MAKALAH MENYANTUNI KAUM DHUAFA

Untuk Memudahkan Pencarian Dokumen Pendidikan Gunakan Filtur Pencarian di Bawah ini

MAKALAH MENYANTUNI KAUM DHUAFA


BAB I
PENDAHULUAN


1.1  LATAR BELAKANG
Akhir-akhir ini banyak kejadian dalam kehidupan masyarakat yang membutuhkan bantuan dan uluran tangan. Akibat dari krisis ekonomi yang berkepanjangan, yang hingga sekarang belum ada ujungnya. Banyak terdapat kaum dhuafa yang membutuhkan uluran tangan dari semua yang berada di kalangan atas. Dhuafa sendiri merupakan sebuah kelompok manusia yang dianggap lemah atau mereka yang tertindas.
Dalam hadist di terangkan, seorang bertanya kepada Nabi SAW, “Islam yang bagaimana yang baik ? “ Nabi SAW menjawab, “Membagi makanan (kepada fakir miskin) dan memberi salam kepada yang dia kenal dan yang tidak dikenalnya.” (HR.Bukhari). Dalam hadist yang lain juga dijelaskan bahwa perumpamaan orang-orang yang beriman di dalam saling cinta kasih dan belas kasih seperti satu tubuh. Apabila kepala mengeluh (pusing) maka seluruh tubuh tidak bisa tidur dan demam. (HR. Muslim).
Dengan latar belakang tersebut kami disini menyunguhkan tentang bagaimana menanggapi masalah menyantuni kaum dhuafa.

1.2  RUMUSAN MASALAH
  1. Apa pengertian kaum dhuafa ?
  2. Apakah saja dalil tentang menyantuni kaum dhuafa?
  3. Apakah yang dimaksud dengan menyantuni ?
  4. Apa saja contoh penerapan dan sikap perilaku dari ayat tersebut?
1.3 TUJUAN
  1. Menjelaskan pengertian kaum dhuafa
  2. Mengetahui dalil dan perintah Allah untuk menyantuni kaum dhuafa
  3. Mengetahui pengertian menyantuni
  4. Mengetahui penerapan dan sikap perilaku dari ayat tersebut
BAB II
PEMBAHASAN
2.1  PENGERTIAN KAUM DHUAFA
Kaum dhuafa adalah golongan manusia yang hidup dalam kemiskinan, kesengsaraan, kelemahan, ketakberdayaan, ketertindasan, dan penderitaan yang tiada putus. Kaum dhuafa terdiri dari orang-orang yang terlantar , fakir miskin, anak-anak yatim dan orang cacat.
Pengertian Kaum Dhuafa
  • Dari segi ekonomi : adalah mereka yang fakir dan miskin (tertekan keadaan) bukan malas.
  • Dari segi Fisik : adalah mereka yang kurang tenaga (bukan karena malas).
  • Dari segi Otak : adalah mereka yang kurang cerdas (bukan karena malas)
  • Dari segi Sikap : adalah mereka yang terbelakanag (bukan karena malas)
2.2  PERINTAH UNTUK MENYANTUNI KAUM DHUAFA
Berikut adalah dalil tentang menyantuni kaum dhuafa yang terdapat dalam Al-Quran :
  1. Surat Al Isra’ Ayat 26 & 27
Artinya :
(26) Dan berikanlah haknya kepada kerabat dekat, juga kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan; dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros.
(27) Sesungguhnya orang-orang yang pemboros itu adalah saudara setan dan setan itu sangat ingkar kepada Tuhannya.
  1. Surat Al-Baqarah 177
(177) bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi Sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari Kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. mereka Itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka Itulah orang-orang yang bertakwa.

Kandungan
Surat Al Isra’ ayat 26 dan 27
Pada ayat 26, dijelaskan bahwa selain berbakti, berkhidmat, dan menanamkan kasih sayang, cinta, dan rahmat kepada orang tua, ita pun hendaknya memberi bantuan kepada kaum keluarga yang dekat karena mereka paling utama dan berhak untuk ditolong. Allah memrintahkan manusia untuk berbakti dan berbuat baik tidah hanya kepada orang tua saja, namun masih harus berbuat baik kepada tiga golongan lain,yaitu kepada kerabat, orang miskin, dan orang terlantar.
Pada ayat 27, Allah mengingatkan bahwa betapa buruknya sifat orang yang boros. Mereka dikatakan sebagai saudara setan karena suka mengikuti dan sangat penurut kepadanya. Orang yang boros bermakna orang yang membelanjakan hartanya dalam perkara yang tidak mengandung ketaatan.
Surat Al-Baqarah ayat 177
Pada ayat ini yang dimaksud dengan kebaikan adalah beriman kepada Allah, hari akhir, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan senantiasa mewujudkan keimanannya di dalam kehidupan sehari-hari. Contoh-contoh dari perbuatan baik tersebut antara lain sebagai berikut:
  1. Memberi harta yang dicintainya kepada karib kerabat yang membutuhkannya.
  2. Memberikan bantuan kepada anak yatim.
  3. Memberikan harta kepada musafir yang membutuhkan.
  4. Memberi harta kepada orang-orang yang terpaksa meminta-minta.
  5. Memberikan harta untuk memerdekakan hamba sahaya.
  6. Memjalankan ibadah yang telah diperintahkan Allah denagn penuh keikhlasan.
  7. Menunaikan zakat kepada orang yang berhak menerimanya.
  8. Menepati janji bagi mereka yang mengadakan perjanjian. Akan tetapi, terhadap janji yang bertentangan dengan hukum Allah (syariat islam) seperti janji dalam perbuatan maksiat, maka janji itu tidak boleh (haram) dilakukan.
2.3  PENGERTIAN MENYANTUNI
            Maksud dari menyantuni kaum dhuafa ialah memberikan harta atau barang yang bermanfaat untuk dhuafa, dan menurut para ulama menyantuni kaum dhuafa akan menyelamatkan diri kita dari api neraka. Untuk anak yatim, Islam memerintahkan kita untuk memeliharanya, memuliakannya dan menjaga hartanya sampai anak yatim tersebut dewasa, mandiri dan bisa mengurus hartanya sendiri. Untuk fakir miskin, kita harus menganjurkan orang untuk memberi makan.

2.4  PENERAPAN SIKAP DAN PERILAKU
Pencerminan terhadap Surah Al Isra ayat 26-27 dan Al Baqarah Ayat 177 dapat melahirkan perilaku, antara lain sebagai berikut:
  1. Bekerja dengan tekun untuk mencari nafkah demi keluarga.
  2. Suka menabung dan tidak pernah berlaku boros meskipun memiliki banyak harta.
  3. Menjauhi segala macam kegiatan yang sia-sia dan menghabiskan waktu percuma.
  4. Suka bersedekah, khusunya terhadap orang yang kekurangan dimulai dari keluarga dan tetangga terdekat.
  5. Mempelajari ilmu agama dan mengamalkan dalam kehidupan sehari-hari.


BAB V
PENUTUP
5.1 KESIMPULAN
Kaum dhuafa adalah golongan manusia yang hidup dalam kemiskinan, kesengsaraan, kelemahan, ketakberdayaan, ketertindasan, dan penderitaan yang tiada putus. Kaum dhuafa terdiri dari orang-orang yang terlantar , fakir miskin, anak-anak yatim dan orang cacat.
Sebaiknya kita sebagai orang yang berkecukupan, harus lebih bersyukur dengan apa yang telah kita punya dengan selalu melihat orang-orang yang ada dibawah kita dalam hal materi.dan sebagai orang yang berkecukupan, kita harus membantu dan membagi sedikit apa yang kita punya untuk meringankan beban mereka.



DAFTAR PUSTAKA
http://www.jawaposting.blogspot.com/2010/10/makalah-membantu-kaum-dhuafa.html
http://www.menyantuni-kaum-dhuafa.blogspot.com
http://www.bab-2-menyantuni-kaum-dhuafa_4154%20makalah.htm
http://www.Tiach%20oppppzzzzz%20%20MENYANTUNI%20KAUM%20DHU%E2%80%99AFA.htm
http://www.i%27m%20princess%20belle%20%E2%98%BA%20%20Ayat-ayat%20Al-Quran%20Tentang%20Menyantuni%20kaum%20dhuafa.htm
http://www.ISLAM%20%20Perintah%20Menyantuni%20Kaum%20Dhuafa.htm


Apakah Postingan ini Keren Bermanfaat Guys? Please Bantu Viralkan Guys!

URL:HTML:BB(forum):
Posted by SahrulParawie
WAHANA BELAJAR & BERBAGI ANEKA DOKUMEN PENDIDIKAN Updated at: 4/11/2018 08:28:00 AM