MAKALAH HUKUM ISLAM, HUKUM TAKLIFI DAN HUKUM WADI - WAHANA BELAJAR & BERBAGI ANEKA DOKUMEN PENDIDIKAN

MAKALAH HUKUM ISLAM, HUKUM TAKLIFI DAN HUKUM WADI


BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Islam adalah agama yang sempurna yang sudah barang tentu mengandung aturan dan hukum yang harus dipatuhi dan dijalankan oleh seluruh umatnya. Setiap aturan dan hukum memiliki sumbernya sendiri sebagai pedoman dalam pelaksanaannya.
Islam sebagai agama yang sempurna memiliki hukum yang datang dari Yang Maha Sempurna, yang disampaikan melalui Rasul-Nya Muhammad SAW. Hukum Islam termaktub lengkap dalam Al-Qur’an dan Sunnah, yang kemudian disebut sebagai Sumber Hukum Islam. Al-Qur’an dan Sunnah adalah dua hal yang menjadi pedoman utama bagi umat Islam dalam menjalankan hidup demi mencapai kesempurnaan dunia dan akhirat.
Selain Al-Qur’an dan Sunnah, juga terdapat beberapa dalil yang dijadikan sebagai sumber hukum Islam, di antaranya ialah ijma’ dan qiyas.

1.2 Rumusan Masalah
1.2.1     Apa yang dimaksud dengan hukum?
1.2.2     Apa yang dimaksud dengan sumber hukum Islam?
1.2.3     Bagaimana pengertian, kedudukan, dan fungsi Al-Qur’an?
1.2.4     Bagaimana pengertian, kedudukan, dan fungsi Hadis?
1.2.5     Bagaimana pengertian, kedudukan, dan fungsi Ijtihad?
1.2.6     Apa pengertian hukum Takfili dan hukum Wad’i, bagaimana kedudukan dan fungsinya?
1.2.7     Bagaimana penerapan hukum Takfili dan hukum Wad’i dalam kehidupan sehari-hari?
1.2.8     Bagaimana sejarah dakwah Rasulullah SAW dalam periode Mekah?
1.2.9     Bagaimana pengangkatan Nabi Muhammad SAW sebagai Rasul?
1.2.10  Bagaimana ajaran Islam periode Mekah?
1.2.11  Bagaimana stategi dakwah Rasulullah SAW periode Mekah?
1.2.12  Bagaimana reaksi kaum kafir Quraisy terhadap dakwah Rasulullah SAW?

1.3 Batasan Masalah
Pemahaman pembaca mengenai sumber hukum Islam dan sejarah keteladanan Rasulullah SAW periode Mekah.


BAB II
PEMBAHASAN

4.1 SUMBER HUKUM ISLAM, HUKUM TAKLIFI, dan HUKUM WAD’I
A.   Sumber Hukum Islam

1.    Pengertian Hukum Dan Sumber Hukum Islam

            Hukum menurut pengertian bahasa berarti menetapkan sesuatu atau tidak menetapkannya. Misalnya, menetapkan sifat panas pada api dan menetapkan sifat dingin pada es atau tidak menetapkannya. Menurut istilah ahli usul fikih, hukum adalah khitab atau perintah Allah SWT, yang menuntut mukalaf (orang yang sesudah balig dan berakal sehat) untuk memilih antara mengerjakan dan tidak mengerjakan atau menjadikan sesuatu sebagai sebab, syarat atau penghalang bagi adanya yang lain, sah, batal, rukhsah (kemudahan), dan azimah.
            Menurut istilah ahli fikih, hukum adalah akibat yang ditimbulkan oleh tuntutan syariat, berupa al-wujub, al-mandub, al-hurmah, al-karahah dan al-ibadah. Sedangkan perbuatan yang dituntut itu disebut wajib, sunnah (mandub), haram, makruh, dan mubah
            Maksud sumber hukum adalah segala sesuatu yang melahirkan atau menimbulkan aturan yang mempunyai kekuatan yang bersifat mengikat, yang apabila dilanggar akan menimbulkan sanksi yang tegas dan nyata. Dengan demikian sumber hukum Islam adalah segala sesuatu yang dijadikan dasar, acuan, atau pedoman syariat Islam.
            Pada umumnya ulama fikih sependapat bahwa sumber utama hukum Islam adalah Al-Qur’an dan Hadis. Rasulullah SAW bersabda: “Aku tinggalkan bagi kalian dua hal yang karenanya kalian tidak akan tersesat selama-lamanya, selama kalian berpegangan pada keduanya, yaitu Kitab Allah (Al-Qur’an) dan Sunahku (Hadis).” (H.R. Baihaqi)
            Di samping itu, para ulama fikih menjadikan ijtihad sebagai salah satu dasar hukum Islam, setelah Al-Qur’an dan Hadis. Dasar hukum ijtihad adalah Hadis Nabi Muuhammad SAW yang diriwayatkan oleh Turmuzi dan Abu Daud yang mengungkapkan dialog Nabi SAW dengan Mu’az bin Jabal, ketika Mu’az akan ditugaskan sebagai Gubernur Yaman.

2.    Pengertian, Kedudukan, Dan Fungsi Al-Qur’an

a.    Pengertian
Secara harfiah, Al-Qur’an berasal dari bahasa Arab yang artinya bacaan atau himpunan. Al-Qur’an berarti bacaan, karena merupakan kitab yang wajib dibaca dan dipelajari, dan berarti himpunan karena merupakan himpunan firman-firman Allah SWT (wahyu).
Menurut istilah, Al-Qur’an adalah kitab suci umat Islam yang berisi firman-firman Allah SWT yang diwahyukan dalam bahasa Arab kepada rasul/nabi terakhir Nabi Muhammad SAW, yang membacanya adalah ibadah.
Al-Qur’an memiliki beberapa nama, seperti Al-Kitāb atau Kitab Allah SWT (Q.S. Al-Baqarah, 2: 2), Al-Furqān yang artinya pembeda antara benar dan salah (Q.S. Al-Furqān 25: 1), Aż-Żikr yang berarti peringatan (Q.S. Al-Ḥijr, 15: 9), dan At-Tanzīl yang artinya diturunkan (Q.S. Asy-Syu’arā’, 26: 192)

b.    Kedudukan
Al-Qur’an sebagai kitab Allah SWT menempati posisi sebagai sumber pertama dan utama dari seluruh ajaran Islam, baik yang mengatur hubungan manusia dengan dirinya sendiri, hubungan manusia dengan Allah SWT, hubungan manusia dengan sesamanya, dan hubungan manusia dengan alam. Dalil naqli bahwa Al-Qur’an merupakan sumber hukum Islam yang pertama dan utama antara lain Q.S. An-Nisā’, 4: 59, Q.S. An-Nisā’, 4: 105 dan Hadis.
Hadis yang menjelaskan bahwa Al-Qur’an merupakan sumber hukum Islam yang pertama dan utama adalah hadis riwayat Turmuzi dan Abu Daud yang berisi dialog, antara Rasulullah SAW dengan sahabatnya Mu’az bin Jabal, gubernur Yaman, sebagaimana sudah dikemukakan terdahulu.

c.    Fungsi
Al-Qur’an berfungsi sebagai petunjuk atau pedoman bagi umat manusia dalam mencapai kebahagiaan hidup di dunia dan di akhirat (Q.S. Al-Isrā’, 17: 9). Al-Qur’an  merupakan mukjizat terbesar yang Allah SWT karuniakan kepada Nabi Muhammad SAW terdiri dari 30 juz dan 114 surah, 89 Surah Makkiyyah dan 25 Surah Madaniyyah. Sedangkan jumlah ayat-ayatnya, 4.726 ayat dari Surah-surah Makkiyyah dan 1510 ayat dari Surah-surah Madaniyyah.
Sebagai pedoman hidup bagi umat manusia, isi atau kandungan Al-Qur’an dapat dibagi menjadi tiga pembahasan pokok, yaitu: (1) Akidah (keimanan), (2) Ibadah, (3) prinsip-prinsip syariat, yaitu meliputi pembahasan tentang manusia, sosial, ekonomi, musyawarah, hukum perkawinan, hukum waris, hukum perdana, dan hukum antarbangsa.

3.    Pengertian, Kedudukan, dan Fungsi Hadis

a.    Pengertian
Perkataan hadis berasal dari bahasa Arab yang artinya baru, tidak lama, ucapan, pembicaraan, dan cerita. Menurut istilah ahli hadis yang dimaksud dengan hadis adalah segala berita yang bersumber dari Nabi Muhammad SAW berupa ucapan, perbuatan, dan takrir (persetujuan Nabi SAW) serta penjelasan sifat-sifat Nabi SAW.

b.    Kedudukan
Para ulama Islam berpendapat bahwa hadis menempati kedudukan pada tingkat kedua sebagai sumber hukum Islam setelah Al-Qur’an. Mereka beralasan kepada dalil-dalil Al-Qur’an surah Ali-’Imran 3:132, surah Al-Ahzab 33:36 dan Al-Hasyr 59:7, serta hadis riwayat Turmuzi dan Abu Daud yang berisi dialog antara Rasulullah SAW dengan sahabatnya Mu’az bin Jabal tentang sumber hukum Islam.

c.    Fungsi
Fungsi atau peranan hadis (sunah) di samping Al-Qur’anul Karim adalah:
1)    Mempertegas atau memperkuat hukum-hukum yang telah disebutkan dalam Al-Qur’an (bayan at-taqriri atau at-ta’kid).
2)    Menjelaskan, menafsirkan, dan merinci ayat-ayat Al-Qur’an yang masih umum dan samar (bayan at-tafsir).
3)    Mewujudkan suatu hukum atau ajaran yang tidak tercantum dalam Al-Qur’an (bayan at-tasyri) namun pada prinsipnya tidak bertentangan dengan Al-Qur’an.

4.    Pengertian, Kedudukan, dan Fungsi Ijtihad
a.    Pengertian
Menurut pengertian kebahasaan kata ijtihad berasal dari bahasa Arab, yang kata kerjanya “jahada” yang artinya berusaha dengan sungguh-sungguh.
b.    Kedudukan
      Ijtihad menempati kedudukan sebagai sumber hukum Islam setelah Al-Qur’an dan Hadis. Dalilnya adalah Al-Qur’an dan Hadis. Allah SWT berfirman yang artinya: ”Dan dari mana saja kamu keluar maka palingkanlah wajahmu ke arah Masjidil Haram dan di mana saja kamu (sekalian) berada maka palingkanlah wajahmu ke arahnya.” (Q.S.Al-Baqarah,2:150)

c.    Fungsi
Fungsi ijtihad ialah untuk menetapkan hukum sesuatu yang tidak ditemukan dalil hukumnya secara pasti di dalam Al-Qur’an dan Hadis.

 

Bentuk-bentuk ijtihad

   Ijma'

Ijma' artinya kesepakatan, yakni kesepakatan para ulama dalam menetapkan suatu hukum hukum dalam agama berdasarkan Al-Qur'an dan Hadis dalam suatu perkara yang terjadi.

   Qiyâs

Qiyas artinya menggabungkan atau menyamakan, artinya menetapkan suatu hukum perkara yang baru yang belum ada pada masa sebelumnya namun memiliki kesamaan dalam sebab, manfaat, bahaya dan berbagai aspek dengan perkara terdahulu sehingga dihukumi sama.

   Maslahah murshalah

Adalah tindakan memutuskan masalah yang tidak ada naskahnya dengan pertimbangan kepentingan hidup manusia berdasarkan prinsip menarik manfaat dan menghindari kemudharatan.

   Istishab

Adalah tindakan menetapkan berlakunya suatu ketetapan sampai ada alasan yang bisa mengubahnya.
   Urf
Adalah tindakan menentukan masih bolehnya suatu adat-istiadat dan kebiasaan masyarakat setempat selama kegiatan tersebut tidak bertentangan dengan aturan-aturan prinsipal dalam Alquran dan Hadis.

B.   Hukum taklifi dan hukum wad’i
1.    Pengertian Hukum Taklifi dan Hukum wad’i Kedudukan dan Fungsinya
a.    Pengertian
Hukum taklifi menurut pengertian kebahasaan adalah hukum pemberian beban. Sedangkan menurut istilah ialah ketentuan Allah SWT yang menuntut mukalaf (balig dan berakal sehat) untuk melakukan atau meninggalkan suatu perbuatan, atau berbentuk pilihan untuk melakukan suatu perbuatan.
Tuntunan Allah SWT untuk melakukan suatu perbuatan misalnya mendirikan salat dan menunaikan zakat. Tuntunan Allah tersebut melahirkan kewajiban untuk melaksanakan salat dan menunaikan zakat bagi setiap orang yang telah memenuhi syarat wajibnya.
Tuntunan Allah SWT meninggalkan suatu perbuatan misalnya janganlah membunuh jiwa yang diharamkan Allah melainkan dengan suatu alasan yang benar . Tuntunan tersebut bersifat pasti yakni dilarang membunuh jiwa yang diharamkan Allah maka pelakunya mendapat dosa.
Tuntunan Allah SWT yang mengandung pilihan misalnya dalam firman Allah berikut ini “Apabila telah ditunaikan salat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi“.
Tuntunan untuk mencari rezeki setelah selesai salat jum‘at itu, semula merupakan suatu kewajiban. Karna masalah mencari rezeki itu tidak wajib bagi semua orang, dan tidak wajib juga mencari rezeki setelah salat jum’at.

b.    Kedudukan dan fungsi
Kedudukan dan fungsi hukum taklifi adalah membahas sumber hukum islam yang utama yaitu Qur’an dan hadis dari segi perintah Allah dan Rosulnya wajib dikerjakan, dan larangan-larangan Allah dan Rosulnya harus ditinggalkan.
Macam – macam hukum taklifi:
1.    Al-Ijab, yaitu tuntunan secara pasti dan syariat untuk dilaksanakan, tidak boleh ditinggalkan, karna orang yang meninggalkannya dikenai hukuman. Bentuk hukuman dari al-ijab ialah wajib (fardu). Perbuatan fardu ditinjau dari segi orang yang melakukannya dapat dibagi menjadi dua :
Fardu’ain yaitu perbuatan yang harus dikerjakan setiap mukalaf contoh: melaksanakan puasa ramadhan, salat lima waktu, haji, berbakti pada orang tua.
Fardu kifayah yaitu perbuatan yang harus dilakukan oleh salah seorang anggota masyarakat, jika perbuatan tersebut dikerjakan minimal seorang masyarakat maka anggota masyarakat lain tidak dikenai kewajiban dan bila tidak dikerjakan oleh seorang pun maka seluruh anggota masyarakat dianggap berdosa. Contoh: memandikan, mengkafani, mensalatkan dan menguburkan jenazah seorang muslim.
2.    An-Nadb, yaitu tuntunan dari syariat untuk melaksanakan suatu perbuatan, bila dikerjakan dapat pahala dan ditinggalkan tidak dapat siksa. Perbuatan sunnah dibagi menjadi dua yaitu: 
Sunnah’ain yaitu perbuatan yang dianjurkan contoh: salat sunnah rawatib dll.
Sunnah kifayah yaitu perbuatan yang dianjurkan untuk dikerjakan oleh seseorang atau beberapa orang dari golongan masyarakat. Contoh: mendoakan orang bersin dengan lafal yarhamukallah (semoga Allah merahmati anda)
3.    Al-karahah ialah sesuatu yang dituntut kepada mukalaf hukumnya makruh yaitu orang mengerjakannya tidak berdosa dan yang meninggalkannya mendapat pahala. Contoh: berjulan ketika azan jumat dll.
4.    Al_tahrim ialah tuntunan untuk tidak mengerjakan suatu perbuatan atas sebab yang pasti. Hukumnya ialah haram bila dikerjakan berdosa dan bila ditingalkan mendapat pahala. Contoh: minum minuman keras dan durhaka pada orang tua dll.

5.    Al-ibahah yaitu firman Allah yang mengandung pilihan untuk melakukan atau meninggalkan suatu perbuatan. Hukumnya ialah mubah yaitu perbuatan yang boleh dikerjakan dan ditinggalkan tidak dapat pahala ataupun berdosa. Contoh: memakan jenis makanan halal dll.

Bentuk hukum wad’I ialah merupakan ketentuan Allah yang mengatur tentang sebab, syarat mani (penghalang), batalazimah dan rukhsah dalam islam.
1.    Sebab adalah suatu keadaan atau pristiwa yang dijadikan sebagai sebab adanya hukum dan sebaliknya. Contoh: transaksi jual beli menjadi sebab perpindahan hak milik dari penjual kepada pembeli.
2.    Syarat adalah suatu yang dijadikan sebagai pelengkap terhadap perintah syar’i tidak sah pelaksanaan suatu syar’i kecuali dengan adanya syarat tersebut. Contoh: menutup aurat merupakan syarat sah salat dengan ini orang yang salat terbuka aurat nya  maka salatnya dianggap tidak sah.
3.    Mani (penghalang) adalah suatu keadaan atau peristiwa yang ditetapkan menjadi penghalang bagi adanya hukum. Contoh : najis yang ada di badan atau pakaian orang yang sedang mengerjakan menjadi penghalang bagi sahnya salat.
4.    Azimah dan Rukhsah adalah peraturan Allah SWT yang asli dan tersurat pada Qur‘an misalnya kewajiban salat lima waktu dan puasa Ramadan. Rukhsah adalah ketentuan yang di syariatkan oleh Allah sebagai keringanan yang diberikan kepada mukalaf dalam keadaan khusus. Misal bagi orang dalam perjalanan jauh diberi keringanan untuk mengerjakan salat zuhur di waktu asar dan salat maghrib di waktu isya.

2.    Penerapan hukum taklifi dan hukum wad’I dalam kehidupan sehari-hari
Setiap muslim atau muslimah hendaknya menerapkan hukum taklifi dan hukum wad’I dalam kehidupan sehari-hari seorang muslim/muslimah yang menerapkan hukum taklifi dalam kehidupan sehari-hari tentu selama hidup di alam dunia ini akan senantiasa melaksanakan perintah allah dan meninggalkan segala larangan allah. Seorang muslim/muslimah yang menerapkan hukum wad’I tentu akan senantiasa beribadah kepada allah dengan dilandasi rasa ikhlas karena allah dan sesuai dengan ketentuan syara’ yakni terpenuhi syarat-syarat sahnya rukun-rukunnya dan dipelihara dari hal-hal yang membatalkannya.
Beruntunglah muslim/muslimah yang selama hidup di dunia senantiasa menerapkan huum taklifi dan hukum wad’I dalam kehidupan, serta-serta kebaikan-kebaikan yang banyak baik di alam dunia maupun di akhirat.

4.2 KETELADANAN RASULULLAH SAW PERIODE MEKAH
A.   Sejarah Dakwah Rasulullah SAW Periode Mekah

1.    Masyarakat Arab Jahiliah Periode Mekah
Objek  dakwah rasulullah SAW pada awal kenabian adalah masyarakat Arab jahilliah atau masyarakat  yang masih berada dalam kebodohan. Kebodohan masyarakat Arab waktu itu  terdapat dalam bidang agama, moral , dan hukum .
        Dalam bidang agama, umumnya masyarakat Arab waktu itu sudah menyimpang jauh dari ajaran agama Tauhid yang telah diajarkan oleh para rasul terdahulu , seperti Nabi Ibrahim A.S. mereka umumnya beragama watsani atau agama penyembahan . Berhala-berhala yang mereka puja itu mereka letakkan di Ka’bah (Baitullah = rumah Allah SWT) yang jumlahnya  mencapai 300 lebih . Di antara berhala-berhala yang termashyur bernama: Ma’abi , Hubal , Khuza’ah ,Lata ,Uzaa , dan Manat .
       Selain  itu ada pula sebagian masyarakat arab jahiliah yang menyembah malaikat dan bintang yang dilakukan kaum Sabi’in serta menyembah matahari  , bulan , dan jin yang diperbuat oleh sebagian masyarakat di luar kota mekah . Dalam bidang moral , masyarakat  Arab jahiliah telah menempuh cara-cara yang sesat seperti :
·         Bila terjadi peperangan antarkabilah , maka kabilah yang kalah perang akan dijadikan budak oleh kabilah yang menang perang .
·         Menempatkan  perempuan pada kedudukan rendah . Dalam masyarakat  Arab jahiliah perempuan tidak berhak mewarisi harta peninggalan suaminya , ayahnya , atau anggota keluarga yang lain. Bahkan seorang wanita (istri) boleh diwarisi oleh anak tirinya atau anggota  keluarga lain dari suaminya yang telah mati .
·         Memiliki kebiasaan buruk , yakni berjudi  dan minum-minuman keras . Kejahiliah mereka dalam bidang hukum antara lain anggapan mereka bahwa judi, bermabuk-mabuk, berzina, mencuri, merempok dan membunuh bukan merupakan perbuatan salah .
Namun  perlu diketahui bahwa tidak semua perilaku masyarakat Arab jahiliah itu buruk , tetapi ada pula yang baik seperti : memiliki keberanian dalam kepahlawanan, suka menghormati tamu, murah hati, dan mempunyai harga diri. Dalam bidang perdagangan  ada sebagian masyarakat  Arab jahiliah yang sudah memiliki kemajuan . misalnya , para pedagang dari kabilah  Quraisy, Libanon, Palestina, dan Yordania  dan pada musim dingin ke yaman (Q.S Quraisy , 106: 1-4). Mereka memperdagangkan bulu domba, unta, kulit binatang, dan tali .


2.    Pengangkatan Nabi Muhammad SAW sebagai Rasul
Allah SWT , Tuhan yang maha Esa dan Maha Pengasih lagi Maha  Penyayang tidak membiarkan umat manusia khususnya masyarakat Arab berada dalam kebodohan sepanjang zaman . lalu Dia mengutus seorang nabi dan rasul –Nya  yang terakhir yakni Nabi Muhammad SAW . Pengangkatan Muhammad sebagai nabi atau rasul Allah SWT  terjadi pada tanggal 17 ramadan , 13 tahun sebelum hijriah (610 M) tatkala beliau sedang bertahannus di Gua Hira, waktu itu beliau genap berusia 40 tahun. Gua Hira terletak di  Jabal Nur beberapa kilometer sebelah utara kota Mekah dan berada di lerengnya (kira-kira berjalan 20 m dari puncaknya).  
Muhammad diangkat Allah SWT sebagai nabi atau rasul-Nya ditandai turunnya Malaikat Jibril pada tanggal 17 ramadan 610 M, untuk menyampaikan wahyu yang pertama yakni Al-Qur’an surah Al-‘Alaq 96: 1-5, turunnya ayat Al-Qur’an pertama tersebut dalam sejarah islam dinamakan Nuzul Al-Qur’an .
Setibanya di rumah , Nabi Muhammad SAW  menceritakan kepada istrinya Khadijah tentang peristiwa yang dialaminya . Sebenarnya Khadijah mempercayai segala apa yang diceritakan suaminya ,tetapi ia ingin mengetahui bagaimana pendapat Waraqah bin Naufal saudara sepupunya terhadap peristiwa yang dialami suaminya itu. Waraqah adalah seorang pemikir yang telah berusia lanjut , beragama Nasrani yang telah menyalin kitab Injil dari bahasa Ibrahim ke dalam bahasa Arab .
Setelah Waraqah bin Naufal mengetahui semua peristiwa yang dialami oleh Nabi Muhammad SAW, ia berkata , “itu adalah Namus (Jibril) yang pernah datang kepada Nabi Isa. Alangkah baiknya kalau aku masih muda dan masih hidup sewaktu kamu diusir oleh kaummu .” Nabi Muhammad SAW berkata ,”Apakah kaumku akan mengusirku?” Jawab Waraqah , “Ya , tidak seorang pun datang dengan membawa seperti  apa yang kamu bawa (ajaran Islam) yang tidak dimusuhi. Jika sekiranya aku masih hidup pada masa itu , tentu aku akan menolongmu dengan sekuat tenangaku.” ( H. R.Ahmad , Al-Bukhari dan Muslim). Menurut sebagian ulama, setelah turun wahyu pertama (Q.S. AL-‘Alaq: 1-5) turun pula surah AL-Muddassir: 1-7, yang berisi perintah Allah SWT agar Nabi Muhammad berdakwah menyiarkan ajaran islam kepada umat manusia.
Setelah itu, tatkala Nabi Muhammad SAW berada di Mekah (periode mekah) selama 13 tahun (610-622 M), Secara berangsur-angsur telah diturunkan kepada beliau  wahyu berupa Al-Qur’an sebanyak 4726 ayat, yang meliputi 89 surah. Surah-surah yang diturunkan pada periode Mekah dinamakan surah Makkiyyah

3.    Ajaran Islam Periode Mekah
Ajaran Islam periode Mekah yang harus didakwahkan Rasulullah SAW diawal kenabiannya adalah sebagai berikut :
a.    Keesaan Allah SWT
Islam mengajarkan bahwa pencipta dan pemelihara alam semesta adalah Allah SWT, Tuhan Yang Maha Esa . Allah SWT tempat bergantung segala apa saja dari makhluk-Nya, tidak beranak dan tidak diperanakkan, serta tidak ada selain Allah SWT yang menyamai-Nya.
Umat manusia harus beribadah atau menghambakan diri hanya kepada Allah SWT . Beribadah atau menyembah kepada selain Allah SWT termasuk kedalam perilaku syirik  yang hukumnya haram , dan merupakan dosa yang paling besar.

b.    Hari kiamat sebagai hari pembalasan
Islam mengajarkan bahwa mati yang dialami oleh setiap manusia  bukanlah akhir kehidupan tetapi merupakan awal dari kehidupan yang panjang yakni kehidupan dialam kubur dan dialam akhirat .
Manusia yang ketika didunianya taat beribadah, giat beramal saleh, dan senantiasa berbudi pekerti yang terpuji tentu akan memperoleh balasan yang menyenangkan. Dialam kubur akan memperoleh berbagai kenikmatan dan dialam akhirat akan ditempatkan disurga yang penuh dengan hal-hal yang memuaskan. Tetapi manusia yang ketika didunianya durhaka kepada Allah SWT dan banyak berbuat jahat, tentu setelah matinya akan mendapat siksa kubur dan dicampakkan kedalam neraka yang penuh dengan berbagai macam siksaan .

c.    Kesucian jiwa
Islam menyerukan umat manusia agar senantiasa berusaha menyucikan jiwanya dan melarang keras mengotorinya . Seseorang dianggap suci jiwanya apabila selama hayat dikandung badan senantiasa beriman dan bertakwa atau meninggalkan segala perbuatan dosa dan dianggap mengotori jiwanya apabila durhaka pada Allah SWT dan banyak berbuat dosa. Sungguh beruntung orang yang senantiasa memelihara kesucian jiwanya dan alangkah ruginya orang yang mengotori jiwanya .

d.    Persaudaraan dan Persatuan
Persaudaraan mempunyai hubungan yang erat dengan persatuan, bahkan persaudaraan adalah landasan bagi terwujudnya persatuan. Islam mengajarkan bahwa sesama orang beriman adalah bersaudara. Mereka dituntut untuk saling mencintai dan sayang-menyayangi dibawah naungan rida Ilahi. Rasulullah SAW bersabda ‘’Tidak dianggap beriman seorang Muslim diantara kamu, sehingga ia mencintai saudaranya, seperti mencintai dirinya .‘’ ( H.R. Bukhari , Muslim , Ahmad , dan Nasa’I ).
Selain itu sesama umat Islam hendaknya saling menolong dalam kebaikan dan ketakwaan, jangan sekali-kali tolong-menolong dalam dosa serta permusuhan, jangan saling menganiaya dan jangan pula membiarkan saudaranya yang teraniaya tanpa diberikan pertolongan. Sedangkan umat Islam yang mampu disuruh untuk memberikan pertolongan kepada saudaranya yang du’afa, yakni para fakir miskin dan anak-anak yatim terlantar ( Q.S. Al-Ma’un , 107 : 1-7 ).

B.   Strategi Dakwah Rasulullah SAW Periode Mekah.
Tujuan dakwah Rasulullah SAW pada periode Mekah adalah agar masyarakat Arab meninggalkan kejahiliannya dibidang agama, moral, dan hukum sehingga menjadi umat yang meyakini kebenaran kerasulan Nabi Muhammad SAW dan ajaran Islam yang disampaikannya, kemudian mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari. Jika masyarakat Arab telah mengamalkan seluruh ajaran Islam dengan niat ikhlas karena Allah SWT dan sesuai dengan petunjuk-petunjuk Rasulullah SAW tentu mereka akan memperoleh keselamatan, kedamaian, dan kesejahteraan di dunia dan di akhirat. Strategi dakwah Rasulullah SAW dalam berusaha mencapai tujuan yang luhur tersebut sebagai berikut :
1.    Dakwah secara sembunyi-sembunyi selama 3-4 tahun
Cara ini ditempuh oleh Rasulullah SAW karena beliau begitu yakin bahwa masyarakat Arab jahiliyah masih sangat kuat mempertahankan kepercayaan dan tradisi warisan leluhur mereka. Sehingga mereka bersedia berperang dan rela mati dalam mempertahankannya.
Pada masa dakwah secara sembunyi-sembunyi ini, Rasulullah SAW menyeru untuk masuk Islam orang-orang yang berada di lingkungan rumah tangganya sendiri dan kerabat serta sahabat dekatnya. Mengenai orang-orang yang telah memenuhi seruan dakwah Rasulullah SAW tersebut adalah ;

a.    Khadijah binti Khuwailid (istri Rasulullah SAW, wafat tahun ke-10 dari kenabian)
b.    Ali bin Abu Thalib (saudara sepupu Rasulullah SAW yang tinggal serumah dengannya, waktu masuk Islam ia baru berusia 10tahun)
c.    Zaid bin Haritsah (anak angkat Rasulullah SAW, wafat tahun 8 H = 625 M)
d.    Abu Bakar Ash-Shiddiq (sahabat dekat Rasulullah SAW, yang hidup dari tahun 573-634 M)
e.    Ummu Aiman (pengasuh Rasulullah SAW pada waktu kecil) .
Sesuai dengan ajaran Islam, bahwa berdakwah bukan hanya kewajiban Rasullulah SAW tetapi juga kewajiban para pengikutnya (umat islam), maka Abu Bakar Ash-Shiddiq,  seorang saudagar kaya yang dihormati dan disegani banyak orang karena budi bahasanya yang halus, ilmu pengetahuannya yang luas, dan pandai bergaul telah meneladani Rasulullah SAW, yakni berdakwah secara sembunyi-sembunyi.
Usaha dakwah Abu Bakar Ash-Shiddiq berhasil karena ternyata beberapa orang kawan dekatnya menyatakan diri masuk Islam, mereka adalah :
1.    Abdul Amar dari Bani Zuhrah, Abdul Amar berarti hamba milik si Amar. Karena Islam melarang perbudakan, kemudian nama itu diganti oleh Rasulullah SAW menjadi Abdurrahman bin Auf, yang artinya hamba Allah SWT, Yang Maha Pengasih.
2.    Abu Ubaidah bin Jarrah dari Bani Haris .
3.    Utsman bin Affan .
4.    Zubair bin Awam .
5.    Sa’ad bin Abu Waqqas .
6.    Thalhah bin Ubaidillah .
Orang-orang yang masuk Islam pada masa dakwah secara sembunyi-sembunyi yang namanya sudah disebutkan diatas disebut Assabiqunal Awwalun (pemeluk Islam generasi awal).

2.    Dakwah secara terang-terangan
Dakwah secara terang-terangan ini dimulai sejak tahun ke-4 dari kenabian yaitu setelah turunnya wahyu yang berisi perintah Allah SWT agar dakwah itu dilaksanakan secara terang-terangan. Wahyu tersebut berupa ayat Al-Qur’an surah 26: 214-216. Tahap-tahap dakwah rasulullah SAW secara terang-terangan ini antara lain sebagai berikut :
a.    Mengundang kaum kerabat keturunan dari bani hasyim untuk menghadiri jamuan makan dan mengajak mereka agar masuk islam.
b.    Rasulullah SAW mengumpulkan para penduduk kota mekah terutama yang berada dan bertempat tinggal di sekitar ka’bah untuk berkumpul di bukit shafa yang letaknya tidak jauh dari ka’bah, Rasulullah SAW memberi peringatan kepada semua yang hadir agar segera meninggalkan penyembahan terhadap berhala-berhala dan hanya menyembah kepada Allah SWT.
Menanggapi dakwah Rasulullah SAW tersebut di antara yang hadir ada kelompok yang menolak disertai teriakan dan ejekan. Salah satunya adalah Abu Lahab, ia berkata “Celakalah engkau Muhammad, untuk inikah engkau mengumpulkan kami?” sebagai balasan terhadap kutukan abu lahab itu turunlah ayat al’quran yang berisi kutukan Allah SWT terhdap abu lahab yakni surah al-lahab 111 : 1-5.
Pada periode dakwah secara terang-terangan ini juga telah menyatakan diri masuk islam dua orang kuat dari kalangan kaum kafir quraisy, yaitu : hamzah bin abdul muthalib (paman nabi SAW) dan umar bin khattab.
c.    Rasulullah SAW menyampaikan dakwahnya kepada para penduduk diluar kota mekah. Sejarah mencatat bahwa penduduk di luar mekah yang masuk silam antara lain :

 

Pada gelombang ketiga ini telah datang ke mekah untuk berziarah dan menemui Rasulullah SAW, umat islam penduduk yastrib yang jumlahnya mencapai 73 orang dan diantaranya 2 orang wanita. Pertemuan umat islam yastrib dengan Rasulullah SAW pada gelombang ketiga ini, terjadi pada tahun ke-13 dari kenabian dan menghasilkan bai’atul aqabah. Isi bai’atul aqabah tersebut merupakan pernyataan umat islam yastrib bahwa mereka akan melindungi dan membela Rasulullah SAW.
Setelah terjadinya peristiwa bai’atul aqabah itu, kemudian Rasulullah SAW menyuruh para sahabatnya, yakni orang-orang islam yang bertempat tinggal di mekah untuk segera berhijrah ke yastrib. Dalam waktu dua bulan sebanyak 150 orang umat islam penduduk mekah telah berhijrah ke yastrib. Sedangkan nabi Muhammad SAW, abu bakar ash-shiddiq r.a, dan ali bin abu thalib masih tetap tinggal di mekah, menunggu perintah dari Allah SWT untuk berhijrah. Setelah datang perintah dari Allah SWT kemudian Rasulullah SAW berhijrah bersama abu bakar ash-shiddiq r.a, meninggalkan kota mekah tempat kelahirannya menuju yastrib. Peristiwa hijrah Rasulullah SAW ini terjadi pada awal bulan rabiul awal tahun pertama hijrah (622m). Sedangkan ali bin abu thalib tidak ikut berhijrah bersama Rasulullah SAW karena beliau disuruh Rasulullah SAW untuk mengembalikan barang-barang orang lain yang dititipkan kepadanya. Setelah perintah Rasulullah SAW itu dilaksanakan, kemudian ali bin abu thalib menyusul Rasulullah SAW berhijrah ke yastrib.

3.    Reaksi kaum kafir quraisy terhadap dakwah Rasulullah SAW
Kaum kafir quraisy menolak dakwah Rasulullah SAW, setelah berdakwah itu dilakukan secara terang-terangan yakni semenjak tahun ke-4 kenabian. Prof. Dr.a. shalaby dalam bukunya “sejarah kebudayaan islam” telah menjelaskan sebab-sebab kaum kafir quraisy menentang dakwah Rasulullah SAW, yaitu sebagai berikut:
a.    Rasulullah SAW mengajarkan tentang adanya persamaan hak dan kedudukan antara semua orang. Mulia tidaknya seseorang tergantung ketakwaannya terhadap Allah SWT. Orang miskin yang bertakwa di hadapan Allah SWT lebih mulia dibandingkan orang kaya yang durhaka (QS. Al-Hujurat 49:13)
b.    Islam mengajarkan adanya kehidupan setelah mati yakni hidup di alam kubur dan dialam akhirat. Manusia yang ketika di dunianya bertakwa maka di alam kuburnya akan memperoleh kenikmatan dan di alam akhiratnya akan masuk surga. Sedangkan manusia yang ketika didunianya durhaka dan banyak berbuat jahat, maka dialam kuburnya akan disiksa dan dialam akhiratnya akan masuk neraka.
c.    Kaum kafir quraisy menolak ajaran islam karena mereka berat meninggalkan agama dan tradisi hidup bermasyarakat warisan leluhur mereka. Mereka berkata “cukuplah bagi kami apa yang telah kami terima dari nenek moyang kami” (QS. Al-Maidah 5:104)
d.    Islam melarang menyembah berhala, mempejual-belikan berhala-berhala dan melarang penduduk mekah dan luar mekah berziarah memuja berhala.
Usaha-usaha kafir quraisy untuk menolak dan menghentikan dakwah Rasulullah SAW bermacam-macam . antara lain :

Menghadapi tantangan dan kekerasan kaum kafir Quraisy terhadap orang-orang islam, selain nabi SAW bersabar, bertawakal dan berdoa beliau menyuruh 16 orang sahabatnya untuk berhijrah ke habasyah (ethiopia) karena raja negus di negeri itu suka memberikan jaminan keamanan kepada orang-orang yang meminta perlindungan kepadanya. Peristiwa hijrah yang pertama ke habasyah terjadi pada tahun 615m.
Pada tahun ke-10 dari kenabian (619m) abu thalib, paman Rasulullah SAW dan pelindungnya wafat dalam usia 87 tahun. Empat hari setelah itu isteri tercintanya khadijah juga wafat dalam usia 65 tahun. Dalam sejarah islam tahun wafatnya abu thalib dan khadijah disebut ‘amul huzni (tahun duka cita). Wafatnya abu thalib sebagai pemimpin bani hasyim menyebabkan abu lahab seorang kafir yang sangat keras dalam memusuhi nabi SAW menggantikan kedudukan abu thalib sebagai pemimpin.
Allah SWT senantiasa melindungi nabi Muhammad SAW dari berbagai malapetaka. Tidak lama setelah bani hasyim dipimpin abu lahab, mut’im bin adi pemimpin kaum naufal menyatakan perlindungannya terhadap nabi SAW. Bahkan menjelang peristiwa hijrah tahun 622m, umat islam yastrib telah bersumpah setia akan melindungi Rasulullah SAW beserta para pengikutnya.





BAB III
PENUTUP

5.1 Kesimpulan
            Dari opini penulis di atas, dapat diambil kesimpulan bahwa dengan mempelajari serta memahami sumber hukum islam dan keteladanan Rasulullah SAW mak akan menambah wawasan siswa dan meningkatkan prestasi belajar siswa.

5.2 Saran
            Saran kepada para pembaca adalah, semoga anda semua dapat lebih memahami dan memaknai arti Islam dalam hidup kita.






DAFTAR PUSTAKA

Syamsuri,2007, Pendidikan Agama Islam untuk SMA Kelas X, Penerbit Erlangga, Jakarta

0 Response to "MAKALAH HUKUM ISLAM, HUKUM TAKLIFI DAN HUKUM WADI"

Post a Comment