MAKALAH FILSAFAT PENDIDIKAN - WAHANA BELAJAR & BERBAGI ANEKA DOKUMEN PENDIDIKAN

MAKALAH FILSAFAT PENDIDIKAN


BAB I
PENDAHULUAN


A.     LATAR BELAKANG
Latar belakang kami dalam menyusun tugas ini adalah mengajar para pendidik atau pengajar dapat menjadi pengajar yang berpengalaman dalam menyampaikan ilmunya kepada anak didik. Dimana kita ketahui, sekarang ini banyak sekali guru di dalam sebuah sekolah akan tetapi banyak yang belum menguasai seluruh materi yang mereka sampaikan. Melalui pemahaman filsafat pendidikan ini diharapkan dapat memotivasi para guru dalam menjalankan tugasnya sebagai seorang pendidik yang professional.

B.      TUJUAN
Pendidikan dalam kehidupan bukan hanya untuk diikuti, namun juga harus dipahami dan dilaksanakan. Banyak orang yang berijazah tinggi, tetapi penghayatannya kurang. Sebagai misal; seorang sarjana dipandang sebagai orang yang berpendidikan dan memili wawasan yang luas. Dalam kenyataanya mereka tidak seperti yang diharapkan, mereka hanya mengejar ijazah, bukan mengeja ilmu kemampuan mereja sangat jaug dari yang dipandang orang.


C.       
BAB II
LATAR BELAKANG MUNCULNYA FILSAFAT
PENDIDIKAN


1.    Manusia dengan Cipta, Karsa, dan Rasa
a.      Cipta
1)      Arti Cipta
Istilah cipta itu mempunyai arti kadang-kadang berarti pemunculan sesuatu yang belum pernah ada, kadang-kadang berarti pikiran. Misalnya : Tuhan menciptakan alam semesta, mempunyai arti bahwa Allah membuat dan memunculkan sesuatu berupa alam semesta yang ada pada waktu sebelumnya tidak pernah ada. Dari tidak ada bahan-bahan sesuatupun menjadi ada.
Dari beberpa contoh di atas dapat ditarik pengertian bahwa : istilah cipta Tuhan berarti mengadakan alam. Istilah cipta manusia : mengubah alam. Manusia mengubah alam dengan cita, laku dan perbuatannya. Cita dan laku perbuatan bersumber dalam jiwa, dilahirkan oleh jiwa, karena hewan tidak berjiwa tidaklah dapat mengubah alam. Bahkan ia dijadikan manusia objek untuk diubah bagi keperluan manusia.[1]
Istilah cipta mempunyai arti yang bermacam-macam. Tetapi dalam rangkain cipta karsa yang merupakan cirri keunggulan manusia jika dibandingkan dengan makhluk-makhluk yang lainnya, istilah cipta mempunyai arti berfikir, rasa berarti perasaan dan karsa berarti kehendak. Apkah sebenarnya berfikir itu?
2)      Berfikir
Menurut A. Gazali M.A. dalam buku Ilmu Jiwa:
Berfikir ialah menemukan hubungan-hubungan, menentukan sangkut paut”. Definisinya pendek, tetapi mempunyai arti dan makna yang sangat tepat.
Berfikir biasanya merupakan jawaban dari suatu pertanyaan apa dan mengapa tentang suatu hal.
Sebagai contoh: “kalau sedang musim panen, harga beras turun”. Ungkapan yang demikian itu sudah diakui kebenarannya oleh setiap orang, karena merupakan hasil pemikiran. Pertanyaan: “Apakah musim panen itu?” Jawaban: “Pada saat yang hampir bersamaan para petani menuai atau memetik hasil pertaniannya berupa padi, dengan demikian persediaan padi melimpah ruah di semua tempat”. Pertanyaan: “Mengapa harga beras menjadi turun?”. Jawaban: “Ketika musim panen (pada waktu yang hampir bersamaan) para petani sebagai produsen menawarkan hasil panennya dalam jumlah yang besar; rakyat sebagai konsumen, permintaanya akan beras tidak bertambah (tetap). Oleh karena itu imbangan antara penawaran dan permintaan berubah, penawaran lebih banyak dari pada permintaan, sehingga terjadi persaingan antar petani/produsen untuk menjual berasnya dengan cara banting harga karena membutuhkan uang tunai untuk belanja harian, akibatnya harga beras turun”.
Dengan dua macam contoh di atas, maka dapat disimpulkan tentang proses berfikir sebagai berikut:
a)      Panca indra menyerap keadaan, telinga mendengar berita bahwa dimana-mana sedang terjadi panen padi, mata melihat kesibukan para petani sedang mengangkut padi dari sawah dan menjemurnya di pekarangan.
b)      Hasil serapan pancaindra itu merupakan data. (dalam kasus panen padi ini: persaingan atar produsen, banting harga, jumlah konsumen yang tetap, perubahan perimbangan antara penawaran dan permintaan beras, semuanya itu termasuk data).
c)      Semua data yang ada dikumpulkan selengkap-lengkapnya. Dari semua data yang tersedia timbul bermacam-macam tafsiran (interperensi) tentang kemungkinan-kemungkinan yang akan, sedang dan telah terjadi.
d)      Mengadakan penyelidikan-penyelidikan tentang akibat-akibat dari setiap kemungkinan itu.
e)      Akhirnya ditemukan mata rantai hubungan antara yang satu dengan yang lain, kemudian ditetapkanlah sangkut pautnya.
3)      Pemecahan Masalah (Problem Solving)
Panen padi yang melimpah ruah merupakaan saat yang dinanti-nantikan oleh para petani. Akan tetapi setiap kali musim  panen, harga beras jatuh. Hal ini disebabkan karena pada waktu itu para petani saling bersaing antar mereka. Hal ini terjadi karena terdesak oleh keperluan uang tunai, mereka banting harga, padi mereka jual dengan harga murah. Akibatnya keuntungan mereka amat tipis (harga jual mendekati biaya produksi).
Peristiwa semacam ini selalu terulang setiap musim panen. Dalam situasi yang demikian para tengkulak mengambil kesempatan untuk mempermainkan harga. Dengan kekuatan modal uang tunai yang mereka miliki, mereka dapat menekan harga padi sedemikian rupa sehingga para petani tidak dapat berkutik. Dari tahun ke tahun keuntungan para petani makin menipis dan akhirnya menjadi miskin. Petani yang susah payah menanam padi, tetapi tengkulaklah yang mengeduk keuntungan. Keadaan yang demikian itu menimbulkan keresahan dalam masyarakat.
Bagaimana sikap pemerintah menghadapi masalah ini?
Bagi pemerintah, keadaan yang menyedihkan itu merupakan suatu masalah yang harus segera dipecahkan. Pemerintah benar-benar memperhatikan nasib masyarakat tani, maka dicarilah upaya untuk memecahkan masalah itu. Dicobalah dengan membuat beberapa konsep untuk menanggulangi kepincangan yang terjadi dalam masyrakat tani sekaligus mengangkut kepentingan hajat hidup dan kebutuhan rakyat banyak. Setiap konsep dianalisis dari segala aspeknya, misalnya: apakah semua tengkulak harus ditangkap? Apakah semua hasil pertanian harus dikuasai oleh pemerintah, kemudian didistribusikan kepada rakyat dengan cara kupon pangan seperti di Negara-negara sosialis?dan sebagainya.
Dalam cotoh diatas terdapat suatu masalah (problem) yang berupa nasib masyarakat tani yang dipermainkan oleh tengkulak. Petani yang bersusah payah menanam padi, tetapi tengkulak yang mengeduk keuntungan pribadi tanpa memperdulikan penderitaan orang lain. Pemerintah berusaha untuk memecahkan masalah itu melalui tahapan-tahapan perkembangan berfikir.
Adapun rangkaian pemecahan masalah (Prolem Solving) itu dapat diringkas prosesnya sebagai berikut:
a)      Pemerintah menyadari adanya masalah (di kalangan masyarakat tani), maka timbulllah perhatian dan minat untuk memecahkan persoalan itu.
b)      Muncullah beberapa gagasan yang dituangkan dalam bentuk konsep-konsep untuk menanggulanginya.
c)      Setiap nanalisis dari segala aspeknya.
d)      Dalam empertimbangkannya selalu bertitik tolak atas prinsip tidak merugikan (petani dan rakyat).
e)      Setelah melalui proses yang matang, maka diambillah suatu keputusan.
f)       Akhirnya keputusan itu dilaksanakan.
4)      Pengertian Pengalaman
a)      Pengertian Pengalaman yang Bersifat Kongkrit
Seorang anak mula-mula mengetahui nama sebuah pohon mangga yang ada di halaman rumahnya. Setiap hari anak itu bermain-main dengan teman sebayanya pergi kekampung lain, ke sawah dank e lading. Di mana-mana ia melihat bermacam-macam jenis pohon, walaupun yang dilihatnya itu tidak sama dengan jenis pohon mangga, tetapi teman-temannya dan orang lain menaman pohon. Karena pengalamannya itulah lambat laun ia mengetahui bahwa jenis pohon itu bermacam-macam, ada yang berdaun ganda ada yang berdaun tunggal, ada yang tegak ada yang merambat dan sebagainya. Kesemuanya itu adalah pohon. Akhirnya ia mampu membedakan antara yang disebut pohon dan yang bukan pohon. Timbullah pada anak itu pengertian pengalaman yang bersifat konkrit.
b)      Pengertian Pengalam yang Bersifat Abstrak
Dengan member beberapa contoh tentang sifat rajin yang ada pada seseorang, anak kecil pun mampu memehami tentang pengertian rajin dan mampu membedakan antara pengertian rajin dan pengertian malas.
Ini disebut pengertian pengalaman yang bersifat abstrak. Untuk mendapat sebutan rajin memerlukan syaran dan cirri tertentu, antara lain: perbuatannya harus dilakukan secara berulang-ulang sehingga menjadi kebiasaan, berbuat tidak karena mendapat tekanan dari luar (orang lain) dan sebagainya.
Dari contoh-contoh di atas, baik pengetian pengalaman yang bersifat konkrit maupun abstrak, maka dapat ditarik pengertian bahwa: tiap perngertian selamanya harus mengandung cirri-ciri hakiki yang tertentu.
5)      Pengertian Ilmiah
Pengertian ilmiah biasanya dibentuk dengan sadar dan dengan sengaja. Dengan mempelajari berbagai ilmu pengetahuan, pengertian ilmiah itu sangat diperlukan.
Kalau di atas telah diurakan tentang pengetian pengalaman yang bersifat dan abstrak (kedua-duanya diperoleh melalui pengalaman), maka pengertian ilmiah diperolehnya tidak sengaja melalui pengalaman, tetapi juga memalui keterangan yang sudah diuji kebenaranya.
Dr. Mohammad Hatta dalam bukunya Penganta ke Jalan Ilmu dan Pengetahuan telah menulis bahwa: “pengetahuan yang didapat dari pengalaman disebut pengetahuan pengalaman”  atau sinkatnya pengetahuan. Pengetahuan yang didapat dengan jalan keterangan disebut ilmu, (dalam hal ini istilah pengertian identik dengan pengetahuan).
Pada tahap pertama pengetahuan itu didapat melalui jendela pancaindra. Bagaimanapun juga peranan pancaindra tidak dapat diabaikan. Dalam segala hal pancaindra merupakan alat vital  bagi kehidupan manusia. Boleh dikata segala macam hal (konkrit dan abstrak) melalui pancaindra. Demikian pun terbentuknya ilmu pengetahuan. Menurut Ensiklopedia Indonesia:
……….. setiap pengetahuan manusia itu adalah hasil dari berkontaknya dan dua macam besaran, yaitu:
a)      Benda ataau yang diperiksa, diselediki dan akhirnya diketahui (obyek);
b)      Manusia yang melakukan berbagai pemeriksaan dan penyelidikan dan akhirnya mengetahui (mengenal) benda dan hal tadi.
6)      Manfaat Pengetian
Pada zaman sekarang telah menjadi kenyataan bahwa jenis pekerjaan itu berpetak-petak dan terperinci. Misalnya: bengkel radio, bengkel televise. Tukang: tukang batu, tukang kayu, tukang kunci, tukang ledeng, tukang patri, tukang arloji, dan sebaginya. Dokter: ada dokter gigi dokter ahli mata, dokter ahli THT (Telinga, Hidung, dan Tenggorokan), dokter ahli penyakit kulit dan kelamin, dokter ahli penyakit kandungan, dokter ahli penyakit anak-anak, dan sebagainya. Toko: ada toko besi, toko kaca, toko meubel (meja,kursi,almari), toko arloji, toko obat, toko alat olahraga, toko kain, toko bahan-bahan kimia dan sebagainya.
Dalam kehidupan sehari-hari pengertian semacam itu senantiasa kita pakai, namun karena telah demikian biasanya menggunakan pengertian-pengertian tersebut sehingga akhirnya tidak terasa lagi. Tetapi yang jelas pengertian-pengertian itu bermanfaat bagi kita, karena akan mempermudah dan mempercepat pekerjaan kita. Misalnya: kalau kita sedang menderita sakit gigi, langsung saja menuju ke dokter gigi, kalau kita memerlukan bola pingpomg, langsung saja menuju ke toko alat-alat olahraga.
7)      Kesimpulan
Setiap tahap atau langkah dalam proses diambil keputusan-keputusan, yaitu yang menentukan sangkut paut atau hubungan antara yang satu dengan yang lainnya, karena pada hakikatnya memutuskan tentang sesuatu itu merupakan suatu perbuatan berfikir yang dituangkan dalam bentuk bahasa atau istilah tertentu. Keputusan demi keputusan yang diperoleh itu merupakan mata rantai yang saling kait mengait. Adapun keputusan yang diambil berdasarkan keputusan yang lain itu disebut kesimpulan.
Pada garis besarnya kesimpulan itu dapat dibedakan menjadi 3 (tiga) macam:
a)      Kesimpulan Induksi
Untuk mempermudah gambaran, sebelumnya dibuat sebuah contoh:
-          Ikan lele hidup di air
-          Ikan tawes di dup di air
-          Ikan teri hidu di air
-          Ikan mas hidup di air
Kesimpulan: semua ikan hidup di air
Telah menjadi kenyataan bahwa ikan lele itu hidup di air. Hal itu kita tetap dalam sebuah putusan. Kemudian beberapa kenyataan dikumpulkan dan ternyata bahwa ikan tawes, ikan teri, ikan mas, dan lain-lain ikan, kesemuanya hidup di air. Dari kesekian macam kenyataan yang konkrit itu kemudian di buat sesuatu kaidah atau dalil bahwa: semua ikan hidup di air. Jadi yang disebut kesimpulan induksi itu adalah suatu keadaan yang tertolak dari hal-hal yang bersifat khusus menuju pada hal-hal yang bersifat umu sehingga dapat dijadikan suatu kaidah atau dalil.
b)      Kesimpulan deduksi
Kebalikan kesimpulan induksi adalah kesimpulan deduksi, yaitu justru diambil dari kaidah atau dari dalil sebagai contoh: kaidah atau dalil, semua manusia tentu mati, Ali adalah manusia, Ali tentu mati.
Jalan pikiran yang ditempuh dalam deduksi sangat berlainan bahkan kebalikan dan induksi, yaitu bahwa kesimpulan deduksi itu ialah: suatu keadaan yang bertolak dari hal-hal yang bersifat ummu (kaidah atau dalil) menuju kepada hal-hal yang bersifat khusus.
Karena deduksi itu pengambilannya dari umum menuju khusus, sedang yang khusus itu bentuk, isi dan macamnya banyak sekali, maka tidak jarang akan terkecoh, akan menjumpai kekhilafan atau ketidak cocokkan dengan keadaan sebenarnya. Oleh karena itu harus selalu berhati-hati dan waspada apabila akan mengambil kesimpulan deduksi.
Sebagai contoh:
Dalil/kaidah         : Kebanyakan dokter itu tulisannya jelek dan sukar dibaca;
Kejadian               : Ahad tulisannya jelek dan sukar dibaca.
Kesimpulan          : Ahmad adalah seorang dokter.
Padahal Ahmad yang dimaksud kenyataanya masih duduk di kelas II di SMTP Swasta dan pada tahun ini kabarnya tidak naik kelas.
c)      Kesimpulan Analog
Kesimpulan analogi itu suatu tindakan untuk  menyamakan situasi baru dengan situasi-situasi yang telah diketahui. Jadi membuat perbandingan antara suatu keadaan dengan keadaan-keadaan lain yang pernah dialami pada waktu-waktu sebelumnya, misalnya;
Situasi baru  : Ketika di langit tampak awan tebal hitam maka Aminah segera mengambil semua jemuran pakaian yang belum kering dan dipindahkannya ke dalam.
Situasi lama  : Setiap kali dilangit tampak awan hitam, biasanya hal itu sebagai petanda akan turun hujan lebat
Menurut pengalaman yang sudah-sudah memang demikian keadaanya. Oleh karena itu ketika Aminah melihat keadaan awan hitam di langit, maka ia segera menarik kesimpulan bahwa sebentar lagi akan turun hujan lebat, dan bergegas-gegaslah ia memindahkan semua jemuran yang belum kering itu ke dalam (ke tempat yang teduh). Kesimpulan yang diambil oleh Aminah disebut kesimpulan analogi.
b.      Rasa
1.      Arti Perasaan
Rasa atau perasaan ialah kenyataan tentang sesuatu yang ada sangkut pautnya dengan keadaan jiwa seseorang. Adapun pelahiran keadaan jiwa itu kadang-kadang dalam bentuk rasa suka, kadang-kadang dalam bentuk rasa tak suka.
Rasa suka ialah rasa yang menyenangkan, misal: enak, lezat, gembira, indah dan sebagainya. Sedangkan rasa tak suka sebaliknya dari itu, seperti mual, jengkel, gelisah, takut, dan sebagainya.
2.      Ciri-ciri Perasaan
a)      Perasaan tidak penah terdapat berdiri sendiri
Perasaan itu selalu bersangkut paut dengan gejala-gejalanya jiwa yang lain, misalnya: teringat sesuatu, memikirkan sesuatu, mengkhayalkan sesuatu, berfungsi dan sebagainya. Jadi timbulnya perasaan itu selalu diawali oleh sesuatu hal: dengan kata lain bahwa perasaan itu tidak pernah terdapat berdiri-sendiri.
b)      Perasaan selalu bersifat perseorangan
Bila ada 2 9dua) orang lebih melihat suatu hal, maka perasaan yang ditimbulkan oleh masing-masing orang itu akan berbeda-beda antara yang satu dengan yang lain, padahal objek yang merika lihat adalah hal yang sama. Misalnya pada suatu hari ada beberapa orang melihat suatu peristiwa yang terjadi yaitu seorang penjambret (copet) tertangkap basah, kemudian dikroyok secara beramai-ramai dan dipukuli hingga badanya luka-luka dan darahnya bercucuran. Perasaan orang-orang yang melihat kejadian itu berbeda-beda, antara lain: ada yang merasa gemas hati sambil berteriak: terus pukul biar mati agar daerah ini aman dari gangguan copet! Dan selain itu masih ada bermacam-macam perasaan yang timbul dari setiap orang yang menyaksikan peristiwa itu.
c)      Cara menyelidiki perasaan
Untuk menyelidiki perasaan seseorang ada 2 (dua) macam cara;
(1)   Ekstopeksi
Dengan melihat tingkah laku seseorang, kita dapat menyelidiki perasaan orang lain. Menyelidiki perasaan seseorang dengan cara demikian itu disebut ekstropeksi. Akan tetapi harus mengingat bahwa hasil ekstrospeksi itu tidak selamanya benar, karena pada umumnya orang yang telah dewasa itu pandai bermain sandiwara, pandai menghapus kesan; sebagai contoh: suami istri sedang cekcok tentang masalah keluarga dan rumah tangga, masing-masing sedang bersitegang leher merasa dirinya benar. Yang menjadi problem tidak tentu ujung pangkalnya. Tiba-tiba datanglah seseorang tamu mengetuk pintu depan dan kedengaran suara: Assalamu’alaikum berulang kali. Sekonyong-konyong percecokkan berhenti. Wajah cemberut dan geram berubah menjadi berseri-seri sambil berjalan menuju kamar tamu dan membuka pintu depan sambil mempersilahkan tamu agar masuk, kemudian duduk bersama-sama di kamar tamu. Mereka mengobrol dengan santai. Sama sekali tidak ada kesan sedikitpun bahwa sebelumnya antara mereka berdua telah terjadi perang mulut, tuduh menuduh tentang hal yang bukan-bukan. Hal itu sama sekali tidak diketahui oleh tamu.
Begitulah kepintaran orang yang telah dewasa untuk menyimpan perasaan, gerak-gerik dan tingkah lakunya sulit ditebak. Hal semacam ini tidak berlaku bagi anak-anak kecil yang belum dewasa. Karena mereka masih polos dan belum mampu menyimpan perasaan mereka.
(2)   Intropeksi
Kadang-kadang setelah penghayatan itu terjadi, kita melihat kembali pada penghayatan itu. Apabila terjadi demikian, maka itulah yang disebut retrospeksi.
Mengenai introspeksi ada bebera kesulitan:
(a)   Seseorang apabila telah menghayati sesuatu, tidak seluruhnya dapat diingat kembali, karena daya ingatan manusia terbatas dan kemampuan ingatannya berbeda-beda. Apabila terjadi demikian, berarti ada beberapa hal yang terpaksa hilang. Untuk menutup yang hilang karena tidak ingat, biasanya orang berusaha menambah-nambah dengan hal yang tidak benar, demi agar menjadi lengkap.
(b)   Sesuatu yang telah dihiyanati tidak selamanya dapat dilukiskan dalam bentuk kata-kata yang tepat dan jelas. Kesulitan itu kebanyakan disebabkan oleh karena kekurangan penguasaan bahasa. Akibatnya ia tidak dapat menyatakan penghiyanatannya dengan cepat.
(c)    Banyak orang yang tidak jujur terhadap dirinya sendiri dan tidak mau berterus terang hal-hal tertentu yang telah dihayatinya itu sesuatu yang jelek/buruk).
(d)   Pembagian perasaan
Pada garis besarnya perasaan itu dapat dibagi menjadi 2 (dua) bagian:
(1)   Aneka perasaan yang terdapat pada tingkatan jasmaniah (biologis).
Pada tingkatan jasmaniah atau juga sering disebut pada tingkatan biologis, keadaannya hampir sama dengan hewan, karena perasaan-perasaan tersebut lebih cenderung atau berkaitan erat dengan jasmani dan dengan fungsi-fungsi hidup, misalnya:
(a)   Perasaan-perasaan yang berhubungan dengan:
-          Perencanaan makanan; kenyang, lapar, haus, mual, dan sebagainya
-          Peredaran darah: sehat, sakit, kuat, lemah, dan sebagainya.
-          Pernafasan: pengertian zat asam untuk memberihkan darah
(b)   Perasaan-perasaan yang berhubungan dengan beberapa instink yaitu tingkah laku yang membawa sejak lahir yang tujuannya uantuk memuaskan dorongan-dorongan nafsu dan dorongan tertentu.
Mac Dougall, seorang sarjana ahli ilmu jiwa bangsa Amerika telah berhasil mengumpulkan aneka macam intink. Sebagai contoh akan dikutip sebagian saja yaitu:
1.      Instink makan (mencari makan dan mungkin juga mengumpulkan makanan dalam lumbung-lumbung);
2.      Instink jijik atau instink muak (membuang atau memuntahkan benda-benda tertentu yang tidak enak atau yang merusak);
3.      Instink seksual;
4.      Instink menyelidiki (menyelidiki tempat-tempat dan benda-benda yang tidak dikenal;
(c)    Perasaan-perasaan yang berhubungan dengan beberapa pengamatan pengindraan.
Manusia dan hewan dalam kehidupan memiliki perlengkapan pancaindera, apabila menjumpai sesuatu, otomatis pancainderanya bekerja untuk mengamatinya. Karena setiap saaat selalu menjumpai apa saja yang berada di sekitarnya, maka pada hakikatnya pengamatan itu selalu terjadi sepanjang hidupnya. Apakah sebenarnya pengamatan itu? Pengamatan ialah suatu proses belajar mengenal segala sesuatu yang berada di sekitarnya dengan mempergunakan alat-alat pancaindera.
(2)   Aneka perasaan yang terdapat pada tingkatan rohaniah
Pada tingkatan rohaniah, keadaanya sangat berbeda dengan hewan, karena hewan tidak memiliki jiwa atau roh.
Pada garis besarnya perasaan yang terdapat pada tingkatan rohaniah itu ada 6 (enam) macam;
(a)   Perasaan diri, pada umumnya seseorang itu mempunyai gambaran dirinya sendiri. Sebagian menyangka bahwa dirinya mempunyai kemampuan yang hebat, sebagian lagi menyangka bahwa dirinya tidak berkemampuan sedikit juapun. Jadi perasaan-perasaan yang menyertai gambaran-gambaran tentang diri sendiri itu kita namakan perasaan-perasaan diri.
Adapun perasaan diri itu ada 2 (dua) macam:
-          Perasaan diri positif: apabila seseorang telah melaksanakan tugas dengan hasil yang baik dan memuaskan, biasanya timbul perasaan senang dan bangga atas prestasinya yang telah dicapai dengan sukses. Kalau tidak dapat mengendalikan dirinya, maka akan menjurus kepada sifat sombong. Akan tetapi harus diakui bahwa kemampuan yang ada pada dirinya itu dapat menumbuhkan perasaan positif.
-          Perasaan diri negative: apabila seseorang selalu mengalami kegagalan dalam melaksanakan tugasnya, biasanya timbul perasaan sedih, merasa dirinya tak mampu, merasa tak berharga, malu dan gelisah. Akibatnya akan menjerumus kepada sifat rendah diri dan pemalu. Orang yang berperasaan demikian itu disebut perasaan diri negative.
(b)   Perasaan intelek: perkataan intelek diambil dari bahasa Yunani: intellect, artinya: pikiran. Apabila seseorang mengerjakan sesuatu pekerjaan yang bersifat pemikiran, misalnya memecahkan soal-soal matematika yang rumit. Ternyata ia berhasil menyelesaikannua dengan cepat dan benar, maka dalam dirinya timbul perasaan intelek  berupa perasaan suka, senang hati dan puas. Sebaliknya apabila sampai berjam-jam tidak berhasil memcahkannya, maka dalam dirinya timbul perasaan tak suka bahkan kadang-kadang menjadi jengkel. Pada hakikatnya ketika ia memecahkan soal-soal matematika itu, pasti ada sesuatu yang berlangsung pada dirinya, pada tahap awal timbul perasaan tegang  dalam hati. Kalau berhasil pasti timbul perasaan jengkel.
(c)    Perasaan keagamaan: apabila sedang menghadapi cobaan hidup yang berupa penderitaan lahiriyah dan batiniah. Maka pada saat yang demikian itu ia baru sadar dan insyaf bahwa kecerdasannya, kepandaiannya dan kemampuannya tidak mencukupi untuk melawan arus derita yang sedang menimpa pada dirinya. Tidak ada jalan lain kecuali tunduk pada suratan takdir dan nasib, dan selanjutnya ia berserah diri atas kekuasaan Tuhan. Pada saat itu muncullah dari dalam lubuk hatinya, dari dalam hati nuraninya suatu perasaan tawakal.
(d)   Perasaan etika (kesusilaan): istilah etika bersal dari bahasa Yunani, Ethos yang berarti adat kebiasaan. Istilah lain hampir sama artinya ialah moral bersal dari bahasa latin, mores, juga berarti: adat kebiasaan. Istilah bahasa arab adalah akhlak yang berarti budi pekerti, sedang dalam bahasa Indonesia sering disebut tata susila.
(e)   Perasaan social biasanya diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia: kemasyarakatan (bukan arab, sebab istilah arabnya : ala-mujtama”). Adapun arti dan maksud masyarakat ialah pergaulan serta hubungan hubungan antar sesame manusia, antar pribadi (individu) dengan kelompok manusia, dari tingkatan skala kecil sampai pada skala yang lebih besar, dari bentuk rumah tangga, dusun, kampung, kota, Negara dan seterusnya.
(f)     Perasaan estetika (keindahan)
Perkataan estetika berasal dari bahasa Yunani; aesthetica = ilmu keindahan).
Banyak orang yang menyukai kepada sesuatu yang indah itu dapat menimbulkan kesenangan pada diri seseorang. Kesenangan adalah suasana yang berpengaruh, menyertai proses rohaniah dan jasmaniah, manakala keduanya itu normal dan sehat, apabila kehidupan penuh dihayati, ketika semuanya berjalan lancer, dan tujuan-tujuan penting terwujud.
Dalam kehidupan sehari-hari, orang lebih tertarik kepada keindahan dari pada kebaikan dan kebenaran.
c.       Karsa
1.        Arti Kehendak
Kehendak ialah suatu tenaga yang berkerja dan datang dari dalam diri seseorang yang sedang dalam keadaan sadar dan mempunyai suatu tujuan tertentu karena terdorong oleh rangsangan yang diserap pancaindra. Dalam pemunculannya berupa tingkah laku atau perbuatan. Hampir semua tingkah laku manusia disebabkan oleh tenaga-tenaga yang berkerja dalam dirinya.
Jadi dalam diri seseorang itu terdapat suatu dorongan keaktifan tertentu yang berupa sasraf, keinginan atau kehendak terhadap sesuatu.
2.      Dorongan Nafsu Pokok
Dorongan dan nafsu itu termasuk kehendak atau keinginan. Ia juga merupakan suatu tenaga yang berkerja dan datang dari dalam diri seseorang yang sedang dalam keadaan sadar, dan tenaga-tenaga yang demikian, manusia tidak dapat hidup. Jadi dorongan nafsu itu dapat dipisah-pisahkan dari kehidupan jasmani (biologis).
Adapun dorongan nafsu yang merupakan tenaga-tenaga dari dalam diri seseorang itu pada garis besarnya dapat dibagi menjadi 3 (tiga) macam:
a)      Dorongan nafsu mempertahankan diri;
b)      Dorongan nafsu mempertahankan jenis;
c)      Dorongan nafsu mengembangkan diri.
a)      Dorongan nafsu mempertahankan diri
Dorongan nafsu mempertahankan diri memberi kekuatan kepada seseorang untuk membela jiwa raganya dari segala macam kesulitan dan ancaman terhadap keselamatan dirinya.
Sebagai contoh: orang akan mencari minum apabila haus, akan mencari makanan apabila lapar, memakai baju untuk melindungi dirinya dari kepanasan atau kedinginan, mencari perlindungan pada tempat yang aman apabila terancam bahaya dan sebagainya.
b)      Dorongan nafsu mempertahankan jenis
Dorongan nafsu mempertahankan jenis atau ingin mempunyai keturunan itu berlaku untuk manusia dan hewan. Tuhan menciptakan manusia dan hewan berjodoh-jodoh ada pria dan wanita, ada lelaki dan ada perempuan, ada jantan dan betina. Hal ini sesuai dengan firman Allah dalam Al-Qur’an surat An-Naba’ ayat 8; yang artinya:
Dan Kami jadikan kamu berpasang-pasangan”.
Bertolak dari makhluk berjodoh-jodoh inilah maka setiap manusia dan makhluk lainnya memiliki dorongan untuk mempunyai keturunan, mempunyai cucu agar jenisnya tidak habis, jenis manusia, jenis harimau, jenis kerbau, jenis ayam, jenis ikan, pokoknya segala macam jenis manusia dan hewan tidak akan punah dari permukaan bumi. Karena dorongan nafsu inipulalah manusia dan hewan dengan penuh perhatian menumpahkan rasa kasih saying terhadap keturunan mereka, dengan susah payah mencarikan dan memberikan makanan agar tetap hidup dan sehat, memelihara dan melindungi dari bahaya agar tetap selamat. Dengan demikian dapat ditarik pengertian bahwa keinginan mempunyai keturunan itu disebut dorongan nafsu untuk mempertahankan jenis.
c)      Dorongan nafsu mengembangkan diri
Kalau dorongan nafsu mempertahankan diri dan mempertahankan jenis tersebut diatas terdapat pada manusia dan hewan, mak dorongan nafsu mengembangkan diri hanya terdapat pada manusia saja, karena manusia mempunyai kelebihan dari hewan berupa jiwa (cipta, rasa dan karsa). Dalam tata kerjanya, cipta, rasa dan karsa itu berkaitan erat saling tunjang menunjang untuk dikembangkan.
Untuk membedakan antara dorongan nafsu rohaniah dan jasmaniah, maka istilahnya pun berbeda:
(1)   Istilah dorongan untuk tingkatan rohaniah;
(2)   Istilah dorongan nafsu untuk tingkatan jasmaniah;
Dorongan nafsu pada tingkatan vital (vita hidup) pada umumnya mempunyai tenaga yang lebih besar dari pada dorongan.
3.      Aneka macam dorongan nafsu dan dorongan
Sebelum macam dan perincian dari aneka macam dorongan nafsu dan dorongan, maka perlu ditegaskan bahwa ketika membicarakan tentang aneka perasaan yang terdapat pada tingkatan jasmaniah (biologis) telah diterangkan tentang kenyang lapar, sehat sakit dan beberapa macam instink: yaitu tingkah laku yang dibawa sejak lahir yang tujuannya untuk memuaskan dorongan-dorongan nafsu dan dorongan tertentu. Sekarang membecarakan tentang aneka macam dorongan nafsu dan dorongan. Di sini tampak jelas kaitannya antara yang satu dengan yang lain, yaitu:
-          Di suatu pihak : instik itu berupa tingkah laku yang dibawa sejak lahir;
-          Di lain pihak : tujuan instink itu untuk memuaskan dorongan-dorongan nafsu dan dorongan tertentu.
Berikut ini akan disajikan aneka ragam macam dorongan nafsu (tingkatan jasmaniah) dan dorongan (tingkatan rohaniah) baik yang merupakan dorongan nafsu pokok, maupun yang bukan pokok:
a)      Dorongan nafsu makan;
b)      Dorongan nafsu seksual;
c)      Dorongan nafsu membela diri/mempertahankan diri;
d)      Dorongan keaktifan;
e)      Dorongan social;
f)       Dorongan menonjolkan diri;
g)      Dorongan kebebasan;
h)      Dorongan pengetahuan;
i)        Dorongan ketuhanan/keagamaan.
4.      Motif
Motif ialah sebab atau alas an diri sesuatu perbuatan tertentu untuk mencapai tujuan tertentu.
Motif itu kadang-kadang  tampak jelas, kadang-kadang terselubung dalam sikap perilaku seseorang. Selain itu ada yang menjurus kea rah perbuatan yang bersifat positif (terpuji) dan ad pula yang menjurus kea rah yang bersifat negative (tercela).
a)      Yang bersifat positif (terpuji):
Hamid sudah duduk di kelas III (tiga) pada sesuatu SMTA negri. Dia memang termasuk seorang murid yang cerdas dan rajin, tidak pernah bolos. Setiap hari ia tekun belajar, bahkan kadang-kadang  sampai larut malam. Kegiatan olah raga pun tidak pernah absen. Demikan pula kegiatan peramuka. Dia berbuat demikian karena didorong oleh keinginan agar dapat lulus ujian akhir SMTA dan mempunyai minat kuat agar dapat melanjutkan studinya di Universitas negri. Di sini tampak jelas bahwa motif (alasan) Hamid selalu rajin belajar itu dorongan oleh keingina agar dapat diterima di Universitas negri. Alhamdulillah, semua kinginannya itu akhirnya menjadi kenyataan. Itulah ontoh sebuah motif yang jelas dan bersifat positif.
b)      Yang bersifat negatif (tercela);
Di pedesaan tertentu,apabila akan berlangsung pemilihan kepala desa, masih banyak terdapat orang yang berambisi kuat untuk menduduki jabatan sebagai kepala desa bukan karena untuk memimpin rakyat dalam mensukseskan pembanguna,tetapi karena mengingnkan jatah bengkoknya. Orang-orang yang berambisi tersebut berusaha memperoleh simpati dari rakyat dengan berbagai macam cara, antara lain berlagak dermawan terhadap orang-orang miskin yang jumlahnya relatif lebi banyak dan mudah dipengruhi, dengan harapan akan memperoleh suara mayoritas. Tetapi apabila telah terkabul keingiannya dan benar-benar telah menjadi kepala desa yang definitive, tingkah lakunya berbalik 1800 jadi perbuatan sok dermawan sebelum pemilihan itu merupakan motif yang terselubung, ada udang di balik batu, karena dibelakag perbuatan yang mulia dan terpji itu tersembunyi motif yang rendah dan licik. Demikianlah contoh sebuah motif tersebnyi dan bersifat negative.
5.      Kemauan
Perbuatan kemauan itu berdasrkan atas pemilihan. Setelah melalui beberapa pertimbangan yang dihasilkan dari pemikiran yang penuh kesadaran. Manusia yang sadar jasmai rohaninya dapat berpikir dan merasa. Jalinan pikiran perasaan melahirkan kemauan. Dalam keadaan berfikir dan merasa tedapat beberapa kemungkinan yang perlu dipertimbangkan untuk dipilih satu dari padanya setelah menyingkirkan beberapa kemungkinan yang lain. Jadi kemauan itu dapat dinamakan pula sebagai perbutan pemilihan.
6.      Keinginan, hasrat dan hawa nafsu
Dalam percakapan sehari hari ketiga macam istilah di atas dianggap mempunyai arti yang sama; keinginan dianggap sam artinya dengan hasrat, demikian pula hawa nafsu. Hal ini berakibat menjadi kaburnya pengertiannya. Sepintas lalu memang ada persamaannya. Untuk menghindarkan kekacauan dalam pengertian, maka perlu ditetapkan arti dan makna dari masing-masing istilah.
a)      Keinginan
Keinginan ialah dorongan nafsu yang sasarannya pada suatu hal atau benda konkrit. Setiap orang mempunyai dorongan nafsu terhadap sesuatu benda konkrit tertentu, misalnya terhadap sebuah arloji. Dalam hal ini dapat dikatakan bahwa pada diri orang itu terdapat suatu keinginan untuk memiliki arloji.
b)      Hasrat
Istilah hasrat mempunyai arti mirip dengan keinginan, tetapi dilakukan secara berulang-ulang, misalnya hal menyanyi, contoh: Aminah mempunyai hasrat untuk menjadi penyanyi terkenal. Setiap hari, setiap ada kesempatan ia selalu menyanyi: sambil mengerjakan pekerjaan rumah tangga sepeti memasak, cuci piring, cuci pakaian, ia selalu menyanyi. Boleh dikatakan hampir sepanjang waktu, kecuali ketika sedang tidur. Kalau ada perlombaan menyanyi, ia pasti ikut.
Suatu ketika ia berhasil menjadi juara menyanyi di kotanya. Akhirnya ia benar-benar menjadi seorang penyanyi tenar. Hasrat terkabul. Jadi hasrat itu ialah keinginan yang dilakukan berulang-ulang.
c)      Hawa nafsu
Istilah hawa nafsu mempunyai arti yang lebih kuat dari pada hasrat. Sebagai contoh: seorang penjudi mula-mula hanya melihat orang-orang yang sedang berjudi. Kemudian timbul keinginan untuk ikut bersama-sama main judi. Hatinya merasa senang apabila sedang bermain judi. Setiap kali ia berhasrat main judi. Dimana ada gelanggang perjudian, ia tidak pernah absen. Kadang-kadang ia menang, kadang-kadang kalah. Kalau sedang menderita kekalahan hatinya panas dan ingin menebus kekalahannya dengan cara ikut main lagi, kalah lagi, makin panas, makin panas dan seterusnya. Dari contoh diatas dapat ditarik pengertian bahwa; hawa nafsu adalah hasrat yang kuat yang tak dikendalikan dan menguasai segala-galanya.
d)      Keterpaduan Cipta, Rasa, Karsa
Kelebihan manusia terhadap makhluk lain terletak pada jiwa (roh) yang dimilikinya. Jiwa merupakan suatu yang abstrak yang tak terjangkau oleh pancaindra, namun Nampak gejala-gejalanya. Pada garis besarnya jiwa itu terdiri dari 3 (tiga) komponen pokok, yaitu : cipta, rasa dan karsa. Masing-masing komponen telah diterangkan dengan sederhana secara terpisah-pisah agar mudah dipahami. Tetapi pada prateknya tata kerja cipta rasa karsa itu tidak terpisah-pisah, melainkan merupakan suatu kesatuan terpadu, saling kait mengait hingga hampir tidak tampak batas-batasnya. Itulah jiwa yang menjadi milik manusia yang sekaigus dapat menangkat derajat manusia melebihi makhluk-makhluk lain.
e)      Keterpaduan Jiwa Raga
Akhir-akhir ini kita sering mendengar ungkapan : “Manusia Indonesia seutuhnya”. Apakah sebenarnya yang dimaksud perkataan “seutuhnya”? kalau badan kita tidak cacat, tidak invalid, pancaindra masih lengkap, kedua kaki dan tangan masih lengkap; bolehkah manusia semacam itu disebut manusia seutuhnya? Jawabnya mudah: “itu hanya utuh badaniah, utuh jasmaniah saja. Disamping unsure jasmaniah yang konkrit, masih ada lagi unsur rahoniah yang abstrak yang justru memiliki potensi yang luar biasa hebatnya”.
Secara sistematik perwujudan manusia dapat dilakukan sebagai berikut:
Manusia terdiri atas:
1)      Unsur jasmaniah yang konkrit, menghasilkan karya dan aktivitas.
2)      Unsur rohaniah yang abstrak terdiri dari:
a)      Cipta         : Pikrian
b)      Rasa         : Kemauan
c)      Karsa        : Kemauan
Untuk memudahkan gambaran, ada beberapa contoh tentang manusia yang tidak utuh jasmani rohaniah:
1)      Sehat jasmani, rusak rohani
Manusia tupe ini badanya sehat kekar, tenaga kuat, mampu berbuat sekehendak harinya. Akan tetapi karena rusak rohaninya, bejat moralnya. Bobrok akhlaknya, jahat budi, pengertian, maka kekuatan dan kemampuan jasmaninya itu disalurkan untuk                perbuatan-perbuatan yang tercela, seperti : main judi, lacur, menipu, mencuri, merampok, membunuh dan sebagainya. Kalau perbuatan-perbuatan semacam itu dilakukan berulang-ulang hingga menjadi kebiasaan, maka hal itu akan mengganggu meamanan dan ketetnteraman masyarakat. Biasanya sering berurusan dengan posisi karena tidak kriminalitas.
2)      Sehat rohani, rusak jasmani
Manusia tipe ini jasmaninya lemah, badannya kurus kering dan pucat karena kekurangan gizi dan vitamin, sering menderita bermacam-macam penyakit, boleh dikata berlangganan dengan rumah sakit; kalau baru keluar dari rumah sakit, badannya agak segar, wajahnya tampak bercahaya. Tetapi karena ia terpesona pada urusan kerohanian, hampir setiap malam mengadakan pengajian, dawah dan ceramah di masjid-masjid, di surau-surau, kadang-kadang ke luar kota sampai jauh malam. Tidur sebetar, kemudian pada jam 02.00 malam melakukan salat tahajjud (bukan wajib), bersambung dengan shalat subuh, siang harinya melakukan puasa sunat (tidak wajib) sambil berkerja untuk mencari nafkah. Sehabis buka puasa langsung ke masjid mengadakan pengajian dan seterusnya. Tujuannya memang baik, tetapi dia tidak memperhitungkan kemampuan jasmaninya, tidak memperdulikan kesehatan badannya.


3)      Keseimbangan jasmani dan rohani
Kedua contoh tersebut di tas dapat keadaan yang berat sebelah. Kedua macam type tersebut tidak kita kehendaki, karena selalu extrim ke rohaniah. Kedua-duanya menimbulkan kerepotan terdapat masyarakat sekitarnya. Merugikan diri sendiri dan merugikan orang lain. Padahal yang termasuk kategori manusia baik itu adalah manusia yang dapat memberikan manfaat terhadap sesame manusia dan alam sekitarnya.
Pengertian keseimbangan jasmaniah rihaniah itu bukanlah seimbang dalam keadaan negative, tetapi seimbang dalam keadaan positif, artinya kedua-duanya berkualitas baik dan dapat member manfaat kepada sesame manusia serta alam sekitanya. Dengan demikian penampilannya akan mencerminkan kepribadiannya, yaitu penampilan dari suatu kebulatan yang utuh antara potensi-potensi bawaan sejak lahir (hereditas) dan yang diperoleh dari pengaruh lingkungan.
Menurut Drs. M. Noor Syam (FIP-IKIP Malang) dalam tulisannya yang berjudul konsep pendidikan seumur hidup menerangkan bahwa konsepsi manusia seutuhnya itu secara mendasar mencakup pengertian:
a)      Keutuhan potensi subjek  manusia sebagai subyek yang berkembang;
b)      Keutuhan wawasan (orientasi) manusia sebagai subyek yang sar nilai (yang menghayati dan yakin akan cita-cita dan tujuan hidupnya).
2.      Antara Filsafat dan Ilmu Pendidikan
Dalam berbagai bidang ilmu sering kita dengar istilah vertical dan horosontal. Istilah ini juga terdengar pada cabang filsafat, pendidikan dan bahkan filsafat pendidikan.
Antara filsafat dan pendidikan terdapat hubungan horizontal, meluas ke samping, yaitu hubungan antara cabang disiplin ilmu yang satu dengan cabang yang lain yang berbeda-beda, sehingga merupakan synthesa yang merupakan terapan ilmu pada bidang kehidupan, yaitu ilmu filsafat pada penyesuaian problem-problem pendidikan dan pengajaran. Seperti ilmu sosiaologi pendidikan, merupakan ilmu terapan, yaitu suatu lapangan studi yang mempelajari sumber-sumber sosiologis terhadap problema-problema pendidikan umpamanya, dan seterusnya yang masih banyak lagi.
Maka dari itu, filsafat pendidikan sebagai salah satu bukan satu-satunya ilmu terapan, adalah cabang ilmu pengetahuan yang memusatkan perhatiannya pada penerapan pendekatan filosofis pada bidang pendidikan dalam rangka meningkatkan kesejahteraan hidup dan penghidupan manusia pada umumnya dan manusia yang berpredikat pendidik atau guru pada khususnya. Pembahasan tentang masalah ini akan dimulai dengan pengajuan asumsi dasar dan dasar alas an mempelajari filsafat dan filsafat pendidikan, dan dilanjutkan dengan pasal tentang pendekatan-pendekatannya, aliran-aliran persyaratan ilmiah sampai nilai manfaatnya dan ditutup dengan bagan-bagan.
Asumsi dasar lahirnya filsafat pendidikan. Dua asumsi dasar dari lahirnya cabang ilmu, atau disiplin ilmu yang berdiri sendiri, yaitu filsafat pendidikan. Adalah pertama bahwa asumsi ilmu pendidikan adalah ilmu pengetahuan normative, yang berarti bahwa ilmu pendidikan merupakan disiplin ilmu yang merumuskan kaidah-kaidah norma, atau nilai yang akan dijadikan ukuran tingkah laku yang seharusnya dilaksanakan manusia, yaitu makhluk yang bernama manusia yang hidup di dalam masyarakat manusia.
Asumsi dasar kedua dari lahirnya filsafat pendidikan adalah bahwa ilmu pendidikan merupakan ilmu pengetahuan praktis, artinya bahwa tugas budaya dari pendidikan sebagai aspek kebudayaan adalah menyalurkan dan melestrikan nilai-nilai dari aspek-aspek kebudayaan dari generasi yang satu ke generasi selanjutnya untuk dikembangkan kearah tujuan yang yang lebih baik dan sempurna. Asumsi yang kedua ini juga berarti bahwa tugas pendidikan atau guru adalah menanamkan nilai norma ukuran tingkah laku kepada anak didik, yang mungkin bersumber pada dasar-dasar agama, filsafat atau tradisi kebudayaan tertentu, sampai kaidah fundamental Negara.
3.         Seluk beluk filsafat pendidikan
Pada mulanya filsafat pendidikan adalah cara pendekatan masalah pedidikan yang bisa dilakukan di Negara-negara anglosaxon. Di amerika serikat misalnya filsafat pendidikan dimulai dengan pengajian terhadap beberapa aliran filsafat tertentu seperti pragamatisme, idealism, realisme, eksistensialisme dan lain sebagainya yang akhiri dengan implikasinya ke dalam aspe-kaspek pendidikan di inggris filsafat pendidkan dipusatkan pada prinsip-prinsip yang mendasar sekali dalam pendidikan, misalnya tentang tujuan pendidikan, tujuan kurikulum, metode mengajar, organisasi pendidikan dan lain-lain. Juga di belanda tidak dikenal filsafat pendidikan, tetapi yang ada hanya: paedagogiek, teoritische paedagogiek dan opvoedkunde. Istilah paedogogiek sebagai mana telah diuraikan pada permulaan bab ini, ialah suatu ilmu yang menyelidiki, merenungkan tentng gejala-gejala perbuatan mendidik, atas dasar ini, maka ilmu pendidikan disebut juga seperti halnya suatu ilmu praktis. Jadi ada ilmu pendidikan teoritis, bahwa pikiran ertuju pada peyusunan persoalan dan pengetahuan sekitar pendidikan secara ilmiahyang mempunyi lapangan bergerak dari praktekpendidkan kea rah penyusunan suatu sistem pendidikan termasuk pula persoalan yang muncul mengenai latar belakang falsafatnya. Sedangkan ilmu pendidikan praktis menempatkan dirinya dalam situasi pendidikan dan ditujukan kepada pelaksanaan dari pada cita-cita yang tersusun dalam ilmu pendidikan teoritis.
Uraian tadi sekalipun paedagogiek sebagai keseluruhan merupakan ilmu praktisnamun sudahjelas bahwa aspek-aspek mengenai teori yang ditunjuka kepadatindakan meskipun gunning (seorang guru besar pendidikan) pernah membedakan istilah paedagogik (ilmu pndidikan) dengan paidagogie (pendidikan), tapi menurut M.J. langeved tidak adagunana membubuhkan kaa praktis pada istilah terakhir seperti yang dimagsudkan Pro. Guning tersebut, karna pengertian mendidik selalu berarti bertimdak. Dan atas dasa pengertian ini maka dinegara belanda tidak dikenal istilah filsafat pendidikan,karna pengertiannya sudah terkandung dalam paidagogek sebagai mana pendapat langeveld tersebut tadi.
Demikian pua dari jerman barat, tidak dikenal adanya istilah filsafat pendidikan,namun yang ada hanya paidagogiek danerziehungswisswnschaft. Namun sejak munculnya aliran autonomi paedagogik di jerman pada permulaan abad ke 20-an maka ilmu mendidik telah brdiri sediri sebagai suatu disiplin ilmu. Pengetian ilmu mendidik yang ada, pengertiannya dapat disimakan dengan falsafat pendidikan karea pengertian ilmu mendidik di sini adalah:
Ilmu pengetahuan teoritis, berdiri sendiri, murni (ilmu pengetahuan dalam arti eksak dipandang sebagai penelitian dasar) yang terarah keseluru gejala pendidikan, prosesdan hasil serta percobaan, fenomena statis dan dinamis, bentuk dan pengalaman menentukan, penguraiannya dari segala penghidipan yang nyata, meninjaunya sebagai benda-benda yang sebenarnya, menjelaskannya dan mencoba memahamidan membrikan maknaya.
Adapun pengertian ilmu mendidik (pendidikan) tersebut telah telah tercakup pengertian tujuan pendidikan sebagai mana juga ada dalamfilsafat pendidikan. Namun pula jika kita hubungkan kembali dengan uraian-uraian pada bab terdahulu tentang filsafat pendidikan. Maka telah memberikan bahan kepada kita tentang konsep ilmu pendidikan sebagai ilmu pengetahuan normative yang bersifat praiktis yang dalam perkembangannya konsep tersebut telah melahirkan suatu cabang ilmu pengetahuan yang disebut filsafat pendidikan
Adapun lahirnya konsep dan rumusan filsafat pendidikan yang akan dibahas lebih lanjutadalah didasarkan atas dasar beberapa pertimbangan yang merupakan pokok-pokok pikiran, sebagai berikut:
a.      Sebagai ilmu pengetahuan normatif, ilmu pendidikan merumuskan kaidah-kaidah, norma-norma atau ukuran tingkah laku berbuatan yang sebenarnya dilaksanakan oleh manusia. Atau ilmu pendidikan bertugas merumuskan peraturan-peraturan tentang tingkah laku perbuatan manusia dalam kehidupan dan penghidupannya.
b.         Sebagai ilmu pengetahun praktis, tugas pendidikan dan atau pendidikan maupn guru ialah menanamkan sistem-sitem norma tingkah laku perbuatan manusia yang didasarkan kepada dasar-dasar fisafat yang dijujung oleh lembaga pendidikan dan pendidikan dalam suatu masyarakat.
c.         Sesuai dengan kenyataan di atas ilmu pendidikan erat hubunganya dengan ilmu filsafat dan ilmu pengetahuan normative lainnya yang dalam sejarah perkembangan merupakan bagian dari ilmu tersebut dan kemudian memisahkan diri sebagai ilmu pengetahuan yang berdiri sendri, di samping menyebabkan lahirnya cabang ilmu pengetahuan baru, yaitu filsafat pendidikan (thun 1908).
d.        Ilmu pengetahuan yang dimasukkan ke dalam ilmu pengetahuan noratif meliputi agama, filsafat dengan segala cabang, yaitu: metafisika, etik, aestetika dan logika, way of life sociali masyarakat, kaidah fundamental negara maupun tradisi kepercayaan bangsa.
e.        Bahwa agama, filsafat dengan segala cabangnya serta istilah yang ekuivalen lainnya, menentukan dasar-dasar dan tujuan hidup yang akan menentuka dasar dan tujuan pendidikan manusia, selanjutnya akan menentukan tingkah laku perbuatan manusia dalam kehidupan dan penghidupannya.
f.          Bahwa dalam prumusan dan tujuan-tujuan alimiti dan proksimit pendidikan akan ditetapkan hakikat dan sifat hakikat manusia dan segi-segi pendidikan yang akan dibina dan dikambangkan melalui proses pendidikan sebagaimana tercantum dalam sistem pendidikan atau science  of education.
g.        Bahwa system pendidikan atau secienceof education bertugas merumuskan alat-alat, prasarana, pelaksnaan, teknik-teknik dan atau pola-pola proses pendidikan, dan ini meliputi problematika kepemimpinan dan metoda pendidikan, politik pendidikan sampai kepemimpinan dan metoda pendidikan, politik pendidikan sampai kepada seni mendidik (the art of education).
h.        Isi moral pendidikan atau tujuan intermediet adalah berisi perumusan-perumusan norma-norma atau spiritual etis yang akan dijadikan system nilai pendidikan dan atau merupakan konsepsi dasar nilai moral pendidikan, yang berlaku di segala jenis dan tingkatan pendidikan.
i.          Bahwa wajar setiap manusia memiliki filsafat hidup atau kaidah-kadiah berfikir dan pikiran tentang kehidupan dan penghidupannya maka suatu keharusan agar setiap pendidik dan guru memiliki dan membina filsafat pendidikan yang menjadi pedoman dalam pelaksanaan tugas pendidikan formal sekolah, yaitu di dalam masyarakat.
j.          Filsafat pendidikan sebagai suatu lapangan studi bertugas merumuskan secara normative dasar-dasar dan tujuan pendidikan, hakikat dan sifat hakikat manusia, hakikat dan segi-segi pendidikan, isi moral pendidikan, kepemimpinan pendidikan, dan metodologi pengajarannya, pola-pola akulturasi dan peranan pendidikan dalam pembangunan masyarakat. (imam Barnadib, hal 52).



BAB III
KESIMPULAN


Filsafat pendidikan mengajar kita untuk berfikir, berkembang dan berkarya. Setelah kita berfikir, kita dapat merasakan apa yang ada dalam diri kita, kemampuan apa yang kita miliki, dari situ kita akan berusaha untuk mengembangkan apa yang akan kita perbuat. Kita akan mempunyai keinginan untuk berkehendak dalam menyampaikan apa yang ada dalam diri kita kepada orang lain.
Dengan mengintropeksi diri kita, kita dapat merasakan keadaan saat ini. Bagaimana caranya merubah keadaan sekarang agar hari esok lebih baik dari hari ini. Kita semua mengharapkan dunia pendidikan di Negara ini tidak kalah dengan Negara-negara berkembang. Kita harus berfikir, mengembangkan dan mengambil kesimpulan dalam melangkah demi masa depan yang gemilang.
Betapa pentingnya pendidikan, orang yang berpendidikan itu berbeda dengan orang yang tidak berpendidikan. Kesadaran harus kita tingkatkan yang kuat menolong yang lemah, yang tua mengajari yang muda, yang kaya menolong yang miskin dan yang pendai mengajari yang bodoh. Apabila ini kita terapkan insyaallah Negara kita akan menjadi Negara yang berpendidikan.

0 Response to "MAKALAH FILSAFAT PENDIDIKAN"

Post a Comment