnya dipengaruhi oleh tebal tipisnya daun pemeliharaan. Pertumbuhan pucuk yang maksimum dapat didapat dengan tebal daun pemeliharaan yang sesuai dengan pertumbuhan tanaman. Pada Blok Tanah Hijau pada tanaman umur pangkas ke-IV tinggi bidang petik telah melebihi 100 cm sehingga pemetik kesulitan dalam melakukan pemetikan karena semakin tinggi bidang petik semakin tinggi pula kerapatan bidang petik dan menyebabkan pemetik sulit berjalan dan bergerak. Hal ini menyebabkan pemetikan tidak dilakukan secara efektif dan efisien. Akibatnya kapasitas yang diperoleh setiap pemetik menjadi rendah dan dapat menurunkan produksi.

B.       Tebal Daun Pemeliharaan
Daun pemeliharaan merupakan daun-daun tua yang telah berada di bawah bidang petik. Peranan daun pemeliharaan yaitu sebagai pabrik dan penyalur fotosintat ke bagian-bagian tanaman. Karbohidrat sebagai hasil fotosintesis dari daun pemeliharaan bagian atas dialirkan ke atas untuk menumbuhkan tunas-tunas baru, sedangkan daun pemeliharaan bagian bawah dialirkan ke bagian bawah tanaman untuk menumbuhkan akar serta sebagian disimpan sebagai makanan cadangan dalam akar. Tebal daun pemeliharaan yang optimal untuk pertumbuhan tunas adalah 15-20 cm (Pusat penelitian Teh dan Kina, 1992). Tebal daun pemeliharaan ini perlu dipertahankan agar tanaman tetap ada dalam kondisi pertumbuhan yang sehat. Terdapat beberapa faktor yang menyebabkan kesulitan dalam mempertahankan tebal daun pemeliharaan diantaranya yaitu cara pemetikan yang dilakukan, ketinggian tempat (topografi) dan gilir petik.

Berdasarkan pengamatan yang dilakukan di tiap blok terlihat adanya hubungan antara umur tanaman setelah pangkas dengan tebal daun pemeliharaan. Pada Blok Pemandangan dan Tanah Hijau terlihat bahwa semakin 57 lama umur setelah pangkas maka daun pemeliharan akan semakin tebal. Akan tetapi keadaan berbeda terlihat pada Blok Taman dan Panama, pada kedua blok ini tanaman pada umur tahun pangkas ke-IV memiliki tebal daun pemeliharaan yang tipis jika dibandingkan dengan tanaman pada umur tahun pangkas ke- II dan ke-III. Tipisnya daun pemeliharaan di kedua blok ini disebabkan oleh cara pemetikan yang dilakukan oleh para pemetik terkait dengan keterampilan pemetik yang masih rendah. Pemetikan dengan gunting (alat) yang terlalu berat secara terus-menerus akan menyebabkan lapisan daun pemeliharaan akan semakin menipis karena pemetik sering kali melakukan pemetikan secara tidak selektif, tidak memperhatikan pucuk yang seharusnya dipetik dan pucuk yang seharusnya ditinggal. Pemetik biasanya memetik pucuk yang berada di bawah bidang petik/luka petik sebelumnya sehingga daun-daun yang seharusnya menjadi daun pemeliharaan dan tidak boleh dipetik menjadi terambil. Selain itu pucuk-pucuk tanggung sebagai pucuk cadangan untuk pemetikan selanjutnya juga sering kali terambil. Hal ini dapat mempengaruhi produksi pucuk pada pemetikan berikutnya. Pada tiap blok di Unit Perkebunan Tambi, rata-rata tebal daun pemeliharaan telah mendekati ketentuan. Pada Blok Tanah Hijau dan Taman, untuk tanaman pada umur tahun pangkas ke-I tebal daun pemeliharaan telah sesuai dengan ketentuan. Hal ini disebabkan pada kedua blok ini baru saja dilakukan pemetikan jendangan, sehingga pertumbuhan tunas dan cabang masih rendah. Selain itu kedua blok ini juga berada pada daerah yang landai dan dekat dengan jalan sehingga memudahkan pemetik melakukan pemetikan. Ketinggian tempat merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi tebal daun pemeliharaan. Rata-rata tebal daun pemeliharaan di Blok Pemandangan lebih tebal dibanding di ketiga blok lainnya. Hal ini disebabkan karena letak Blok Pemandangan yang curam sehingga menyulitkan pemetik memetik pucuk. Akibatnya banyak pucuk yang terlambat dipetik (kaboler) dan daun pemeliharaan menjadi semakin tebal.

Selain cara pemetikan dan ketinggian tempat, gilir petik juga dapat mempengaruhi ketebalan dan pemeliharaan. Gilir petik yang panjang 58 menyebabkan tunas akan semakin tinggi sehingga bidang petik akan semakin tinggi daun pemeliharaan semakin tebal.

C.      Potensi Tumbuh Pucuk
Pucuk peko adalah pucuk yang sedang berada pada periode tumbuh aktif. Sedangkan pucuk burung adalah pucuk yang berada periode istirahat (dorman). Menurut Suseno (1978) terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi pertumbuhan tunas peko dan tunas burung diantaranya yaitu faktor genetis, faktor teknis budidaya (pemeliharaan dan pemetikan), dan faktor luar (curah hujan, cahaya matahari, suhu, topografi). Periode pertumbuhan pucuk peko dan pucuk burung berselang-seling. Periode istirahat dan aktif berhubungan erat dengan keadaan tanaman, jika kebutuhan tanaman sehat dan dan cukup kebutuhan haranya maka periode aktif akan semakin lama. Sebaliknya, jika keadaan tanaman tidak sehat dan kekurangan hara maka periode dorman akan semakin lama. Munculnya pucuk burung dapat digunakan sebagai indikasi menurunnnya kesehatan tanaman (Gustiya, 2005). Potensi tumbuh pucuk di setiap tempat berbeda-beda. Topografi merupakan salah satu faktor luar yang mempengaruhi potensi tumbuh pucuk. Menurut Dalimoenthe (1988), semakin tinggi letak kebun maka kandungan pati dalam akar teh akan semakin tinggi, sedangkan cadangan makanan lebih banyak disimpan di dalam akar hingga mengakibatkan pertumbuhan pucuk lambat sehingga gilir petik akan semakin panjang dan produksi menurun. Hal ini dapat terlihat pada potensi tumbuh pucuk di Blok Pemandangan. Berdasarkan pengamatan yang dilakukan, potensi tumbuh pucuk di Blok Pemandangan dengan ketinggian 1 500-2 100 m dpl lebih lama jika dibandingakan potensi tumbuh pucuk di blok lainnya yang letak ketinggian kebunnya lebih rendah. Jumlah pucuk per perdu yang tumbuh di Blok Pemandangan lebih sedikit dibandingkan jumlah pucuk per perdu di blok lainnya. Hal ini dapat terlihat                pada Tabel 6.

Persentase pucuk burung pada tanaman umur tahun pangkas ke- IV lebih tinggi dibanding persentase pucuk burung pada tanaman tahun pangkas ke-I, ke-II dan ke-III. Hal ini disebabkan karena makin tua umur pangkas tanaman teh, maka semakin banyak ranting-ranting dan cabang-cabang tanaman yang tumbuh sehingga semakin besar pula 59 persaingan antar pucuk untuk mendapatkan fotosintat dan dalam keadaan ini, tanaman akan banyak menghasilkan pucuk dorman. Pada tanaman umur tahun pangkas ke-I dan ke-II, potensi tumbuh pucuk peko menunjukkan persentase yang tinggi, hal ini disebabkan karena tanaman umur pangkas tahun ke-I baru saja dilakukan pemangkasan dan pemetikan jendangan sehingga kondisi tanaman sedang dalam keadaan sehat karena cabang-cabang yang tidak dikehendaki dan mengganggu pertumbuhan tanaman baru saja dibuang sehingga dapat merangsang pertumbuhan tunas-tunas baru yang mampu menghasilkan pucuk. Sedangkan, pada tanaman umur pangkas tahun ke-II, persentase pucuk peko lebih tinggi dibanding tanaman umur pangkas tahun ke IV karena fase peko pada tanaman umur pangkas tahun ke-II lebih lama dibanding tanaman umur pangkas tahun ke- IV. Selain itu, semakin bertambahnya umur pangkas, jumlah cabang dan pucuk yang tumbuh akan semakin meningkat sehingga terjadi persaingan antar pucuk dalam memperoleh fotosintat. Keadaan seperti ini menyebabkan jumlah pucuk aktif semakin berkurang dan digantikan oleh pucuk yang tumbuh dorman. Menurut Tobroni (1982), Semakin tua umur pangkasan maka semakin lama periode pucuk burung dan semakin pendek periode pekonya. Potensi tumbuh pucuk peko dan pucuk burung berdasarkan umur pangkas tanaman.

D.      Produktivitas Berdasarkan Umur Pangkas
Menurut Tobroni (1982) semakin tua umur pangkasan, maka akan semakin banyak bagian yang membutuhkan hasil fotosintesis sehingga pucuk yang dihasilkan berukuran lebih kecil dan lebih ringan meskipun jumlah pucuknya semakin banyak. Pada Tabel 8 terlihat hubungan antara umur pangkas dengan produksi dan pada Tabel 9 terlihat hubungan antar umur pangkas dengan produktivitas.

Berdasarkan Tabel 8 dapat diketahui bahwa produksi tertinggi di Unit Perkebunan Tambi terdapat pada tanaman umur pangkas tahun ke- II. Pada tanaman umur pangkas tahun ke- II. Kondisi pucuk berada dalam jumlah yang banyak (flush) dan memiliki fase tumbuh peko yang lama. Selain itu kerapatan perdu pada tanaman umur pangkas tahun ke-II masih dapat dilewati dengan mudah oleh pemetik sehingga pelaksanaan teknis pemetikan dapat berjalan dengan baik dengan hasil yang dicapai tinggi. Produksi pucuk basah mengalami penurunan pada umur pangkas tahun ke-III. Hal ini disebabkan karena periode aktif tumbuh tanaman berkurang, karena secara fisiologis cabang atau ranting yang semakin tua fase pertumbuhannya akan beralih dari fase vegetatif ke fase generatif, pertumbuhan tunas dan pucuk akan berkurang karena sebagian energi yang ada akan digunakan untuk pembentukan bunga dan buah. Selain itu, pada 61 tanaman umur pangkas tahun ke-III pertumbuhannya semakin rapat sehingga menyulitkan pemetik untuk melakukan kegiatan pemetikan dan hal ini menyebabkan hasil pemetikan yang didapat menjadi berkurang. Akan tetapi, pada Blok Taman produksi pada tanaman umur pangkas tahun ke-IV lebih besar dibanding produksi umur pangkas lainnya. Hal ini disebabkan karena adanya penyesuaian wilayah pangkasan agar areal tanaman berdasarkan tahun pangkas menjadi menyatu, tanaman umur pangkas tahun ke-III yang seharusnya belum dipangkas masuk ke umur pangkas ke-IV dan dipangkas. Selain itu, keadaan ini juga disebabkan karena adanya penyesuaian kembali wilayah pada awalnya wilayah percontohan kembali disatukan ke wilayah Blok induk. Produksi pucuk terendah di Blok Taman terjadi pada tanaman umur pangkas tahun ke-III. Hal ini disebabkan karena pada tanaman umur pangkas ke- III merupakan jenis teh seedling yang memiliki density/kepadatan populasi lebih rendah dibanding jenis teh klonal. Populasi tanaman jenis teh seedling lebih sedikit yakni 8 000-10 000 pohon per ha, sedangkan populasi jenis teh klonal lebih besar yakni dapat mencapai 11 000 pohon per ha. Selain itu, jarak tanam teh seedling ini kurang beraturan karena ditanam pada zaman Belanda (Tamanan Tua Menghasilkan). Menurut Pusat Penelitian Teh dan Kina Gambung (1992) semakin banyak populasi tanaman per satuan luas akan makin cepat tajuk tanaman saling menutup dan produksi yang tinggi juga dapat dicapai dalam waktu cepat. 0 500 1000 1500 2000 2500 3000 3500 I II III IV Tahun Pangkas (tahun) Produktivitas Pucuk Kering (kg/ha/tahun)

E.       Kapasitas Pemetikan
Kapasitas pemetik adalah bobot pucuk yang dipetik oleh seorang pemetik dalam satu hari kerja. Standar kapasitas pemetik yang di tetapkan oleh Unit Perkebunan Tambi adalah 52-55 kg. Kapasitas pemetik antara satu pemetik dengan pemetik lainnya tergantung pada beberapa faktor diantaranya yaitu cuaca, populasi tanaman, keterampilan pemetik, topografi areal yang dipetik dan kondisi pertumbuhan pucuk                      di lapang.

Rata-rata kapasitas pemetik di Unit Perkebunan Tambi adalah 50.22 kg Nilai ini masih berada di bawah standar yang ditetapkan perkebunan. Rendahnya kapasitas pemetik ini disebabkan oleh beberapa faktor dintaranya 63 yaitu kondisi pucuk di lapang, keterampilan dan kemampuan pemetik dan jam kerja yang dilakukan. Kemampuan dan keterampilan pemetik yang masih rendah menyebabkan teknis pemetikan tidak berjalan dengan baik seperti pemetikan dilakukan dengan cara dijambret (ngodok). Hal ini dapat menyebabkan kondisi tanaman menjadi terganggu, sehingga pertumbuhan pucuk untuk pemetikan berikutnya menjadi tidak merata dan hal ini dapat mempengaruhi kapasitas pemetikan. Selain itu, rendahnya kapasitas pemetik disebabkan juga oleh faktor jam kerja (4-5 jam/hari) yang dilakukan. Jam kerja ini masih dibawah standar jam kerja yang ditetapkan perkebunan. Rendahnya jam kerja ini menyebabkan hanca petik tidak terselesaikan dan harus dilanjutkan pada hari berikutnya. Hanca petik tiap pemetik berbeda-beda di setiap Blok. Hal ini dipengaruhi oleh luas areal yang dipetik, gilir petik dan jumlah tenaga petik. Berdasarkan perhitungan dengan rumus dan dapat dilihat pada Tabel 7, hanca per pemetik di Blok Taman dan Pemandangan lebih kecil dibanding hanca petik di Blok Panama dan Tanah Hijau. Hanca petik per pemetik di Blok Taman adalah 1.8 patok/HOK. Sedangkan, hanca per pemetik di Blok Panama dan Tanah Hijau masing-masing adalah 2.1 patok/HOK dan 2.8 patok/HOK. Hal ini mungkin disebabkan karena jumlah tenaga petik di Blok Taman telah sesuai dengan yang ditetapkan oleh perkebunan berdasarkan perhitungan rumus ratio tenaga petik. Sedangkan pada blok lainnya jumlah tenaga petik di lahan tidak sesuai dengan perhitungan rumus yang ditetapkan kebun. Tenaga petik di Blok Tanah Hijau dan Panama lebih sedikit dari yang ditetapkan berdasarkan perhitungan rumus rasio sehingga hanca yang harus diselesaikan tiap pemetik dalam satu hari menjadi lebih luas.

F.       Analisis Petik dan Analisis Pucuk
Analisis petik merupakan kegiatan awal dari pengujian mutu. Analisis petik ditujukan untuk mengetahui sistem pemetikan yang digunakan untuk menilai ketepatan pelaksanaan pemetikan dan menilai kondisi tanaman. Sedangkan analisis pucuk digunakan untuk mengetahui mutu pucuk yang dihasilkan apakah sudah sesuai dengan syarat-syarat yang dibutuhkan untuk pengolahan. Kondisi pucuk yang akan diolah dan persentase mutu teh yang dihasilkan dapat diketahui melalui analisis pucuk. 64 Berdasarakan analisis petik di Unit Perkebunan Tambi didapat rata-rata pucuk halus 2.5%, pucuk medium 26.25%, pucuk kasar 52.25% serta pucuk rusak 19% Analisis pucuk MS yang ditetapkan oleh Unit Perkebunan Tambi adalah 50%. Berdasarkan hasil rata-rata analisis pucuk Januari-Mei tahun 2009 di Unit Perkebuan Tambi untuk pucuk MS mencapai 50.85% dan TMS 49.15% (Lampiran 4). Jika dibandingkan dengan perkebunan lain, UP Tambi termasuk salah satu perkebunan yang memiliki persentase pucuk layak olah yang cukup bagus. Menurut Kusuma (2008), hasil analisis pucuk di Perkebunan Rumpun Sari Kemuning untuk pucuk MS mencapai 42.14% dan TMS 57.86% untuk afdelling OB, untuk afdelling OA pucuk MS mencapai 41.31% dan TMS 58.69. Pucuk yang memenuhi syarat olah (MS) dari hasil analisis pucuk di UP Tambi telah memenuhi ketetapan kebun. Tingginya persentase pucuk kasar dari hasil analisis petik dan analisa pucuk menunjukkan bahwa kegiatan pemetikan belum berjalan dengan baik. Hal ini disebabkan karena pelaksanaan pemetikan yang dilakukan telah melewati siklus yang ditetapkan (gilir petik lebih panjang), pemetikan dilakukan saat tanaman lewat masa petik sehingga kebun kaboler. Mutu pucuk hasil pemetikan yaitu kehalusan dan keseragaman jenis pucuk dan dipengaruhi oleh panjang gilir petik (Sukasman dan Mahmud, 1988). Semakin panjang gilir petik dapat menyebabkan tidak tercapainya standar pemetikan medium, yaitu pucuk telah melebihi rumus petik standar pemetikan medium. Selain itu keterampilan pemetik juga merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi banyaknya pucuk kasar. Pemetik seringkali melakukan pemetikan yang kurang teliti (tidak bersih), masih banyak pucuk burung yang tidak terambil dan pemetikan dilakukan dengan cara yang salah, seperti dijambret dan ngodok. Pemetikan seperti ini dapat menyebabkan bidang petik tidak rata. Persentase pucuk rusak disebabkan karena pucuk terlalu lama dalam kepalan tangan dan pengisian pucuk ke dalam waring dilakukan dengan cara dijejal serta pucuk yang dimasukkan ke dalam waring melebihi kapasitas.

G.      Sistem Transportasi Pucuk
Salah satu aspek pendukung utama di dalam menghasilkan teh yang bermutu tinggi adalah mutu pucuk sebagai bahan baku olahan harus baik. Mutu 65 pucuk yang baik menunjukan struktur dan tekstur dari pucuk yang sesuai dengan standar mutu pucuk baik secara fisik ataupun kimia yang telah ditetapkan dan sesuai dengan pengolahan yang dilaksanakan. Ditinjau dari sifat kimia, mutu pucuk teh yang baik adalah tersedianya unsur-unsur penentu kualitas teh yang optimal (katekin, kafein, enzim) serta unsur-unsur tersebut tidak boleh berubah sebelum waktunya. Kualitas pucuk yang optimal sebagai bahan baku pengolahan dapat diperoleh dengan melakukan pengendalian serta penanganan pucuk yang diupayakan untuk menghindari atau mengurangi terjadinya kerusakan pucuk secara fisik yang dapat menimbulkan penurunan kualitas teh jadi karena terjadi pra-oksidasi ataupun pra-fermentasi. Penanganan pucuk lebih dititikberatkan pada usaha-usaha perawatan pucuk sebelum dan setelah tiba di pabrik, sebelum proses pelayuan yang bertujuan agar kondisi dan potensi kualitas tidak menurun. Kegiatan yang harus dilakukan dalam penanganan pucuk untuk menjaga kualitasnya diantaranya yaitu menjaga pucuk tidak memar, meningkatkan frekuensi pengangkutan pucuk ke pabrik dengan menyesuaikan kapasitas angkut serta kapasitas pembeberan, menggunakan waring sesuai kapasitas (jangan terlalu dipadatkan), aerasi (pertukaran udara) harus cukup agar panas yang terjadi akibat respirasi daun selama di waring cepat terbuang, mengusahakan pucuk secepatnya sampai di pabrik. Sistem Transportasi pucuk di Unit Perkebunan Tambi dengan menggunakan kendaraan truk. Truk yang digunakan harus ada dalam kondisi yang bersih dan bebas dari kotoran serta dialasi terpal pada bagian alas truk. Kapasitas truk angkut yang optimal yaitu 2 500 kg atau setengah dari daya angkut kendaraan. Jumlah truk yang digunakan untuk pengangkutan pucuk yaitu sebanyak lima buah untuk empat blok. Frekuensi pengangkutan disesuaikan dengan frekuensi penimbangan dan kondisi pucuk di lapang. Tetapi, berdasarkan pengamatan yang dilakukan kapasitas angkut truk pucuk seringkali melebihi ketentuan dalam sekali pengangkutan dan waring pucuk ditumpuk di dalam truk dengan cara dijejal (Gambar 12). Ketika kondisi pucuk di lapang sedang melimpah, walaupun rata-rata produksi di UP Tambi tahun 2009 sebesar 2 450 kg (Tabel 13), namun sebaran pucuk sering kali tidak merata. 66 Penanganan pucuk dengan dijejal dalam kendaraan dapat menyulitkan kegiatan pengangkutan, karena dapat menyebabkan waring terjatuh dari truk karena tumpukan yang terlalu tinggi dengan kapasitas angkut yang melebihi ketentuan. Kurangnya sarana pengangkutan dapat terlihat dengan adanya penjejalan pucuk. Penanganan pucuk seperti ini dapat menurunkan kualitas pucuk yang dihasilkan. Pengangkutan pucuk pada musim hujan kurang terkontrol. Pada musim hujan, seharusnya pucuk dalam waring yang ditumpuk di dalam truk bagian atas dan bawahnya dilapisi terpal. Akan tetapi, dari hasil pengamatan pucuk di dalam truk tidak dilapisi terpal pada bagian atasnya. Terpal pada bagian atas tumpukan pucuk penting agar kebersihan pucuk tetap terjamin (higienis), untuk menghindari tetesan atau siraman air hujan pada tumpukan pucuk karena siraman air hujan dapat mempengaruhi selisih bobot pucuk basah di kebun dan di pabrik (Tabel 14). Pemindahan pucuk dari truk ke box pelayuan (Withering Through) sudah dilakukan dengan baik karena pada lantai pabrik telah dilapisi terpal. Hal ini bertujuan agar pucuk-pucuk dari kebun tidak terbuang sia-sia sesampainya di pabrik dan untuk menciptakan sanitasi yang baik di pabrik. 67








BAB III
KESIMPULAN DAN SARAN



A.      Kesimpulan
Pengelolaan pemetikan merupakan hal penting dalam tercapainya mutu teh yang baik secara kuantitas maupun kualitas. Sistem transportasi pucuk merupakan salah satu faktor yang menentukan kualitas pucuk dan harus diperhatikan penanganannya.

B.       Saran
Upaya dapat dilakukan untuk meningkatkan kapasitas pemetikan adalah dengan meningkatkan produksi pucuk tanaman melalui pemeliharaan kebun yang intensif. Selain itu perlu diadakan pelatihan keterampilan mengenai teknis pemetikan kepada para pemetik karena keterampilan pemetik baik menggunakan gunting maupun manual dan sangat berpengaruh terhadap mutu pucuk Kualitas produk yang baik dapat dicapai melalui kegiatan penyortiran di kebun setelah pemetikan sebelum dikirim ke pabrik. Hal ini bertujuan agar standar petik medium dapat terpenuhi. Pengawasan kegiatan kebun baik kegiatan pemeliharaan maupun kegiatan pemetikan perlu ditingkatkan. Penanganan pucuk selama pengangkutan ke pabrik harus lebih diperhatikan untuk mengurangi kerusakan pucuk. Hal ini dapat dilakukan dengan meningkatkan frekuensi pengangkutan pucuk ke pabrik, menyesuaikan kapasitas angkut pucuk dengan kapasitas angkut kendaraan, menambah jumlah truk dan disesuaikan dengan jumlah pucuk yang diperoleh, penyediaan waring yang cukup sehingga penggunaan waring dapat sesuai dengan kapasitas. Selain itu sanitasi dalam penanganan pucuk perlu diupayakan agar kemurnian pucuk tetap terjaga. Hal ini terkait dengan penerapan prinsip HACCP (Hazard Analisys Critical Control Point). 69



DAFTAR PUSTAKA
Adisewojo, R.S. 1982. Bercocok Tanam Teh. Sumur Bandung. Bandung. 193 hal.
Direktorat Jenderal Perkebunan. 2007. Statistik Perkebunan.
Direktorat Jenderal Bina Produksi Perkebunan. Jakarta. 7 hal.
Dasar-dasar pemetikan pucuk teh. Warta Balai Penelitian Teh dan Kina. 1 : 29-32. Eden, T. 1965. Tea. Second Edition. Longmans Green and Co. Ltd. London. 201 p. Fordham, R. 1977. Tea, p. 333-349. In P.T. Alvin and T.T. Kozlowski (Eds.). 


Apakah Postingan ini Keren Bermanfaat Guys? Please Bantu Viralkan Guys!

URL:HTML:BB(forum):
Posted by SahrulParawie
WAHANA BELAJAR & BERBAGI ANEKA DOKUMEN PENDIDIKAN Updated at: 4/11/2018 09:59:00 AM

No comments :

Post a Comment