Cerpen Konflik dalam sebuah persahabatan - WAHANA BELAJAR & BERBAGI ANEKA DOKUMEN PENDIDIKAN

Cerpen Konflik dalam sebuah persahabatan



               "kriingggg...kriiingggg..kriinggg..." terdengar bunyi bel yang sangat nyaring di setiap sudut ruangan, dan menandakan waktunya istirahat. Siswa-siswi SMKN 1 PELITA berhamburan keluar kelas, sekedar untuk beristirahat di kantin. bermain bersama teman teman yang lain. mengerjakan tugas di perpustakaan. berbincang bincang dengan teman. bahkan berfoto foto dikelas bersama teman. Ya, masa inilah yang banyak memberikan cerita . Mulai dari kebersamaan, kekeluargaan, dan juga kekompakkan. Masa dimana sosok remaja bertumbuh menjadi dewasa. Masa yang dimana semua orang pasti merasakannya dan jika terlewat ingin sekali waktu berputar kembali ke masa ini.

Terlihat tiga sejoli yang sedang asik berunding tentang pelajaran yang baru selesai dibahas oleh guru.

"Udah ca, lebih baik kita kerjakan tugas ini diluar sekolah bersama sama..." ujar dhea, cewek berbadan mungil namun memiliki sifat bosan dan sedikit cerewet itu. berbicara sambil menatap wajah teman sebangkunya yang sedang serius mengerjakan tugas. 

"Hmmm, betul juga kata dhea mendingan kita kerjain diluar bareng bareng sambil makan makan hehheee..." sambar chika , gadis imut bertubuh tinggi berisi dan pintar itu. 


"Iya sih, tapi kerjainnya dirumah siapa dulu nih..?" sambil membereskan buku yang berantakan di meja dan memasukkannya ke dalam tas merah bermotiv milik gadis bernama icha tersebut. 

"Gimana kalau dirumah ajeng aja?" Chika berpendapat. 

"Tapi dia kan beda kelas tau. Lagipula takut dia ada acara lain. atau . ga dibolehin sama mamahnya , kita kan tau. mamahnya ajeng itu kan galak.." bawel dhea. 

"Ya kan tinggal di sms aja ribet banget." sahut chika cuek. 

"Oke oke, ntar aku yang sms. Jadi gak nih ke kantinnya ? Aku laper.." icha berdiri mengajak dua sahabatnya itu ke kantin. 

Tiga gadis bersahabat ( Icha, chikka, dan dhea ) sebenarnya ada satu lagi, tapi kelas dan jurusan mereka berbeda. 

Namun tidak membuat persahabatan mereka renggang. Jika waktu di sekolah mereka tidak bisa bersama , mereka pasti mencuri curi waktu di luar jam sekolah hanya sekedar untuk berbincang bincang dan bermain bersama. Mereka bersababat mulai dari kelas satu smp. Sampai tak terasa usia persahabatan mereka sudah sampai lima tahun, susah senang di lewati bersama.
Ke kompakkan inilah yang membuat kenyamanan untuk bersama. Walaupun terkadang banyak konflik yang terjadi. Mulai dari urusan keluarga, pribadi, bahkan pacar sekalipun. Ditambah lagi dengan sifat mereka yang berbeda, tak jarang menjadi bahan perdebatan.
Tapi sebuah masalah akan selesai jika mereka mencoba mengerti satu sama lain, agar terjadi perpecahan alias bubar! 

*** 

Setelah mereka memutuskan untuk pergi ke kantin beristirahat. kebiasaan seorang gadis remaja pasti selalu bercerita , curhat tentang masalah pribadinya. apalagi kalau sudah bercerita dengan sahabat, pasti di dengar dan di berikan pengarahan jika sulit mencari jalan keluar. Sampai sampai makan pun sambil berbincang bincang. Dan tertawa bersama. 

tiba tiba di sela mereka asik bercerita, terasa getaran dari handphone berwarna ungu milik icha yang berada di dalam saku 'rok' abu abunya. Segera icha mengeluarkannya. Terlihat pesan singkat masuk dari "Ajeng" .

From : Ajeng ( +628596xxxx ) 

Pesan : "Broh! Gua gak bisa pulang bareng kalian sekaligus belajar bareng kalian. Ada acara mendadak di rumah si april. Sorry.." 

Setelah membaca pesannya, icha langsung memberikan handphone nya kepada dhea dan chikka yang lagi asik melahap bakmie kesukaan mereka. Mengisyaratkan agar mereka membaca pesan dari Ajeng.


"Dia selalu mementingkan urusannya dengan april. Daripada belajar bareng dengan kita .." ketus chika kecewa. Chikka memang tidak suka mendengar ataupun melihat Ajeng bersama April. 

"Jangan berbicara seperti itu chik ! Mungkin saja mereka ada keperluan yang sangat penting, tadi juga dia udah minta maaf. Tanpa ajeng kita masih bisa belajar bareng yakan..?" icha mencoba berfikir positif, dan menenangkan keadaan. Dari wajah chikka sudah terlihat aura kekecewaan terhadap ajeng.
Sedangkan dhea tidak mengeluarkan sedikit katapun di sela pembicaraan , dan merasa tenang tenang saja sambil lanjut melahap bakmie nya yang mulai dingin. Menurutnya sudah hal biasa , tidak perlu dipermasalahkan.

*** 
          Suasana diluar pun menjadi hening ketika jam masuk kelas dimulai. Siswa siswi dengan khidmat mendengar penjelasan dari guru, dan mengerjakan tugas baru yang harus di kerjakan. Tetapi ada juga kelas yang tidak disi guru mata pelajarannya, alhasil mereka 'free' damai tanpa belajar. Kelas bahkan gemuruh dibuatnya.

 Jam yang di tunggu tunggu pun telah tiba. Yaitu jam dimana waktunya pulang sekolah. Terdapati dhea, chika, dan icha yang bersama sama berjalan menuju tempat parkiran pinggir sekolah. Chikka dan icha selalu membawa sepedah motor setiap ke sekolah dikarenakan jarak sekolah dengan rumah mereka yang sangat jauh. Dhea tidak membawa sepedah motor karna tidak bisa mengendarainya alhasil setiap berangkat sekolah selalu bersama icha. Begitulah sahabat selalu ada di setiap kita membutuhkannya.

Namun di saat mreka sampai tempat parkiran, terlihat Ajeng yang sedang mengeluarkan sepeda motor miliknya.

"Ajjjeeengggg...????!!!" teriak icha kencang. 

Sontak ajeng pun menoleh ke arah dimana suara teriakkan memanggil namanya itu berasal.
"Hey kaliaaann... " sahut ajeng dengan wajah berseri seri. 

Chika hanya terdiam, sementara dhea dan icha membalas dengan sebuah senyuman, lalu mereka mendekati Ajeng. 

"Sorry yah, hari ini gue gabisa bareng kalian.." maaf ajeng lontarkan.

"Ya,ya,ya. Urus saja urusanmu.." ketus chika. 
Sementara dhea dan icha hanya bisa melihat, sambil bermain sikut sikutan. Icha membuat kode kodean agar dhea mau mengalihkan pembicaraan. Karna chikka dan Ajeng pasti berdebat. Namun apa daya mereka tidak bisa berbuat apa apa dan cukup menyaksikan ajeng dan chikka berdebat.

"Kok lo ngomong gitu sih chik! Gua bukannya mentingin urusan gua sendiri. Tapi lo kan tau gua Ada acara penting sama april." Tegas Ajeng dengan mimik wajah yang mulai geram. Ajeng ini sifatnya bawa hokki, tapi mudah untuk marah. Apalagi menyangkut perasaannya. 

"Oh, jadi kamu lebih peduli sama april dibanding kita sahabat kamu?!" tak mau kalah chikka emosi.

"Eh chik! April juga sahabat gue! Dan bukan berarti gue gak peduli sama kalian. Loh bukkannya gue selama ini selalu ada buat kalian? Lo jangan egois dong chik! Gue tau lo gak suka sama april, tapi lo jangan pernah larang gue buat sahabatan sama dia. Ngerti?" bantah ajeng dengan nada tinggi.

Ajeng dan April juga bersahabatan mulai dari kelas tiga smp. Tapi disamping itu Ajeng sahabatan juga dengan chika, icha dan dhea. Sifat ego chikka dan rasa tidak sukanya terhadap April membuat Ajeng sulit mempersatukan mereka. Maksud Ajeng agar mereka menjadi teman baik walaupun bukan sahabat. Ajeng sangat lelah menghadapi sikap keegoisan chikka dan menyudutkannya untuk menjauhi April. Sulit dipercaya hal seperti itu membuat konflik bagi persahabatan mereka. 

"Oke terserah!" singkat chikka cuek. 

"Iyaudahlah chikka, ajeng juga butuh waktu bareng sama temennya.." sahut icha bermaksud menenangkan chika. 

"Oke terserah lo juga deh chik! Lo boleh marah ma gue. Tapi yang jelas gue gak akan marah sama lo.." 

"Gue gak marah, cuma kecewa.." 

Tiba tiba april datang menghampiri ajeng, dan tersenyum kepada chika Icha, dan dhea. Dhea dan icha membalas senyuman tapi tidak dengan chika yang menatap sinis dan membuat april mundur tak enak hati. Chikkapun langsung mengeluarkan sepedah motor miliknya dan meninggalksn Ajeng, di ikuti juga icha dan dhea. 

"Duluan ya jeng.." sapa icha. Ajeng hanya tersenyum. 

Ajeng dan april meminggalkan sekolah , pulang. Di tengah perjalanan april membuka percakapan. 

"Si chika kenapa ya jeng? Tadi lihat april kok sinis gitu.." tanya april dengan polosnya.

"Gak tau, dia lagi em kali.." ujar ajeng singkat. Sambil fokus menyetir. Ajeng tidak mau menceritakan kejadian tadi, karena dia ingin menjaga perasaan sahabatnya juga. April. 

*** 

Hari mulai gelap, angin berhembus dengan kencang. Cuaca dingin menyelimuti kota. Kesunyian, terasa sangat menyentuh. Bulan yang begitu indah membulat, cahayanya yang menyinari malam hari. Pernak pernik bintang mengelilingi cahaya bulan , dengan indahnya menghiasi malamnya langit.
Tapi cuaca tidak mendukung suasana dalam rumah icha. Icha, chika, dhea, dan ajeng sedang kumpul bersama. Ternyata sudah direncanakan sebelumnya oleh ajeng melalui pesan singkat yang ia kirim. Ajeng yang biasanya selalu tertawa, bahkan sangat mewarnai suasana jika bersama dengan ketiga sahabatnya. Kini memulai dengan serius dalam pembicaraan. 

"Kali ini kita serius , dan gak boleh ada yang bercanda ataupun menyeleweng dalam pembicaraan.." membuka percakapan, ajeng membuat peraturan. 

Icha , chika, dan dhea hanya mengangguk. 
Ajeng tiba tiba merasa kesal, merasa risih melihat chika yang asik bermain dengan gadgetnya se akan tidak menghiraukan apa yang akan dibicarakan oleh ajeng. 

"Please chik. Fokus ke pembicaraan kita sekarang. Jangan fokus ke tab lo terus!" tegas ajeng.
Dan kali ini chika tak banyak bicara dan langsung menuruti apa yang ajeng katakan.

"Terus kamu mau ngomong apa..?" tanya chika. 

"oke, langsung aja. Gue cuma mau kalian renungin apa yang gue bicarain. Kita tuh udah sahabatan dari smp udah lama dan bukan waktu singkat. Dan sekarang gue ngerasa banyak masalah setelah kita beranjak remaja. Semuanya perlahan lahan berbeda. Menurut gue kita gak sekompak dan se solite dulu! Mana sahabat yang selalu ngerti ? Mana ?" jelas ajeng. 


"Loh, bukannya kamu jeng yang selalu ngilang? dan susah buat di ajak bareng? Gimana mau solite kamu aja gitu selalu saja sama april." tungkas chika. Dan perdebatanpun dimulai (lagi) 

"Jangan bawa bawa april dalam masalah kita deh! Dia tuh gak tau apa apa! " 

"Ikh, emang benerkan?" ujar chika membenarkan apa yang dia katakan tadi. 

"Sadar dong chik ! Lo juga. Lo tuh egois ! Kita semua kaya budak lo tau gak. Deket sama siapa aja elo yang ngatur. Mana solidaritas lo sama sahabat sendiri selama ini?" tegas ajeng bernada tinggi dan berhasil menyudutkan chika. 

"Iya chik, lu jangan gitu. Kita semua pasti punya pribadi masing masing. Dan emang sih status kita itu ada dilingkaran persahabatan tapi kita juga punya hak komunikasi sosial sama siapa aja. Kita selalu open sama yang lain gak perlu di batesin gini." dhea angkat bicara dan berhasil menyudutkan semua yang chika lakukan itu memang salah. 

"It's okey. Gue gak akan ngelarang kalian untuk berteman dengan siapapun. Tapi inget gue tetep gak suka sama si april itu!" ujar chika sambil menatap kearah ajeng. 

"Ok. Itu sih terserah elu ya chik. Yang penting gue selalu terbuka untuk berteman dengan siapapun." balas ajeng.

"Jadi? Konflik permasalahan ini selesai kan? Sudah kan? Gak ada perdebatan ataupun marah marah lagi kan?" tanya icha polos. 

"Persahabatan kita tetep lanjut sampai kapan pun.." 

Akhirnya mereka menyelesaikan permasalahannya dengan bijak walaupun banyak perdebatan mulut yang terjadi. Sifat seseorang sulit untuk dirubah, tidak akan pernah hilang kecuali orang itu sendirilah yang mau berusaha merubah sifatnya sendiri. Ke egoisan seseorang memang sulit di hilangkan tapi mudah untuk di kendalikan. Dan seberat apapun masalah yang terjadi dalam sebuah persahabatan jika dengan sifat bijaknya mengatasi permasalahan pasti akan menemukan titik terang dalam permasalahan tersebut .

0 Response to "Cerpen Konflik dalam sebuah persahabatan"

Post a Comment