MAKALAH PENGERTIAN DAN RUANG LINGKUP PSIKOLOGI AGAMA - WAHANA BELAJAR & BERBAGI ANEKA DOKUMEN PENDIDIKAN

MAKALAH PENGERTIAN DAN RUANG LINGKUP PSIKOLOGI AGAMA



BAB I
PENDAHULUAN


A.      Latar Belakang
Psikologi merupakan kelanjutan dari studi tentang tingkah laku manusia dalam kehidupan sehari-hari dengan menggunakan sistematika dan metode ilmiah, sehingga teorinya lebih objektif. Objek psikologi bukanlah jiwa dan bukan pula masalah-masalah rohaniah yang bersifat misterius serba rahasia dan sukar diterka. Oleh karena itu para psikolog pun belum mampu mengetahui kehidupan rohaniah seseorang sebagaimana melihat bayangan dirinya dalam cermin, walaupun mereka mampu meramal dan mengadakan pragnosa secara ilmiah mengenai kemungkinan tingkah laku yang akan diperbuat seseorang. Psikologi agama meneliti pengaruh agama terhadap sikap dan tingkah laku orang atau mekanisme yang bekerja dalam diri seseorang, kaena cara seseorang berfikir, bersikap, bereaksi dan bertingkah laku, tidak dapat dipisahkan dari keyakinannya, karena keyakinan itu masuk dalam konstruksi kepribadiannya.
Sudah banyak ahli-ahli psikologi yang menaruh perhatian dalam bidang agama, atau dalam proses kejiwaan yang berhubungan dengan agama, mencoba memberikan definisi-definisi, baik tentang psikologi, maupun tentang agama. Namun usaha-usaha mereka untuk membuat satu definisi atau ketentuan-ketentuan yang tegas dan pasti, tetap terbentuk, karena psikologi agama harus mencakup sekaligus psikologi dan agama.
B.       Rumusan Masalah
1.      Apakah pengertian psikologi agama?
2.      Bagaimanakah ruang lingkup dari psikologi agama?
3.      Sebutkan manfaat mempelajari psikologi agama?

C.      Tujuan
1.      Untuk mengetahui pengertian dari psikologi agama.
2.      Untuk mengetahui ruang lingkup dari psikologi agama.
3.      Untuk mengetahui manfaat mempelajari psikologi agama.



BAB II
PEMBAHASAN

A.    Pengertian Psikologi Agama
Psikologi agama terdiri dari dua kata yaitu psikologi dan agama. Psikologi berasal dari bahasa yunaniyaitu “Psyche”dan “logos”. “Psyche” yang artinya jiwa dan“logos” yang artinya ilmu pengetahuan. Jadi, psikologi adalah ilmu yang mempelajari tentang jiwa baik mengenai macam-macam gejalanya, proses maupun latar belakang.
Psikologi secara etimologi mengandung arti ilmu tentang jiwa. Dalam Islam kata jiwa disamakan dengan“an-nafsu” namun ada juga yang menyamakan dengan istilah “ar-ruh”. Tetapi istilah “an-nafsu” lebih popular dari pada istilah“ar-ruh”,  karena psikologi dalam bahasa arab lebih popular diterjemahkan dengan ilmu an-nafsu dari pada ilmu ar-ruh. Dalam Al-Quran surat Al-Fajrayat 27-30 disebutkan, kata an-nafsu berarti jiwa.
يَٰأَيَّتُهَاٱلنَّفْسُ ٱلْمُطْمَئِنَّة. ٱرْجِعِى إِلَىٰرَبِّكِرَاضِيَةً مَّرْضِيَّةً. فَٱدْخُلِى فِى عِبَٰدِى. وَٱدْخُلِى جَنَّتِى.
“Haijiwa yang tenang.KembalilahkepadaTuhanmudenganhati yang puaslagidiridai-Nya.Makamasuklahkedalamjemaahhamba-hamba-Ku,danmasuklahkedalamsurga-Ku”.(QS. Al-Fajr (89): 27-30)
Psikologi agama menurut Jalaludin menggunakan dua kata, yaitu psikologi dan agama. Kedua kata ini memiliki pengertian yang berbeda. Psikologi secara umum diartikan sebagai ilmu yang mempelajari gejala jiwa manusia yang normal, dewasa dan beradab.
Psikologi menurut Zakiah Darajat, meneliti pengaruh agama terhadap sikap dan tingkah laku orang atau mekanisme yang bekerja dalam diri seseorang, karena cara orang berpikir, bersikap, bereaksi, dan bertingkah laku, tidak dapat dipisahkan dari keyakinannya, karena keyakinan itu masuk dalam konstruksi kepribadiannya.
Psikologi agama dengan demikian merupakan cabang psikologi yang meneliti dan mempelajari tingkah laku manusia dalam hubungan dengan pengaruh keyakinan terhadap agama yang dianutnya serta dalam kaitannya dengan perkembangan usia masing-masing. Upaya untuk mempelajari tingkah laku keagamaan tersebut dilakukan melalui pendekatan psikologi. Jadi penelahaan tersebut merupakan kajian empiris. 

B.     Objek Kajian Psikologi Agama
Psikologi agama tidak menyelidiki tentang ajaran-ajaran secara meteriil, dasar-dasar agama dan tidak berwenang untuk membenarkan atau menyalahkan pengertian yang ada dalam agama. Yang menjadi objek dan lapangan psikologi agama adalah menyangkut gejala-gejala kejiwaan dalam kaitannya dengan realisasi keagamaan (amaliah) dan mekanisme antara keduanya. Dengan kata lain, meminjam istilah Zakiah Daradjat, psikologi agama membahas tentang kesadaran agama (religious counciousness) dan pengalaman agama (religious experience).
Kesadaran agama adalah bagian atau segi yang hadir (terasa) dalam pikiran dan dapat dilihat gejalanya melalui introspeksi. Di samping itu, dapat dikatakan bahwa kesadaran beragama adalah aspek mental atau aktivitas agama, sedangkan pengalaman agama adalah unsur perasaan dan kesadaran beragama, yaitu perasaan yang membawa kepada keyakinan yang dihasilkan oleh tindakah (amaliah).
Dengan demikian, yang menjadi lapangan kajian psikologi agama adalah proses beragama, perasaan dan kesadaran beragama dengan pengaruh dan akibat-akibat yang dirasakan sebagai hasil dari keyakinan. Sedangkan objek pembahasan psikologi agama adalah gejala-gejala psikis manusia yang berkaitan dengan tingkah laku keagamaan, kemudian mekanisme antara psikis manusia dengan tingkah laku keagamaannya secara timbal balik dan hubungan pengaruh antara satu dengan lainnya.

C.    Ruang Lingkup Psikologi Agama
Sebagai disiplin ilmu yang otonom, psikologi agama memiliki ruang lingkup pembahasannya tersendiri yang dibedakan dari disiplin ilmu yang mempelajari masalah agama yang lainnya. Sebagai contoh, dalam tujuannya psikologi agama dan ilmu perbandingan agama memiliki tujuan yang tak jauh berbeda. Yakni mengembangkan pemahaman terhadap agama dengan mengaplikasikan metode-metode peneliti yang bertipe bukan agama dan bukan teologis. Bedanya adalah, bila ilmu perbandingan agama cenderung memusatkan perhatiannya pada agama-agama primitif dan eksotis tujuannya adalah untuk mengembangkan pemahaman dengan memperbandingkan satu agama dengan agama lainnya. Sebaliknya psikologi agama, seperti pernyataan Robert H. Thouless (dalam Jalaludin) memusatkan kajiannya pada agama yang hidup dalam budaya suatu kelompok atau masyarakat itu sendiri. Kajiannya terpusat pada pemahaman terhadap perilaku keagamaan tersebut dengan menggunakan pendekatan psikologi.
Menurut Zakiah Daradjat (dalam Jalaludin, 2001: 16), menyatakan bahwa lapangan penelitian psikologi agama mencakup proses beragama, perasaan dan kesadaran beragama dengan pengaruh dan akibat-akibat yang dirasakan sebagai hasil dari keyakinan. Oleh karena itu, menurut Zakiah Daradjat, ruang lingkup yang menjadi lapangan kajian psikologi agama meliputi kajian mengenai:
1.    Bermacam-macam emosi yang menjalar di luar kesadaran yang ikut menyertai kehidupan beragama orang biasa (umum), seperti rasa lega dan tenteram setelah shalat, rasa lepas dari ketegangan batin sesudah berdoa atau membaca ayat-ayat suci Al-Qura’an, perasaan tenang, pasrah dan menyerah setelah berdzikir dan ingat kepada Allah ketika mengalami kesedihan dan kekecewaan yang bersangkutan.
2.    Bagaimana perasaan dan pengalaman seseorang secara individu terhadap Tuhannya, misalnya rasa tenteram dan kelegaan batin.
3.    Mempelajari, meneliti dan menganalisis pengaruh kepercayaan akan adanya hidup sesudah mati (akhirat) pada tiap-tiap orang.
4.    Meneliti dan mempelajari kesadaran dan perasaan orang terhadap kepercayaan yang berhubungan dengan surga dan neraka serta dosa dan pahala yang turut memberi pengaruh terhadap sikap dan tingkah lakunya dalam kehidupan.
5.    Meneliti dan mempelajari bagaimana pengaruh penghayatan seseorang terhadap ayat-ayat suci, kelegaan batinya.

D.    Sejarah Psikologi Agama
Sumber-sumber Barat mengungkapkan bahwa penelitian secara ilmiah tentang agama dimulai dari kajian para anthropolog. Hasil penelitian Frazer dan Taylor mengenai agama-agama primitif dinilai sebagai gerakan awal dari kajian itu. Selanjutnya sejumlah penelitian juga dilakukan oleh para sosiolog, dan juga ahli psikologi seperti Stanley Hall. Tetapi Edwin Diller Starbuck dipandang sebagai peletak dasar bagi peneliti modern dilapangan psikologi agama. Bukunya yang memuat pembahasan mengenai pertumbuhan perasaan agama yang berjudulThe Psychology of Religion, An Empirical Study of Growth of Religion Counsciousness. Buku yang diterbitkan tahun 1899 tersebut dianggap sebagai buku pertama mengenai psikologi agama oleh kalangan ahli psikologi agama Barat.
Walaupun secara formal pembahasan tentang psikologi agama di dunia Timur (Islam) sama sekali tidak ditemukan, hal ini bukan berarti pada masa itu psikologi agama belum dibicarakan sama sekali. Dari hasil penelitian AE. Afifi ditemukan, bahwa ternyata dalam filsafat mistis Ibnu Arabi telah banyak diuraikan butir-butir kajian kejiwaan yang tidak jauh berbeda dengan yang dikaji dalam psikologi modern.Ibnu Arabi sudah membahas psikologi empiris, sifat-sifat dan fungsi- fungsi jiwa, dan teori tentang mimpi yang banyak diungkapkan oleh Sigmund Freud. Walaupun pembicaraan mengenai butir-butir psikologi tersebut sangat lekat dengani penghayatan sufistiknya, namun hal itu jelas mempunyai arti sangat penting bagi kajian psikologi agama dan kesehatan mental.
Bahasan seputarpengaruh ajaran agama terhadap kehidupan keagamaan banyak ditemukan dalam buku Ihya U`lum Al-Din dan Al-Munqidz Al-Dhalalkarangan Abu Hamid Al-Ghazali. Di dalam buku itu ia tidak hanya menguraikan ajaran agama terhadap kehidupan agama, tetapi lebih dari itu dalam kedua buku tersebut ditemukan tentang pengahayatan Al-Ghazali sendiri terhadap adanya pengaruh ajaran agama terhadap kehidupan keagamaan.
Konversi al-Ghazali, yang dipahami sebagai masa pematangan beragama seseorang sebenarnya merupakan bagian integral kajian psikologi agama. William James tampaknya juga tidak melupakan aspek penting dari kajian psikologi agama ini.
Kesehatan mental yang merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dengan psikologi agama, juga banyak dibahas oleh para ilmuan muslim. Ibnu Sina sebagai filosof dan dikter sudah mendiskusikan hal itu dalam buku al-Syifa’ (the book of healing). Menurut Ibnu Sina, kebahagiaan itu sangat integral dengan akhlak. Kebahagiaan akan dipeeroleh bila seseorang mampu memilih yang baik dan menyingkirkan yang tidak baik. Penyucian dan pembersihan kalbu merupakan kunci utama.
Al-Razi sebagai seorang filosof sufi juga telah membahas tentang psikotherapi. Hal itu dapat ditemukan dalam bukunya al-Thib al-Ruhanty. Dalam buku tersebut, sesuai dengan judulnya Penyembuhan Jiwa, Razi menguraikan perihal pengobatan dan penawaran kejiwaan. Sedangkan yang paling menonjol ialah al-Razi mengemukakan cara penyembuhan dan perawatan kejiwaan dengan pola hidup sufistik melalui konsep zuhud. Berkat karyanya yang monumental tersebut, menurut Sayyed Husin Nasr, al-Razi diposisikan sebagai seorang master yang membidani lahirnya ilmu perawatan jiwa.
Namun demikian, terlepas dari pendapat di atas, dalam Al-Qur’an sendiri terdapat ayat-ayat yang menunjukkan keadaan jiwa orang-orang yang beriman atau sebaliknya, orang-orang kafir, sikap, tingkah laku, doa-doa. Di samping itu, juga terdapat ayat-ayat yang berbicara tentang kesehatan mental, penyakit dan gangguan kejiwaan, serta kalainan sifat dan sikap yang terjadi karena kegoncangan kejiwaan sekaligus tentang perawatan jiwa. Karenanya tidak berlebihan jika Yahya Jaya mengemukakan bahwa psikologi agama, dalam arti yang amat sederhana, telah ada jauh sebelum abad ke-20, yaitu sejak Nabi Adam, yang pernah merasa berdosa, yang menyebabkan jiwanya gelisah dan hatinya sedih. Untuk menghindari kesedihan dan kegelisahan tersebut, ia bertaubat kepada Allah dan taubatnya diterima, sehingga ia merasa lega kembali. Firman Allah:
فَتَلَقَّىٰ ءَادَمُمِنرَّبِّهِۦ كَلِمَٰتٍ فَتَابَعَلَيْهِإِنَّهُۥهُوَٱلتَّوَّابُٱلرَّحِيمُ
“Kemudian Adam menerima beberapa kalimat (untuk bertaubat) dari Tuhannya, maka Allah menerima taubatnya. Sesungguhnya Allah Maha Menerima taubat lagi Maha Penyayang”. (QS. Al-Baqarah (2): 37)

E.     Metode Psikologi Agama
Sebagai disiplin ilmu yang otonom, maka psikologi agama juga memiliki metode penelitian ilmiah. Kajian dilakukan dengan mempelajari fakta-fakta berdasarkan data yang terkumpul dan dianalisis secara objektif.
Karena agama menyangkut masalah yang berkaitan dengan kehidupan batin yang sangat mendalam, maka masalah agama sulit untuk diteliti secara seksama, terlepas dari pengaruh-pengaruh subyektivitas. Namun demikian, agar penelitian mengenai agama dapat dilakukan lebih netral, dalam arti tidak memihak kepada suatu keyakinan atau menentangnya, maka diperlukan adanya sikap yang objektif. Makanya dalam penelitian psikologi agama perlu diperhatikan hal-hal berikut ini:
1.   Memiliki kemampuan dalam meneliti kehidupan dan kesadaran batin manusia.
2.   Memiliki keyakinan bahwa segala bentuk pengalaman dapat dibuktikan secara empiris.
3.   Dalam penelitian haru bersikap filosofis spiritualistis.
4.    Tidak mencampuradukkan anata fakta dengan angan-angan atau perkiraan khayali.
5.    Mengenal dengan baik masalah-masalah psikolgi dan metodenya.
6.    Memiliki konsep mengenai agama serta mengetahui metodologinya.
7.    Menyadari tentang adanya perbedaan antara ilmu dan agama.
8.    Mampu menggunakan alat-alat penelitian yang digunakan dalam penelitian ilmiah.
Dalam meneliti ilmu jiwa, agama menggnakan sejumlah metode, yang antara lain dapat dikemukakan sebagai berikut:
1.      Dokumen Pribadi (Personal Document)
Metode ini digunakan untuk mempelajari tentang bagaimana pengalaman dan kehidupan batin seseorang dalam hubungannya dengan agama. Untuk memperoleh informasi mengenai hal dimaksud, maka cara yang ditempuh adalah mengumpulkan dokumen pribadi orang seorang. Dokumen tersebut mungkin berupa autobiogrfi, biografi, tulisan ataupun catatan-catatan yang dibuatnya.
Didasarkan pertimbangan bahwa agama merupakan pengalaman batin yang bersifat individual di kala seseorang merasakan sesuatu yang gaib, maka dokumen pribadi dinilai dapat memberikan informasi yang lengkap. Selain catatan atau tulisan, juga digunakan dafta pertanyaan kepada orang-orang yang akan diteliti. Jawaban yang diberikan secara bebas memberi kemungkinan bagi responden untuk menyampaikan kesan-kesan batin yang berhubungan dengan agama yang diyakininya.
Dalam penerapannya metode dokumen pribadi ini dilakukan dengan berbagai cara atau teknik-teknik tertentu. Sebenarnya, ada banyak teknik yang digunakan, hanya saja dalam hal ini penulis akan membahas beberapa teknik saja. Diantaranya yang banyak digunakan adalah:
a.       Teknik Nomotatik
Nomotatik merupakan pendekatan psikologis yang digunakan untuk memahami tabiat atau sifat-sifat dasar manusia dengan cara mencoba menetapkan ketentuan umum dari hubungan antara sikap dan kondisi yang dianggap sebagai penyebab terjadinya sikap tersebut. Sedangkan sikap yang terliha sebagai kecenderungan sikap umum itu dinilai sebagai gabungan sikap yang terbentuk dari sikap-sikap individu yang ada di dalamnya, Philip G. Ziambardo (dalam Jalaludin).
b.      Teknik Analisis Nilai (Value Analysis)
Teknik ini digunakan dengan dukungan analisis statistik. Data yang terkumpul diklasifikasikan menurut teknik statistik dan dianalisis untuk dijadikan penilaian terhadap individu yang diteliti. Teknik statistik digunakan berdasarkan perimbangan bahwa ada sejumlah pengalaman keagamaan yang dapat dibaha dengan menggunakan bantuan ilmu eksakta, terutama dalam mencari hubungan antara sejumlah variabel.
c.       Teknik Idiography
Teknik ini juga merupakan pendekatan psikolgis yang digunakan untuk memahami sifat-sifat dasar (tabiat) manusia. Berbeda dengan nomotatik, maka ideography lebih dipusatkan pada hubungan antara sifat-sifat dimaksud dengan keadaan tertentu dan aspek-aspek kepribadian yang menjadi ciri khas masing-masing individu dalam upaya untuk memahami seseorang.
d.      Teknik Penilaian terhadap Sikap (Evaluation Attitudes Technique)
Teknik ini digunakan dalam penelitian terhadap biografi, tulisan, atau dokumen yang ada hubungannya dengan individu yang akan diteliti. Berdasarkan dokumen tersebut kemudian ditarik kesimpulan, bagaimana pendirian seseorang terhadap persoalan-persoalan yang dihadapinya dalam kaitan hubungannya dengan pengalaman dan kesadaran agama.
2.      Kuesioner dan Wawancara
Metode kuesioner maupun wawancara digunakan untuk mengumpulkan data dan informasi yang lebih banyak dan mendalam secara langsung kepada responden.
Dalam penerapannya, metode kuesioner dan wawancara dilakukan dalam berbagai bentuk. Di antara cara yang digunakan adalah teknik pengumpulan data melalui:
a.       Pengumpulan pendapat masyarakat (Public Opinion Polls)
Teknik ini merupakan gabungan antara kuesioner dan wawancara. Cara mendapatkan data adalah melalui pengumpulan pendapat khalayak ramai. Data tersebut selanjutnya dikelompokkan sesuai dengan klasifikasi yang sudah dibuat berdasarkan kepentingan penelitian.
b.      Skala penilaian (Rating Scale)
Teknik ini digunakan untuk memperoleh data tentang faktor-faktor yang menyebabkan perbedaan khas dalam diri seseorang berdasarkan pengaruh tempat dan kelompok, misalnya. Dengan adanya penyebab yang khas ini peneliti  dapat memahami latar belakang timbulnya perbedaan antarpenganut suatu keyakinan agama. Misalnya sikap liberal lebih banyak dijumpai di kalangan penganut Protestan, dan sikap konservatif lebih banyak dijumpai di kalangan penganut agama Katolik.
c.       Tes (Test)
Tes digunakan dalam upaya mempelajari tingkah laku keagamaan seseorang dalam kondisi tertentu. Untuk memperoleh gambaran yang diinginkan, biasanya diperlukan bentuk tes yang sudah disusun secara sistematis.
d.      Eksperimen
Teknik eksperimen digunakan untuk mempelajari sikap dan tingkah laku keagamaan seseorang melalui perlakuan khusus yang sengaja dibuat.
e.       Observasi melalui pendekatan sosiologi dan antropologi
         (Sociological and anthropological observation)
Penelitian dilakukan dengan menggunakan data sosiologi dengan mempelajari sifat-sifat manusiawi orang per orang atau kelompok.
f.       Studi agama berdasarkan pendekatan antropologi budaya
Cara ini digunakan dengan membandingkan antara tindak keagamaan (upacara, ritus) dengan menggunakan pendekatan psikologi. Melalui pengukuran statistik kemudian dibuat tolok ukur berdasarkan pendekatan psikologi yang dihubungkan dengan kebudayaan. Misalnya, adanya persaudaraan antara sesama orang yang ber-Tuhan, masalah ke-Tuhanan dan agama, adanya kebenaran keyakinan yang terlihat dalam bentuk formalitas, bentuk-bentuk praktek keagamaan, dan sebagainya.
Penggunaan metode-metode dalam penelitian psikologi agama sebenarnya dapat dilakukan dengan beragam, tergantung kepada kepentingan dan jenis data yang akan dikumpulkan. Adakalanya seseorang lebih memilih dokumen pribadi untuk meneliti pengalaman agama. Demikian pula ada yang selain menggunakan dokumen pribadi, baik berupa riwayat hidup, buku harian, catatan, pernyataan, juga menggunakan angket dan wawancara sebagai pelengkap. Dengan banyaknya metode yang mungkin digunakan, terlihat bahwa metode yang dipakai dalam penelitian psikologi agama tidak berbeda dengan metode yang dipakai dalam penelitian ilmiah dalam cabang disiplin ilmu pengetahuan lain.



BAB III
PENUTUP

A.      Kesimpulan
Psikologi agama merupakan cabang psikologi yang meneliti dan mempelajari tingkah laku manusia dalam hubungan dengan pengaruh keyakinan terhadap agama yang dianutnya serta dalam kaitannya dengan perkembangan usia masing-masing.
Prof. Dr. Zakiah Daradjat menyatakan bahwa lapangan penelitian psikologi agama mencakup proses beragama, perasaan dan kesadaran beragama dengan pengaruh dan akibat-akibat yang dirasakan sebagai hasil dari keyakinan (terhadap suatu agama, yang dianut). Oleh karena itu, menurut Prof. Dr. Zakiah Daradjat, ruang lingkup yang menjadi lapangan kajian psikologi agama meliputi kajian mengenai:
1.        Bermacam-macam emosi yang menjalar di luar kesadaran yang ikut menyertai kehidupan beragama orang biasa (umum).
2.        Bagaimana perasaan dan pengalaman seseorang secara individual terhadap Tuhannya.
3.        Mempelajari, meneliti, dan menganalisis pengaruh kepercayaan akan adanya hidup sesudah mati (akhirat) pada tiap-tiap orang.
4.        Meneliti dan mempelajari kesadaran dan perasaan orang terhadap kepercayaan yang berhubungan dengan surga dan neraka serta dosa dan pahala yang turut memberi pengaruh terhadap sikap dan tingkah lakunya dalam kehidupan.
5.        Meneliti dan mempelajari bagaimana pengaruh penghayatan seseorang terhadap ayat-ayat suci kelegaan batinnya.
Hasil kajian psikologi agama tersebut, ternyata dapat dimanfaatkan dalam berbagai lapangan kehidupan, seperti dalam bidang pendidikan, psikoterapi, kedokteran, pengobatan alternatif misalnya ruqyah, ekonomi/perikanan, dakwah, politik maupun mendorong program-program Pemerintah seperti KB, transmigrasi, pelestarian lingkungan hidup dan sebagainya.

DAFTAR PUSTAKA


Baharuddin dan Mulyono, Psikologi Agama dalam Perspektif Islam, Malang: Uin Malang Press, 2008.
Jalaluddin, Psikologi Agama, Jakarta: RajaGrafindo Persada, 2012.
Ramayulis, Psikologi Agama, Jakarta: Kalam Mulia, 2011.
Ramayulis, Psikologi Agama, Jakarta: Kalam Mulia, 2009.


0 Response to "MAKALAH PENGERTIAN DAN RUANG LINGKUP PSIKOLOGI AGAMA"

Post a Comment