CERPEN CERMIN-CERMIN HATI - WAHANA BELAJAR & BERBAGI ANEKA DOKUMEN PENDIDIKAN

CERPEN CERMIN-CERMIN HATI



SMP pertama mulai ramai-ramai murid-murid berdatangan dengan wajah segar. Air Ringkih memang desa yang masih menyisakan rasa dingin. Apalagi SMP pertama berlokasi di pinggir desa, masih terapat kabut tipis disana akan tetapi bila siang tiba desa Air Ringkih sama saja dengan desa yang lainnya pasnya minta ampun.
Apalagi pohon-pohon yang menangui pinggir-pinggir jalan dibabat habis untuk pelebaran jalan dan untuk pembuatan jalan tetapi wajah murid-murid yang berdatangan itu betul-betul pagi.
“Wei Arman kok kamu sudah ada di sekolah, pagi-pagi gini, tumben” aku datang sambil menampakkan tampang heran karena tak biasa melihat Arman sudah nongkrong di bangkunya sepagi ini.
“Sadar, ni yee…!” kataku
“Ah enggak jugak lagi pingin aja besok juga normal lagi”
“Wah jadi menurut kamu orang terlambat itu normal gitu?”
“Bagi gue, iya kepagian datang gue adalah ketidak normalan gue”
“Wah kamu ternyata pandai berfilsafat juga, Man tapi yang normal itu adalah baik, yang sesuai kebiasaan umum”.
“Nanti, nanti kata loe, yang normal itu adalah yang baik dan yang baik itu adalah yang sesuai dengan kebiasaan umum. Berarti yang baik itu adalah yang sesuai dengan kebiasaan umum. Gue gak sepakat Dev”
“Menurutmu, gimana?” tanyaku
“Menurut gue, Mmm ….. gimana yach, gue tadi bilang apa.. Dev?”
“Nah mulai datang lagi kan Telminya
“Kamu normal lagi, Arman, he….. he…. he…..
Aku ngejek Arman
Gue serius Dev!” seru Arman dengan anda tinggi
Jiwa Arman adalah jiwa kepekat dengan kebingungan. Ia tengah berada pada wilayah transisi kedewasaan. Saat inilah mungkin puncak kebingungan itu.
“Tai kamu sepakat tentang pendapatku mengenai kebaikan sesuai dengan umum?”
“Oh ya menurut gue pada zaman sekarang, mah .. kebaikan itu sesuatu yang tersembunyi dan sedikit masih tidak umum. Yang umum mah kejelekan sekarang, coba aja lihat!”
“Ya tidak dong bahwa kebaikan itu sebenarnya sesuatu yang sudah ada di benak setiap orang. Kebaikan itu adalah hal yang umum dan fitrah”
“apa ???...”
“Fitrah, hal yang mendasarkan bai manusia kesucian. Jadi kalau kamu kembali ke jalan yang benar, kamu kembali ke fitrah kamu he….he….he….!!!
“Enak aja, emangnya gue keluar dari jalur, apa?” Arman merasa tersinggung sedikit
“Ya Tanya saja sama hati kamu. Apakah hati kamu sepakat, tidak berontak ketika kamu bolos. Apakah kamu sepakat, tidak berontak, saat kamu telat melulu. Apakah hati kamu sepakat, tidak berontak, saat kamu melawan orang tua atau saat kamu kabur dari rumah? Apakah …..?
“Eit, nanti dulu kok kamu tahu kalau aku…..”
Tiba-tiba datang teman-teman yang lainnya. Echa dengan kemenorannya tiba-tiba pula menjerit.
“Wooooooow! Arman.. kamu oh ngaku …. Deh. Kamu sungguh tabah cakep kalau rajin suwer, wajahmu itu lho .. segar-segar seperti pagi ini. segar seperti harapan-harapan yang menguncup di hati Echa.
“Oh Arman” tiba-tiba Echa mendekati arman.
Seperti seorang kekasih yang menyambut kekasihnya merentangkan tangan siap menerima pelukan. Tapi Echa terbentur tubuh ku yang tiba-tiba menghalangi Echa kontan saja Echa kaget.
“Eit…eit…ooh jadi ini rupanya sang pembela itu. Ooh …gue tau sekarang kau dan Arman datang pagi-pagi janjian mau ngobrol-ngobrol ya? dah Arman bertambah jadi rajin karena ada kekasih hati yang menunggu. Gue tau sekarang wo..teman-teman dan Devi jadian! Wo….a mulut Echa tiba-tiba dibekap Arman.
“Eh loe! Kalau ngomong jangan macem-macem hati-hati gue jadi ingin muntah dengan segala tingkah laku yang norak ini. urus saja make up lho yang menor itu daripada ngurusin orang lain”.
“Eh… eh.. gue hanya main-main kok Arman suwer!... hati Echa meleleh setelah Arman dengan tegas memotongnya “maafin gue ya man” arman diam saja takut dimarahi dia tidak bisa mendekatinya lagi minta maaf dulu ama Devi baru ke gue” jawab arman
“Lho … kok … ke Devi Sih” Echa kaget dengan perintah arman. Harus minta maaf pada oh tidak (ayaw gengsi donk, bisik hati Echa).
“Ya, kali telah mampir mencemarkan nama baiknya. Dia orang baik tahu tidak kayak kamu dasar perek!”
Duaa dunia Echa tiba-tiba berpetir, gelap, kelam dan badai pun tiba-tiba hadir Echa tak bisa membuat apa-apa. Selain terpaku di bumi tempat beridirnya. Seluruh badannya berguyur oleh air hujan kekecewaan seakan-akan telah begitu runcing dan menusuk setiap pori-pori jiwanya, ia mematung dengan penuh rasa sakit. Arman betul aku memang perek, aku tak layak disini. Hatinya pedih

Pesan buat teman-teman:
Jadilah anak yang sholeh, anak yang berguna bagi nusa dan bangsa dan jadilah nak yang berbakti kepada orang tuamu.

~Aku sayang kalian semua sahabatku~

0 Response to "CERPEN CERMIN-CERMIN HATI"

Post a Comment